Melihat Pengamatan Gempa

Rumah itu kusam seperti tidak terawat. Letaknya berada lebih rendah dari jalan masuk SD Negeri Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung. Dari kejauhan, hanya tampak atapnya saja. Rumah itu kecil dan ternyata berjejer panjang dan rapat dengan rumah satu dengan lainnya. Kira-kira tipe 36. Terlihat sederhana dan apa adanya. Rumah itu sengaja dipinjamkan warga untuk keperluan tim BMG. Tidak ada yang menduga di dalam rumah itu, dijadikan tempat pemantauan aktivitas gempa yang hampir terjadi setiap hari di daerah itu, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung.

Sekitar pukul 21 malam, (Sabtu,8/7), saya ditemani Doni, teman dari TEKNOKRA datang ke sana. Doni ingin menulis untuk majalah TEKNOKRA tentang gempa yang akhir-akhir ini masih sering terjadi di sana. Saya juga menulis tentang gempa yang terjadi di Jogja akhir Mei 2006 kemarin.

Ketika kami masuk ke dalam rumah itu, ada empat orang sedang asik mengobrol. Chrismanto (47), salah satunya yang banyak bercerita. ketika kami datang, langsung ikut nimbrung mendengarnya. Pak Chris, panggilan akrabnya, adalah Kepala Badan Meteorologi Geofisika (BMG) Kotabumi, Lampung Utara. Kebetulan malam itu kami bertemu dengannya. Pak Chris bertugas di Kemiling untuk memantau setiap saat perkembangan gempa. Ia ditemani stafnya, Agung dan Teddy. Mereka berdua masih muda. Saya melihat mereka seperti seumur. Mereka berdua setia mengamati layar LCD getaran gempa dengan bergantian. Saya kagum dengan kerja keras Pak Chris dan dua stafnya yang tidak mengenal lelah. “Demi ibadah,” kata Pak Chris kepada kami. Waktu itu juga ada Pak Camat Kemiling. Namanya Pak Slamet. Ia ditemani seorang stafnya. Pak Slamet baru kali pertama datang melihat kerja Pak Chris di tempat pemantauan gempa darurat itu.

Meskipun umur Pak Chris hampir kepala lima, Saya melihatnya masih punya jiwa muda. Ia punya idealis pada pekerjaannya yang membutuhkan tanggung jawab tinggi. Termasuk menenangkan warga yang sering panik ketika hampir setiap hari gempa. Sesekali ia mengisap rokoknya. Terkadang ia bicara keras ketika obrolan kami menyinggung tanggung jawab pemerintah. Sekali lagi, saya dibuat kagum mendengar cerita pengalamannya yang banyak.

Hampir dua bulan sejak Mei lalu, BMG Lampung menjadi perhartian serius masyarakat. Terutama tentang gempa yang setiap hari terjadi. Terakhir, gempa yang tercatat cukup kuat dan paling dirasakan saya dan teman-teman ketika menginap di Pojok PKM, Jumat dini hari (7/7) sekitar pukul 02.45 WIB. Ketika itu saya dan teman-teman tertidur, kaget terbangun karena guncangan gempa cukup kuat dan membuat lemari kaca bergetar. Sedikit sadar, saya lihat teman saya, Iskandar “Toocool” terbangun kemudian ingin melombat dari jendela terdekat. Guncangan tidak lama, sekitar 3-4 detik. Tapi, Harian Lampung Post menulis gempa yang paling kuat dirasakan dibandingkan sebelumnya selama 7 detik.

Pak Chris mengatakan, gempa yang hampir dirasakan setiap hari terutama warga Kemiling adalah termasuk gempa swarm. Gempa ini tidak sampai meruntuhkan bangunan seperti yang terjadi di Jogja dan sekitar Jawa Tengah. “Anggapan masyarakat dengan gempa di sini disamakan dengan gempa di Jogja,”Pak Chris menyayangkan itu. Gempa yang terjadi tidak akan berlangsung lama di Kemiling, kira-kira dua bulan.

Terkadang Pak Chris dibuat kecewa dengan pemberitaan media. “Yang dikhawatirkan itu dari omongan satu ke omongan lainnya, padahal belum tentu benar,” ujar Pak Chris. Ia menganggap cerita dari orang ke orang lain itu berbeda-beda menilainya. Saya yang termasuk media kampus, rasanya menyadari kekuatan media ketika memberitakan sesuatu yang “bombastis.” Beberapa waktu lalu, ada media yang menulis di Kemiling diperkirakan akan amblas. Tentu saja Pak Chris marah saat ia ingat dan membaca sebuah koran yang tergolong mainstream memberitakan itu.

Pak Chris cuma berharap, kerja kerasnya selama hampir dua bulan itu justru tidak semakin membuat masyarakat khawatir. Ia pernah melakukan penyuluhan buat warga di sana. Katanya, ketika di depan ibu-ibu dan anak-anak, Pak Chris mencoba buat mereka tertawa. “Saya ajak mereka tertawa, eh ternyata mereka tertawa,” ujarnya. Hal itu dilakukannya untuk menghilangkan trauma mereka selama merasakan gempa.

Pukul 23 malam. Pak Camat pamit pulang. Tapi, saya dan Doni masih setia di sana sampai pukul 24 malam. Sempat merasakan satu kali getaran gempa sebelum kami pulang. Kaca di jendela rumah itu bergetar sebentar. Langsung saya minta Teddy periksa dari layar LCD pengamatan gempa. Hanya 2,8 SR. “Suaranya kayak bom aja,” ujar Doni kepada saya. Yah, cuma sesaat. Subhanallah. Apa sebenarnya yang terjadi di dalam tanah ini, gumam saya. Sebuah kekuasaan Allahu SWT.

Please follow and like us:

Oeloem Punya Murai Batu

Dulu ketika saya kecil, kira-kira usia SD, Ayah saya sangat hobi memelihara macam-macam burung hias. Sangat bagus warna burung-burung itu, seperti: Murai Batu, Cucak Rowo, Beo, Hwa Mei, Merpati, Dara, Puter, dan lain-lainnya.

Jumlah pastinya peliharaan burung-burung itu, saya lupa berapa banyak. Cukup banyak dan menyesaki di teras dan dekat garasi mobil. Terkadang, saya kesal sekali ketika semua burung di dalam sangkar itu berteriak-teriak. Suaranya bisa sampai terdengat tetangga di dekat rumah. Tapi, saya salut dengan hobi Ayah saya itu. Kalau dinikmati suara masing-masing burung itu, merdu sekali. Apalagi di saat ingin melepaskan penat dan stres.

Baru-baru ini, teman satu kost saya, Oeloem (panggilan teman2,red), membeli seekor Murai Batu. Cantik sekali. Kata Oeloem, Murai Batu itu dia beli di Pasar Koga, jaraknya sekitar empat kilometer dari kostan kita.

Murai Batu itu, oleh Oeloem, dimasukkan dalam sangkar yang bagus dan ditenggerkan persis di depan kostan saya, lantai dua. Ketika pertama kali melihat Murai Batu itu, saya kira itu milik bapak kost. Saat Oeloem sedang santai duduk di koridor depan, dia bilang burung Murai Batu itu miliknya sambil tertawa kecil. Sempat tidak percaya, tapi yah saya percaya sajalah.

Oeloem, yang juga teman satu angkatan dengan saya, tapi dia di Manajemen Hutan FP Unila, terus tidak henti-hentinya memperhatikan Murai Batunya ketika saya baru tiba di kostan. Dengan bercelana pendek dan bertelanjang dada, sambil duduk dia memandangi Murai Batu. Katanya, burung yang baru dia beli itu tidak punya suara alias bisu. Spontan saja saya tertawa mendengarnya. Masak beli burung, tapi ngga punya suara. Hehe…

Jack, teman kita yang sering mampir di kostan kita justru bilang begini,”Dicabut aja bulunya, biar nanti bisa bersuara bagus,” kata Jack. “Hahaha…” tawa kita semua. Saya pikir ngga ada hubungannya bulu burung itu dicabut dengan nanti bersuara bagus. Kata Jack, mungkin Murai Batu itu masih muda. Belum terbiasa bersuara kali, pikir saya.

Please follow and like us:

Pertarungan Kuat Bisnis Media TV

Bisnis di media pertelevisian Indonesia semakin bergeliat saat ini. Coba lihat layar kaca televisi di rumah-rumah. Mulai dari anak kecil sampai orang dewasa sudah semakin termanjakan dengan adanya sebelas stasiun televisi swasta di Indonesia.

Ternyata perputaran bisnis di media layar kaca ini sungguh luar biasa omset dan pendapatannya. Maka tidak heran, Rupert Murdoch, raja media dan pemilik STAR TV yang berdomisili di Hongkong, melirik ANTV dengan membeli saham sebesar 20 persen di sana. Saya salut dengan langkah Murdoch membeli sebagian saham di stasiun TV milik keluarga Bakrie ini kemudian diikuti stasiun TV lainnya. ANTV pun berubah nama menjadi STAR-ANTV. Meskipun jarang menonton acara-acara di ANTV, saya punya penilaian bahwa ANTV berubah dan semakin dinamis. Orang-orang terbaik di dalamnya pun banyak diisi dari sejumlah stasiun TV swasta, macam Karni Ilyas, mantan pemimpin redaksi Liputan 6 SCTV, dan Hersubeno Arief, mantan Koordinator Liputan Metro TV. Hersubeno adalah salah satu alumni TEKNOKRA.

Dua pekan terakhir ini, petinggi Trans TV, Chairul Tanjung pun mengikuti jejak Murdoch. Pemilik Para Group itu menggaet TV 7 sebagai partner-nya. Sekitar 55 persen Trans TV akan menguasai saham di sana. Sisanya, Kelompok Kompas Gramedia memiliki saham tersebut.

Sebentar lagi, semakin kencang pertarungan media televisi menyuguhkan program-program acaranya buat penonton. Itulah penilaian saya melihat serunya media-media televisi bermain. Trans TV yang katanya mempunyai kekuatan pada program buatan sendiri (In House) dan lebih feminim, macam Extravaganza dan Bajaj Bajuri, punya segmentasi keluarga yang luas. Ditambah, masuknya TV 7 yang punya kekuatan pada acara-acara petualangan, macam Jejak Petualangan, saya kira nanti kedua stasiun TV ini akan semakin kuat dan perlahan-lahan berada pada peringkat teratas menyaingi Indosiar, RCTI dan SCTV.

Please follow and like us:

Der Panzer Dipermalukan di Dortmund


Perkembangan terakhir Piala Dunia 2006 menjelang final dalam waktu dekat ini, buat saya semakin tertarik untuk mengikutinya. Bahkan, melihat reaksi spontan teman-teman berteriak, riuh suara tepuk tangan menonton di layar televisi setiap pertandingan berlangsung di pojok PKM. Ini luar biasa pikir saya. Rata-rata kru TEKNOKRA yang cowok tahu banyak tentang persebakbolaan. Saya seperti tertinggal dengan urusan sepakbola. Dari mulai nama pemainnya, pelatih, jagoannya, sampai urusan rambut Toti yang dicukur pendek. Saya dibuat kagum dengan itu, meski saya bertahan buat tidak tertarik dengan sepakbola. Tapi, momen Piala Dunia 2006 ini, harus ikut tren dan minimal tahu beberapa pemain jagoan yang bertanding, macam Rooney, Del Piero, Buffon dan entah siapa lagi yang terkenal itu.

Dini hari tadi, meskipun dibuat ngantuk, lelah, kemudian tertidur dan bangun lagi, sedikit-sedikit saya sempat mengintip pertandingan Italia vs Jerman. Saya menjagokan Jerman. Ah…Tim Der Panzer harus malu di hadapan para pendukungnya sekaligus di kandangnya sendiri. Klinsmann, pelatih Jerman, terlihat kecewa saat di akhir perpanjangan waktu pertandingan. Kemudian, entah masih menyembunyikan kekecewaannya, ia memberi tepuk tangan buat tim asuhannya di Stadion Westfalen Dortmund. Para pemain Jerman tampaknya yang paling kecewa atas kekalahannya 2-0 melawan Italia.

Pada akhirnya, Italia bakal dipertaruhkan akan melawan siapa nanti di Final Piala Dunia tahun ini. Saya jadi teringat, pertandingan semifinal ini seperti pertandingan Piala Eropa. Yah, memang keempat negara itu yang lolos dari tanah Eropa. Luar biasa! Saya benar-benar kagum. Inilah momen tidak terlupakan bagi seluruh dunia melihat dari layar kaca pertandingan final nanti. Merebutkan piala Jules Rimet adalah kebanggaan bagi timnya yang juara. Kita lihat siapa yang akan menjadi pemenangnya.

Please follow and like us:

Nomat, Nobar dan No money


Hari senin adalah waktu yang sering ditunggu-tunggu sebagian orang untuk menonton bioskop 21 kesayangannya. Apalagi buat mereka yang kebanyakan usia remaja memanfaatkan hari itu saat yang tepat buat nonton hemat atau singkatnya nomat film-film yang sedang lagi populer. Macam film Superman Return yang baru saja mulai tayang sejak 29 Juni lalu.

Tentu saja hari senin, malam ini (3/7) dimanfaatkan betul oleh teman-teman saya yang kegirangan datangnya film si manusia baja itu. Mumpung murah, cuma Rp12.500 per tiket sekali tayang film, bisa nonton sepuasnya dengan tampilan layar lebar dan suara yang menggelegar aula studio, seperti sungguhan.

Teman-teman yang sejak seminggu lalu sebenarnya sudah membahas film Superman Returns dari internet. Nah, tepat datangnya momen tayangnya film si manusia super itu di bioskop 21 Artomoto, mereka: Padli, Rio, Hendy, Iskandar, Rikhe, Diova, Anas, dan menyusul Linda dengan ehm…ehm…nya. Pikir saya demam film Superman ini karena sebelumnya sudah ditulari film Smallvile, yang sering diputar di pojok PKM bersama teman-teman sambil menikmati malam demi malam yang sunyi. Kedua kisah dari dua film itu hampir mirip. Cuma bedanya, Smallvile dibuat berseri sebanyak lima sesion. Saya mengikuti dari awal film ini hingga sekarang belum menuntaskan perjalanan Clark Kent hingga menjadi Superman sungguhan. Ia masih bocah SMU Smallvile.

Ketidakikuan saya dengan teman-teman nomat dan nobar bukan tanpa alasan. Klasik, duit di kantong rasanya sayang sekali dikeluarkan hanya untuk sekali nonton selama kurang dari dua jam lamanya. Padahal, sebelumnya saya pernah ikut nomat dan nobar dengan teman-teman. Filmnya bagus ketika itu (Harry Potter,red). Sekali nonton cukup buat saya saat itu. Tapi, ketika ada muncul film terbaru lagi, rasanya seperti candu dan ingin menonton. Yah, keluar duit lagi donk pikir saya. Bukan pelit, tapi buat kebutuhan lain yang saya perlukan mungkin saja tidak terduga.

Film-film yang ditayangkan bioskop kadang bisa membuat obat hiburan tersendiri bagi yang menontonnya. Apalagi yang sudah cukup sering pergi menonton ke bioskop. Entah tidak terlalu memikirkan film itu jelek atau bagus, yang penting selera menonton sudah terpenuhi. Buat saya urusan menonton film mengikuti selera pasar saja. Kalau ada teman yang baik hati membawakan film2 dalam bentuk CD dan nobar di pojok PKM, boleh jadi ikutan mumpung gratis. Tapi, kalau sedang pengen pinjam film terbaru, kadang menyisihkan uang sekadarnya buat tambah ongkos pinjam. Dari nobar inilah saatnya berseru-seru!

Please follow and like us:

Politik Mahasiswa dan Anggota DPRD

Mencermati politik mahasiswa di kampus saya, Universitas Lampung (Unila) akhir-akhir ini, bikin saya tertarik untuk lebih mendalaminya. Mengapa? Tahun 2006 ini bisa saya sebut tahun gejolak mahasiswa Unila lebih berani dan menunjukkan semangat heroiknya. Memang tidak semua mahasiswa, tapi setidaknya sejumlah mahasiswa Unila yang punya kepentingan di sana untuk menduduki posisi tertentu. Atau saya punya penilaian mereka ingin pemerintahan mahasiswa atau Students Government berbeda dari tahun sebelumnya. Konstitusi baru, Konstitusi Keluarga Besar Mahasiswa Unila Tahun 2005. Ada aturan tentang Partai Mahasiswa di dalamnya.

Tentu saja perjalanan Students Government Unila satu tahun kemarin tidak dapat berjalan secara legitimasi. Tidak semua Lembaga Kemahasiswaan Unila mengakui konstitusi itu sebagai dasar hukum yang sah untuk dijadikan landasan berpijak bagi mereka yang menolaknya. Misalnya, BEM FISIP dan FH tidak menggunakan konstitusi itu dalam melaksanakan aktivitas kelembagaannya. Mereka menilai konstitusi itu tidak disah karena rektor Unila, sebagai pemimpin tertinggi universitas tidak pernah menandatangani Konstitusi 2005 itu. Justru Konstitusi yang masih berlaku dan relevan digunakan adalah Konstitusi amandemen 2003.

Ketika saya menemui Rektor Unila Prof Dr Ir Muhajir Utomo MSc di ruang kerjanya beberapa waktu lalu, ia tetap tidak akan menandatangani konstitusi yang dibuat Majelis Permusyawaratan Mahasiswa. Alasannya, ia tidak menginginkan adanya pasal yang mengatur tentang Partai Mahasiswa di Unila. “Kalau ada partai mahasiswa, bisa jadi nanti ada perpecahan dan unsur kepentingan dari parpol akan masuk ke dalam kampus,” kata Muhajir kepada saya.

Saya bisa memahami argumennya. Tapi, saya belum paham dengan kebijakan Muhajir dengan mengeluarkan Surat Edaran yang isinya agar semua LK di Unila tidak mengikuti konstitusi yang mengatur tentang Parma. Apa apa ini? Rektor telah turut campur kepentingan dan urusan mahasiswa? Jelas-jelas ia punya kepentingan mengambil sikap di dalam Students Government milik mahasiswa Unila. Kemudian sejumlah mahasiswa bereaksi dengan keputusan sepihak dari rektor sendiri. Mahasiswa menganggap, rektorat melakukan intervensi terhadap mahasiswa.

Di lingkungan kampus, saya bisa membaca peta kepentingan politik dari para elite mahasiswa mulai dari tingkat fakultas sampai universitas. Ada yang pro dan juga ada yang kontra dengan Konstitusi 2005. Saya kira itulah dinamika kampus belakangan ini. Tidak ada yang menyangka proses menuju kata mufakat sangat sulit disatukan.

***
Di DPRD Lampung, hal yang sama terjadi seperti di atas, tarik-menarik kepantingan kelompok. Bedanya, DPRD hampir satu tahun terakhir ini seperti perang dingin dengan eksekutif (gubernur,red). Awalnya terjadi ketika Mahkamah Agung mengabulkan putusan tentang Alzier sebagai gubernur terpilih pada tahun 2002 lalu. Namun, sayangnya keputusan itu tidak membuat jatuhnya Gubernur Sjachroedin ZP yang saat ini masih memimpin Provinsi Lampung. Tentu saja sejak saat itu membuat terpecahnya menjadi dua kelompok di DPRD Lampung. Kelompok yang pertama tidak mengakui lagi eksistensi Gubernur Sjachroedin ZP, serta tidak bersedia bekerjasama lagi dan meminta Sjachroedin agar mundur. Dan berikutnya kelompok kedua masih tetap mengakui Gubernur Sjachroedin adalah gubernur Lampung yang masih sah hingga saat ini.

Secara tidak langsung, kenyataannya konflik politik Lampung membuat banyak masyarakat menjadi tidak simpatik lagi. Bukannya wakil rakyat memperhatikan rakyatnya, justru yang terjadi perseteruan yang tidak menemukan jalan penyelesaiannya. Masing-masing merasa benar dengan pendiriannya. Sikap legowo tak ada lagi. Itulah para wakil rakyat dan pemimpin kita.

Please follow and like us: