Kita Seperti di Dalam Lingkaran Setan

Musholah Fakultas Hukum Unila dekat dengan gedung C FISIP Unila. Jaraknya kurang dari 50 meter. Ketika waktu Dzuhur tiba sekitar pukul 12 siang, Selasa lalu (25/7), saya ingin salat di mushola anak-anak FH yang dindingnya tampak berwarna hijau dan masih terlihat baru itu. Tapi, agak telat saat saya tiba di sana. Tidak apalah, masih ada beberapa mahasiswa terlihat baru mulai salat, gumam saya.

Saya perhatikan dari samping kiri pintu musholah, beberapa mahasiswa duduk bersila. Ada yang membentuk kelompok. Mereka asik ngobrol. Sebagian lainnya lebih memilih sendiri untuk tilawah Al Quran. Suasana seperti ini pasti tidak asing lagi ketika semua para mahasiswa selesai salat berjamaah di mushola atau masjid kampus.

Ketika saya telah selesai salat, seseorang medekati saya. Wajahnya tak asing bagi saya. Ia mengarahkan tangan kanannya kepada saya, tanda ingin bersalaman. “Apa kabarnya lo?”tanya dia. “Baek,” jawab saya singkat. Ia ingat dengan saya, tapi saya benar-benar lupa namanya. Cukup lama kami berdua tidak pernah jumpa. Ia seangkatan dengan saya. Bedanya, teman saya yang kebetulan sama-sama berasal dari Palembang ini kuliah di FH. Meskipun kita berdua sama-sama mengerti bahasa Palembang, tapi lebih asik ngobrol dengan bahasa Indonesia. Kesannya nanti kalau menggunakan bahasa Palembang, terdengar orang lain jadi terlihat aneh. “Rooming dong kalo ngobrol,” kata teman saya suatu hari di Teknokra. Maksudnya, menyesuaikan dengan tempat ketika ngobrol dengan teman.

Kemudian, kita ngobrol banyak tentang masalah hukum, karena saya juga tertarik dengan soal hukum. Mulai dari lembaga bantuan hukum sampai teman saya ini cerita ingin sekali bisa diterima kerja di Lampung. Itu pun katanya jika bernasib baik. “Kayaknya, gw pilih kerja di Lampung dulu deh,”katanya kepada saya. Seketika, kita ngobrol santai hingga saya hampir lupa dengan agenda berikutnya di tempat lain. Ada seminar tentang pendidikan di Graha Gading, Teluk Betung.

Sambil membenarkan sepatu saya di luar mushola, kami masih saja asik ngobrol. Terkadang, saya lebih banyak bercerita. Mulai dari persoalan mengapa ketika kita masih mahasiswa bisa idealis, namun saat menjabat di pemerintahan atau punya jabatan, tidak lagi idealis. Bahkan, berbalik 180 derajat. Praktik KKN masih saja bertebaran. Belum lagi lingkungan peradilan pun juga tidak luput dari praktik KKN. “Kita ini seolah-olah sudah berada di dalam lingkaran setan,”kata saya berargumen. Saya berani bicara demikian, karena memang pada kenyataannya begitu kondisi negara Indonesia sekarang. Juga sejak zaman Orde Baru.

***

Tiba-tiba, ada guncangan. gempa bumi. Cukup kencang, tapi tidak lama. Beberapa ikhwan (sebutan akrab buat mahasiswa muslim,red) di mushola langsung berlari keluar. Saya dan teman saya masih duduk di serambi dekat pintu keluar mushola. Saya hanya nyengir lihat mereka yang lari terburu-buru keluar. Ini gempa cukup kuat yang hampir sama ketika terjadi pada malam dini hari, pikir saya. Tapi, kenapa selalu saja terlihat panik saat terjadi gempa. Padahal tidak lama terjadinya. Tidak mungkin seketika dalam waktu singkat, bangunan akan langsung roboh. Saya kira mereka belum sadar benar dengan gempa yang singkat, tidak akan sampai membuat bangunan retak dan roboh seketika. Sepertinya, gempa akhir-akhir ini yang terjadi harus buat saya terbiasa. Intinya jangan panik. Itu saja.

Setelah gempa singkat itu, saya cerita kepada teman saya ini. Di koran diceritakan tentang gempa yang terjadi di Jakarta. Seorang warga Jepang yang kebetulan tinggal di Indonesia terlihat heran melihat perilaku orang Jakarta ketika mereka berada di dalam kantor bergedung tinggi. Semua orang panik dan mereka berlari menuju tangga. Padahal, itu bukan tindakan penyelamatan yang tepat. Justru, hal tersebut lebih berbahaya saat berombongan keluar akan berpotensi terjepit atau terinjak-injak. Saya kira semua orang sekarang mulai merasakan kekhawatiran cukup tinggi dengan adanya gempa yang berturut-turut hampir terjadi di Indonesia dari barat ke timur. Mudah-mudahan kita selalu diberi perlindungan dan keselamatan dari Sang Pencipta. Wallahu ‘Alam.

Please follow and like us:

Bersyukurlah Masih Sehat

Anugerah yang paling patut kita syukuri sekarang ini adalah masih diberi kesehatan dan usia panjang. Saya kira inilah yang sering kita lupakan. Manusia kadang lupa dan jarang sekali mensyukuri nikmat yang ada sekarang. Bukan maksud menggurui, tapi saya merasakan dan seolah teringat tiba-tiba ketika misalnya menjenguk teman atau keluarga kita yang terbaring sakit di ruang perawatan rumah sakit.

Teman saya, Dede (foto:memegang helm), kemarin, Selasa siang (24/7), harus masuk rumah sakit. Ia sakit tipes. Ketika saya ditemani bersama Doni, Uchy dan Qq menjenguknya sekitar jam 7 malam, mukanya pucat sekali. Saya kasihan melihatnya terbaring lemah. Ketika bersalaman dengan saya, ia menggenggam kuat. Tapi, saya tahu ia mencoba menahan sakitnya. Sambil memegang perutnya, ia sering mengeluh terasa sakit. “Mual rasanya,”katanya kepada saya. Makan atau minum tidak bisa, kecuali saat minum obat harus dipenuhinya. Hanya infus saja yang mengalir sebagai pengganti makanannya.

Dede punya nama lengkap Dede Sopyandi. Ia asli kelahiran Rangkasbitung, Banten. Dede cakap bahasa Sunda. Saya pernah main ke rumahnya bersama teman-teman lainnya awal Januari 2005 lalu. Itu pertama kali buat saya dan mungkin beberapa teman-teman lainnya. Ia sering dipanggil ‘bastut’ oleh teman-temannya. Entah apa artinya. Saya pun tak mengerti. Tapi, ia dan teman-temannya tak pusing panggilannya berubah menjadi Dede ‘Bastut.’ Ia pernah aktif di Teknokra selama sekitar empat tahun. Periode tahun 2005 kemarin, ia sempat menjabat sebagai Pemimpin Usaha di Teknokra. Ketika itu, saya sebagai Koordinator Pemasaran. Sering kali kami berdua menangani masalah di bidang usaha. Ia termasuk orang yang aktif dan cekatan. Sekarang, ia sebagai staf ahli di Teknokra. Macam penasehat buat kami yang masih aktif menggerakkan roda organisasi ini.

Saya pikir, Dede memang beruntung sekali sekarang. Saat terbaring lemah di ranjang, ia dirawat Mada (foto:jilbab putih), temannya. Lebih tepatnya sang pacar. Selama Dede tidak bisa mengurus sendiri, dari mulai disuap makan bubur oleh Mada, sampe dibantu urusan perawatan di rumah sakit. Saya pun sempat menginap dan menemani Dede di ruang perawatannya. Untuk berjaga-jaga, siapa tahu ia butuh sesuatu.

Mada cerita kepada saya, hampir setiap tahunnya, pasti ada di antara kru Teknokra yang masuk rumah sakit. Entah itu karena terlalu lelah sering begadang, atau pernah kecelakaan di jalan. Saya merenungi dan mencoba mengingat-ingat kembali, memang tahun demi tahun pasti ada yang mengalami hal itu, masuk rumah sakit. Seperti siklus yang terus berajalan dan tak pernah berhenti, pikir saya. Tapi, saya berdo’a mudah-mudahan kru-kru kita selalu senantiasa dalam keadaan sehat selalu. Kata orang, entah siapa asal mulanya, sakit itu sebagian menggantikan untuk membersihkan dosa-dosanya. Ehm, apa benar itu? Wallahu ‘Alam. Cepatlah sembuh my fren!!

Please follow and like us:

Aksi di Pantai Mutun

Heny “Q-Noyz”, berjilbab putih, sedang menunjuk ke arah kamera dan terlihat tertawa lepas. Sedangkan, Mayna, paling depan, hanya tersenyum kecut. Saya dan Rieke, di atas batu, melihat mereka berdua bergaya bak fotogenic (pantai Mutun, 5 Juli 2006)


Kita foto bersama deh sebelum matahari terbenam. Ah,..Yudi tidak ikut diabadikan dalam foto bersama. (pantai Mutun, 5 Juli 2006)


Ciiiaaattt…!!! Tahaaaann!!! Hitungan mundur 10 detik hampir tiba. Tiba-tiba, klik!! Akhirnya terfoto juga kita, meskipun sedikit berantakan. (pantai Mutun, 5 Juli 2006)

Please follow and like us:

Karya Foto Ikeda

Pameran “Dialogue With Nature“, Ikeda menuliskan keterangan buat foto di atas: Dari hampir semua foto yang dipamerkan, foto ini yang buat saya kagum. Tertulis dari keterangannya yakni: “Saya ingin tahu siapa yang membuat Kuda Putih berbaring di pasir pantai? (Hawai, USA, Juli 1985)”


Pak Peter Nurhan, Ketua Soka Gakkai Indonesia, yang membantu mensukseskan pameran foto keliling kota-kota di Indonesia, menyempatkan datang ke sekretariatan Teknokra Unila setelah acara pembukaan Pameran Foto “Dialague With Nature” di GSG Unila. (Kiri ke kanan): Pak Peter, Diova (kepala kesekretariat Teknokra), saya dan Mayna (mencoba keberuntungan rasanya menjadi MC acara pembukaan).

Please follow and like us:

Pulang Kampung Kena Gempa


Pagi tadi, sekitar jam delapan, Rieke (foto: berjilbab hitam) menelpon saya. Ia tanya tentang kabar di sini, dan tentu saja perkembangan majalah yang masih sedang proses lay out di komputer redaksi. Sudah hampir dua minggu dia ada di Serang. Katanya, ia sedang rehat. Saya memakluminya. Mungkin cewek yang punya nama lengkap Rieke Pernama Sari ini, sangat kangen dengan keluarganya di sana.

Rieke cerita kepada saya, kejadian gempa yang getarannya sampai ke tempatnya, Serang Banten. Katanya, getaran gempa cukup kuat dan membuatnya panik. Saya mendengar ceritanya dari seberang telepon dan mencoba membayanginya dengan kepanikan warga di tayangan televisi. “Getarannya tuh katanya sekitar 6 skala Richter. Pokoknya lebih lama dari yang di Lampung. Di Lampung kena gempa, eh gw pulang kampung sama juga,”kata Rieke.

Setelah gempa disusul dengan Tsunami yang terjadi di selatan Jawa ketika hari senin kemarin, rabu kemarin (19/7), gempa dengan kekuatan 6,2 skala Richter terjadi lagi sekitar Pukul 17.57 dan bergetar selama 30 detik. Ini lebih lama dari yang sering saya alami di sini, Bandarlampung. Lokasi pusat gempa berada di Selat Sunda dan sempat menggetarkan kota Jakarta. Di Bandarlampung, saya baca di koran hari ini, warga di Teluk Betung panik. Daerah Teluk Betung memang terletak di daerah paling dekat dengan pantai. Wajar saja warga sangat panik melihat sebelumnya tsunami di selatan Jawa.

Saya punya kekhawatiran, pusat gempa mungkin akan terus mengarah ke Sumatera hingga Aceh. Itu hanya dugaan saya saja, karena melihat gejala akhir-akhir ini terjadi di selatan Jawa dan sampai ke Selat Sunda. Terdekat mungkin pesisir Lampung Barat. Karena tahun 1994, di daerah itu pernah terkena gempa sampai 6,5 skala Richter. Wajar saja warga sangat khawatir dan panik. Mudah-mudahan keadaan ini segera pulih.

Please follow and like us:

Mengagumi Foto Deisaku Ikeda

Sebuah gedung persis di depan Perpustakaan Unila itu tampak megah. Kalau mahasiswa di sana menyebutnya dengan singkat dan hanya tiga huruf saja, GSG. Kepanjangan dari Gedung Serba Guna. Seperti kebanyakan gedung-gedung resmi milik universitas di seluruh Indonesia, biasanya digunakan hajatan wisuda, upacara penerimaan mahasiswa baru, dan dies natalis.

Pagi itu, ada acara besar di GSG. Saya sengaja tidak hadir pada saat itu. Kebetulan sekitar jam 9-an sedang ada perlu di fakultas. Urusan akademik yang baru saya sadari dan sedikit kesal dengan pegawainya karena saya terlambat menyerahkan berkas akademik. Syukurnya, itu tak jadi soal dan ia pun memakluminya. Tapi, saya pulang masih sedikit kesal. Sesekali saya berpikir, birokrasi ‘non sense.’

Acara di GSG itu adalah Pembukaan Pameran Fotografi Keindahan Alam, Karya Presiden Soka Gakkai Internasional, Daisu Ikeda (Dialague With Nature). Ada sekitar 66 karya foto koleksinya dipamerkan sejak 19-24 Juli 2006. Selain itu, dipamerkan pula 30 karya fotografer yang tergabung dalam Indonesian Photographer Organization (IPO), dan 20-an foto dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Saya benar-benar kagum melihat karya foto-foto yang dipamerkan pada hari pertama. Hampir sebagian foto yang dipamerkan itu, saya abadikan ke dalam foto juga. Bahkan, saya tidak sungkan meminta teman saya, Doni dan Mayna, untuk memfoto saya dengan latar belakang foto-foto yang dipamerkan itu.

Doni dan Mayna memang ditugaskan sekretaris Pembantu Rektor IV Unila, untuk membantu acara pameran tersebut. Tidak hanya mereka berdua, ada UKM Bidang Seni dan UKM Fotografi ‘Zoom.’ Cukup banyak dibantu tenaga anak-anak mahasiswa yang punya stamina mantap untuk memperlancar acara pameran itu. Mayna ditunjuk sebagai master of ceremony (MC) pada saat pembukaannya. Ia berduet Desi, kru UKM Bidang Seni, menyambut para tamu pada hari pembukaan. Sayangnya lagi, saya tidak sempat melihat mereka berdua di atas panggung GSG.

Perlu diketahui, bahwa Dr Deisaku Ikeda, Presiden Soka Gakkai Internasional itu seorang fotografer amatir. Diceritakan, ia tidak pernah bertemu dengan kamera sampai ketika ia berusia 43 tahun. Lalu, sebuah kamera Nikkon dihadiahkan kepadanya dari temannya. Sejak itu, ketika ia sedang perjalanan menuju kota Hokkaido dengan mobil, Ikeda merasa sangat terpana dengan bayangan bilan yang terpantul di sebuah kolam sampai akhirnya ia menghentikan mobilnya, lalu mengambil 100 foto pantulan bulan itu. Sejak itulah, Ikeda selama dua tahun berikutnya Ikeda terus menerus mencari dan mengabadikan bulan, matahari terbenam, sampai keseluruhan alam menjadi objek kameranya.

Daisu Ikeda memiliki keunikan dalam mengabadikan setiap gambar. Ia tidak membidik foto dari lubang kamera, tapi memegang kameranya dan diletakkan di depan dada, kemudian mengambil foto menurutnya dengan hatinya. Dengan cara seperti itu, seolah ia yakin dilakukan dari hatinya. Hasil foto-fotonya yang merupakan rangkuman keindahan alam yang dilihatnya dalam perjalanan lebih dari 50 negara. Ikeda pun mempromosikan nilai-nilai pendidikan, perdamaian dan kebudayaan.

Saat Bandarlampung ditunjuk menjadi kota ke-9 dalam perjalanan pameran foto Dialague With Nature ini, Deisu Ikeda tidak bisa hadir. Saya tidak tahu pasti kenapa ia tidak bisa hadir. Perjalanan dimulai dari kota Semarang-Yogyakarta-Surabaya-Bandung-Jakarta-Bogor-
Tangerang-Bekasi-Bandarlampung-
Palembang-Pangkal Pinang-Jambi-Pekan Baru-Pematang Siantar-Medan dan Banda Aceh.
***
Sejak SMP, saya sangat tertarik dan menyukai dunia fotografi. Berbekal kamera SLR tahun 1970-an yang telah usang, tidak buat saya minder belajar banyak dari ayah saya. Sebuah kamera SLR merk Canon FTB dengan lensa standar 50 mm, saya pakai sebagai eksperimen foto. Kamera itu berat. Terkadang buat saya pegal untuk memegang erat-erat. Ternyata awal belajar menggunakan kamera seperti itu tidak gampang. Ada banyak pengaturannya, mulai dari diafragma, kecepatan/speed, sampai jenis-jenis lensa yang digunakan. Manual banget. Saya bingung saat itu. Tapi, saya tidak ingin menyerah dan harus tahu banyak soal kamera.

Perlahan-lahan hingga sampai menginjak kuliah di Unila dengan mengambil ilmu komunikasi. Di mata kuliah Fotografi, saya semakin paham dengan proses cara kerja kamera hingga sampai percetakan. Memang untuk zaman secanggih digital saat ini, bisa dibilang kamera dengan menggunakan film terkesan semakin ditinggalkan, karena kurang praktis. Tapi, buat saya tidak sepakat dengan pendapat itu. Saya masih menyenangi menggunakan kamera SLR dengan film. Yah, karena adanya kamera film. Kalau punya SLR digital malah lebih bagus, cuma sayangnya tidak punya. Hehe…

Apalagi dengan banyaknya perkumpulan fotografer di Indonesia macam Indonesian Photographer Organization (IPO), saya sangat kagum dengan karya foto-foto mereka. Ingin sekali bisa bergabung dengan mereka, hunting foto bersama sampai diskusi tentang foto. Tapi, buat saat ini belum punya kesempatan bergabung di sana. Lagi pula, satu hal yang bikin minder adalah kamera SLR masih sederhana. Sedangkan, mereka pasti tidak hanya mempunyai sebuah kamera SLR digital, tapi lengkap berbagai jenis lensa yang harganya sampai ratusan juta. Buat saya gigit jari saja mendengarnya. Suatu saat nanti, saya keliling dunia mengabadikan gambar dari kamera, kemudian menuliskan narasi dari perjalanan itu, lalu dibukukan dan dinikmati banyak orang, gumam saya. Semoga saja.

Please follow and like us:

Kisah Seorang Gadis Di Penjara

Saya terpana membuka lembar demi lembar dan mendapati sebuah kisah seorang gadis menjadi tersangka pembunuhan berencana. Judul dari sebuah majalah berita mingguan itu “Bersama Sinchan di Dalam Tahanan.”

Nama gadis itu Lydia Pratiwi. Termuat dua halaman laporan berita yang ditulis reporter dari majalah itu dan ada sebuah foto tergambar jelas raut wajah gadis yang terancam dihukum mati itu. Gadis itu berparas cantik menurut saya. Ia ternyata pernah bermain sejumlah sinetron dan bintang iklan. Wajar saja production house tentu mau mengontrak gadis kelahiran 14 Januari 1987 ini melakoni sinetron yang kebanyakan tentang ABG atau Anak Baru Gede.

Sayangnya, di usianya masih muda, ia harus mengisi ruang tahanan yang di dalamnya ada sepuluh tahanan wanita lainnya. Hanya ditemani komik Sinchan sebagai pelepas suntuk, tulis majalah itu. Saya merasa kasihan setelah membaca kisahnya. Bagaimana mungkin anak usia sekolah seperti dia merencanakan pembunuhan? Rasa kasihan saya kedua, ia harus menanggung malu di hadapan publik karena tidak hanya majalah yang saya baca saat itu, jelas terlihat wajah aslinya, tanpa disamarkan atau ditutup. Ada apa ini? Terkadang media semena-mena memperlihatkan wajah seorang tersangka yang belum tentu dijatuhi hukuman dari pengadilan atas perbuatannya. Terkadang pula media menyamarkan wajah para penjahat di layar televisi. Apa maksud dari para media televisi dan cetak, gelisah saya.

Lebih detailnya, silahkan baca majalah itu. Wah..maaf ngga disebutkan. Beruntung donk nanti kalo saya sebutkan majalah itu. Hehe…

Please follow and like us:

Pantai Mutun di Sore Hari

Pantai Mutun sore itu sepi. Suara deru ombak yang menghempas ke bibir pantai itu agak melemah. Biasanya menjelang terbenam matahari, air laut pasang dan ombak terasa kuat. Saya berangkat ke sana naik motor bersama tujuh teman saya. Ada Aji, Yudi, Dwi “Si kuda liar”, saya, Heni, Rieke, dan May. Mereka begitu pula saya masing-masing berboncengan naik motor.

Saya ke pantai yang jaraknya sekitar 20 kilometer dari Bandarlampung itu, untuk yang kedua kali dalam waktu dua bulan terakhir. Yang pertama, di awal Juni kemarin dan kedua sere itu, Rabu (5/7) lalu. Pemandangan di pantai itu sungguh menyejukan buat saya. Dari kejauhan ada pulau-pulau kecil. Indah sekali. Pantai itu adalah pantai yang terdekat dari kota. Hampir sepanjang bibir pantai itu berdiri pondokan. Tempat berteduh yang terbuat dari kayu dan beratap rumbia. Tapi, di atas masing-masing pondokan itu bertuliskan Rp 15 ribu. Maksudnya disewakan untuk umum.

Kebetulan ketika kami tiba di pantai itu, tak ada tukang keliling yang mengawasi pondokannya. Biasanya orang itu keliling dan menemui orang yang kebetulan singgah di pondok kemudian minta bayaran. Beruntung kami tidak perlu bayar. Orang yang keliling itu tidak ada. Mungkin pikir saya sore itu sepi.

Di pantai itu, kami sempat berfoto bersama. Yah, gayanya pun ngawur tidak menentu. Ketika ditunjuk siapa yang ingin memfoto, tidak seorang pun menginginkan. Nah, saya punya ide. Kamera digital itu saya letakkan di sebuah batu di pinggir pantai, kemudian di-set timer. Maka, jadilah kita semua di pantai yang menawan itu berfoto ria.

Awalnya, saya tidak menyangka kita berniat bersama jalan-jalan ke pantai Mutun. Kebetulan Heni, teman kami yang berkelahiran Serang Banten ini akan segera kembali ke rumahnya. Cewek yang senang dipanggil Q-Noyz ini seangkatan kuliah dengan saya dan telah lulus bulan Maret 2006 lalu. Ia sekarang punya gelas Sarjana Pendidikan dari program studi matematika. Katanya kepada saya, ia akan melanjutkan S2 di UPI Bandung. Sepertinya itu keinginan dari orangtuanya, ketika ia bercerita kepada saya beberapa waktu yang lalu.

Sebetulnya, Q-Noyz bukanlah asli Serang Banten. Bahasa Jaseng (Jawa Serang,red) saja, ia tidak cakap. Ia asli sunda. Tubuhnya kecil, tapi lincah dan sangat cerewet. Terkadang ia pun suka bercanda. Agak terlihat kekanak-kanakan. Kalau sesekali ia berbicara dengan bahasa Sunda, saya hanya bisa terbengong saja. Tidak mengerti sama sekali. Tapi, suatu saat saya bisa berbahasa Sunda, gumam saya.

Suatu ketika saya hanya berpikir, Q-Noyz yang masih berumur 22 tahun itu amat cepat sekali melanjutkan ke S2. Tentu saja usia segitu masih tergolong muda sekaliber angkatan S2 yang kebanyakan telah bekerja dan tentu saja usia di atas kepala 3 atau 4. Saya pun punya keinginan yang sama ingin melanjutkan S2 ketika setelah lulus nanti. Bila perlu ke luar negeri dengan beasiswa. Itu keinginan dalam waktu dekat buat saya melanjutkan kuliah yang masih terkait dengan komunikasi dan media massa. Semoga saja harapan saya itu terkabul. Amin.

Please follow and like us:

Wartawan Idealis…Bisakah Sejahtera?

Casing komputer itu ada di samping monitor. Warnanya ungu. Tapi, hanya tampak dari depannya saja. Bentuknya seperti kotak besi dominan warna putih itu sedikit usang, berdiri kokoh membungkus mainboard, harddisk, serta alat-alat elektronik lainn di dalamnya. Meskipun usianya telah genap empat tahun digunakan, tapi masih enak digunakan. Sama usianya dengan saya selama di Teknokra.

Di sisi kiri casing itu sengaja dibuka. Agar udara bisa mendinginkan prosesor AMD yang rentan panas. Sejak 10 menit saya di depan komputer buat nulis, tapi bingung apa yang ingin ditulis. Sepertinya, otak dalam kepala saya ini penuh ide, tapi sayangnya tidak satu pun ketika pagi itu bisa menemukan ide yang bisa buat ditulis.

“Tuit…tuit…tuit….!!” Tiba-tiba suara HP Saya berbunyi di dekat tangan kanan saya pegang mouse optic. Di layar tertulis Bang Yamin. Wah, tumben sekali dia menelpon saya. Tidak lama kemudian, saya jawab panggilan itu.

“Assalamualaikum. Yah Bang, apa kabarnya nih?” kata saya.

“Waalalaikumsalam Bos. Aku baek,” kata Yamin dengan suara khasnya yang gede.

“Bisa maen ke rumah gak Bos? Gw lagi di rumah neh,”

“Ok bisa Bang. Kapan? Pagi ini ntar gw langsung ke sana,” ujar saya.

Bang Yamin, biasa saya panggil demikian. Dia kakak senior saya ketika masih di Teknokra. Lengkapnya, M Yamin Panca Setia. Dia pernah menjabat Pemimpin Redaksi pada periode 2002-2003 lalu. Ketika itu, saya masih magang. Berbadan tinggi, sekitar 180 cm, sedangkan saya hanya 173 cm. Terkadang yang buat saya ikut tertawa karena ia tertawa dengan suara yang menggelegar. Ia asli sumatera.

Dia punya semangat tinggi menjadi wartawan yang idealis. Jangan ditanya soal loyalitasnya, saya nilai dia paling produktif melakukan liputan ketika di Teknokra. Bahkan, setelah selesai dari Teknokra dan lulus kuliah pun, ia punya obsesi menjadi wartawan majalah ternama untuk koresponden Lampung. Tidak lama. Hanya satu tahun saja. Ia pernah mengeluhkan tentang gaji yang diterimanya tidaks sesuai dengan kerja selama reportase. Ia ingin ke Jakarta. Menjadi wartawan di sana. Ternyata, tercapai impiannya bekerja sebagai wartawan di sebuah harian bisnis dan ekonomi terbesar di Indonesia. Meskipun belum berstatus tetap, masih magang, ia menikmati petualangan menjadi wartawan di kota besar Jakarta. Ia pun puas dengan gaji yang diterima dari media itu.

Ketika saya menyanggupi akan ke rumahnya, bergegas saya langsung ke rumahnya. Linda, temen di Teknokra, kebetulan sedang asik nonton TV tiba-tiba bertanya pada saya.

“Mo ke mana Kak Eriek?”

“Ke kostan. Bunda mo ikut juga neh?” saya tanya balik

Linda akrab saya panggil bunda. Begitu pula temen-temen di Teknokra Mungkin kependekan dari Ibu Linda. Orangnya baik, tapi sedikit gendut dan berjilbab seperti aktivis akhwat kebanyakan di kampus. Sering kali temen-temen bergurau dengannya. Kadang saya pun memanggilnya ‘Linda Ndut,’ tentunya sambil bercanda. Tapi, ia bukanlah tipe orang yang pemarah, justru senang bercanda. Saya antar ia ke kostannya naik motor saya. Kebetulan kostannya dekat kostan saya.

***

Rumah Bang Yamin di Teluk Betung. Dari kampus saya ke rumahnya kira-kira berjarak 15 km. Cukup jauh. Dengan mengendarai motor Legenda, saya masuk gang sempit menuju rumahnya. Saya sering ke rumahnya ketika ia kebetulan ingin libur sesaat. Biasalah kerja wartawan kadang buat stres. Makanya, ketika pagi itu (Selasa, 11/7), ia menghubungi saya dan katanya ingin cerita banyak dengan saya. Ia butuh refreshing.

Seperti biasa, ia suka sekali main dan silahturahmi ke rumah tetangganya ketika kebetulan ada di sana. Ia hampir kenal dengan tetangga dekatnya. Bahkan, ia tidak sungkan cerita pengalamannya di Jakarta. Mungkin maksudnya ingin memberitahukan kerjanya sebagai wartawan di sana sangat memberinya tantangan besar.

Ketika sampai di rumahnya, Bang Yamin bilang kepada saya kalau ia sedang mogok kerja. Ada masalah di media tempat dia kerja. Dugaan saya pasti masalah statusnya yang telah satu tahun masih magang belum diangkat menjadi wartawan tetap di sana. “Gw punya harga diri,”katanya kepada saya di ruang tamu rumahnya. Kemudian ia ambil sebatang rokok Mild dan dihidupkan api. Asap menerawang membentuk angka ‘0.’ Sedangkan saya tidak merokok. Karena paling benci dengan asap rokok dan tentu saja tidak buat sehat.

“Masa’ hasil kerja gw selama setahun ditentukan hanya karena tes psikologi,” kata Bang Yamin kesal.

“Bodo amat sama psikotes! Kerja udah produktif, tapi hasilnya kayak gini.”

Ceritanya, ia memang diharuskan mengikuti psikotes oleh media tempatnya bekerja. Ketika ia mengikuti tes tersebut, hasilnya ia tidak lulus. Ia kecewa berat dengan keputusan dari SDM atas dirinya. Makanya, Ia memutus pulang ke rumah. “Gw punya prinsip untuk ini,” katanya. Matanya sambil menerawang memandang langit-langit sambil sesekali menghisap roroknya.

Saya banyak belajar dari Bang Yamin. Ia banyak cerita masalah redaksi sampai pengalamannya ketika liputan di Jakarta. Saya pribadi kaget atas keputusan SDM dari media surat kabar itu tidak meluluskannya. Padahal, ia sudah kerja keras untuk media itu. “Gw mati untuk media itu pun, gw siap!” tekadnya. Tapi, sekali lagi ia sangat kecewa setelah keputusan itu. Katanya, redaktur di sana sering menenangkan ia, agar mau kembali liputan. Tapi, Bang Yamin ingin menenagkan dirinya. “Kalo pun gw ngga lagi di sana, juga ngga apa-apa. Setidaknya gw punya cukup pengalaman selama di media itu,” katanya kepada saya.

Ternyata dia tidak sendiri yang mengalami nasib seperti itu. Kak Tur, begitu saya akrab memanggilnya, punya nasib yang sama. Kak Tur alumni Teknokra juga. Pernah menjabat Pemimpin Redaksi Teknokra periode 2003-2004 lalu. Jadi, Bang Yamin dan Kak Tur bekerja di media yang sama, dan bernasib yang sama saat ini.

Akhirnya, kami berdua mencela media-media besar di Jakarta. Saya sepakat dengan Bang Yamin, katanya perusahaan media kurang peduli dengan nasib para wartawannya. Tapi, sebelumnya Bang Yamin dan Kak Tur termasuk beruntung bisa bekerja di media itu. Gajinya lumayan lebih dari cukup. Saya tanya, apakah hanya media itu yang memberi gaji cukup lumayan buat para wartawannya di media itu? Yah salah satunya. Tapi, masih banyak nasib wartawan yang bergaji kecil di Jakarta. “Mana perjuangan AJI membela hak-hak wartawan yang bergaji kecil?” ujar Bang Yamin.

Saya teringat, ketika membaca posting di milis jurnalisme yang membahas soal gaji wartawan menarik buat saya ikuti. AJI dalam posting itu yang dikutip dari sebuah media online, katanya akan memperjuangkan kenaikkan gaji wartawan menjadi sebesar Rp 3,1 Juta. Luar biasa saya pikir. Tapi, mana buktinya. Kasihan benar nasib para wartawan karena sepertinya kurang diperhatikan soal kesejahteraannya. Bahkan, tidak heran sejumlah wartawan menyukai ‘amplop’ dari narasumber yang diwawancarainya. Seharusnya, seorang wartawan wajib menolak pemberian amplop itu. Ini mempengaruhi si wartawan menjadi tidak objektif dalam menulis tentang si narasumber.

Sebentar lagi, saya akan menghadapi pergulatan di mana idealis dan kepentingan pribadi, keuntungan pribadi. Semoga saya siap dan sanggup menghadapi semua ini.

Please follow and like us: