Menuju Jawa Timur

Dear my Friends,

Beberapa hari ini saya tidak online. Maaf untuk menunda berkunjung ke blog teman-teman, karena insya Allah saya dan sekeluarga: ayah, ibu, dan mbak saya akan berangkat ke Jawa Timur, tepatnya ke kota Mojokerto hari Sabtu pagi nanti (26/08). Ada sepupu saya akan melaksanakan resepsi pernikahannya di sana. Rencanannya kami akan berangkat dengan mobil dari rumah di Palembang. Jadi, saya harus segera pulang dulu dari Lampung naik Kereta Api menuju Palembang untuk bersiap-siap dari sana.

Seperti biasanya setiap liburan ke Jawa, perjalanan nanti akan memakan waktu selama tiga hari dua malam. Cukup lama bukan? Selama perjalanan itu nanti akan saya buat catatan perjalanan. Menarik sekali melalui setiap daerah dan kota nantinya. Terutama mengabadikan foto, tentu saja harus ada. Jadi, rute perjalanan nanti kurang lebih seperti ini: mulai berangkat dari Palembang-Bandar Lampung-menyeberang dari Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan-tiba di Pelabuhan Merak, Banten-Jakarta-Cirebon-Jalur Pantura-Kota Semarang-Demak (sepanjang jalur pantura ini banyak kota kabupaten yang menarik dan indah)-Kota Surabaya-tiba di Mojokerto.

Soal berapa lama saya nanti berada di sana, saya belum tahu pasti. Biasanya dua minggu itu sudah cukup. Sering juga saat liburan, kita juga diajak jalan-jalan ke rumah pak dhe di Malang dan pak lek di Surabaya. Dua kota ini pasti di singgahi, sekaligus jalan-jalan ke sejumlah tempat menarik. Ah…saya sering lupa jalan-jalan di kota. Mungkin juga karena jumlah kendaraan semakin meningkat, jalan-jalan dibuat baru atau jalur-jalur banyak yang berubah.

Oke, jikalau ada perlu dengan saya langsung, seperti urusan pesan oleh-oleh, dibelikan cenderamata, makanan, atau yang lain-lainnya, tidak tersedia layanan itu. Hehehe...
Malah sekarang yang sedang saya nantikan adalah brownis kukus. Rasanya pengen cepat-cepat mencobanya nanti.

Sampai bertemu kembali…

Please follow and like us:

Sajak Untuk Anakku

Setiap detik, menit, jam, dan hari demi hari, waktu yang terus berjalan itu tak pernah kita sadari. Ada yang mencoba memaknai hidup dengan bermacam-macam cara. Ada orang yang menyukai menulis, maka ia akan menuliskan kisahnya dalam sebuah buku diary tebal meskipun zaman telah semakin pesat melalui komputer untuk menulis, tapi tetap lebih menyukai menorehkan tulisan tangan ke dalam lembaran-lembaran diary. Atau dengan merenungkan ke alam pikiran dan mengarungi imajinasi yang bebas tanpa batas yang dituliskan dalam bentuk puisi-puisi yang terkumpul.

Saya yang termasuk tak mengerti tentang puisi dan dunianya, kemudian menjadi tertarik setelah mengikuti sebuah acara yang diadakan teman-teman UKM BS (Bidang Seni) yakni temu sastrawan di Gedung PKM Unila, Jumat malam (18/08) lalu. Yang membacakan sajak saat itu adalah Budi P Hatess, nama pena dari Budi Hutasuhut. Ia adalah wartawan Lampung Post, yang sehari-hari bekerja sebagai Redakstur opini di sana. Saya mengenalnya karena pernah mengirimkan opini untuk harian media group milik Surya Paloh ini.

Dari kumpulan sejumlah sajak yang ditulisnya dan dibagikan kepada para peserta malam itu, ada sebuah sajak yang membuat saya tertarik dan terharu ketika saya menyimak saat Bang Budi (panggilan akrab saya kepadanya, red) membacakan empat sajaknya.
Sajak di bawah ini yang buat saya tertarik:

Sajak untuk anakku

memandangimu saat tertidur
tak pernah aku sekhawatir ini dalam hidup

sungguh, usia anak-anak sudah kau lewatkan
betapa lekas waktu mematangkanmu menjadi dewasa
membuat aku dan ibumu begitu renta
dan usia perkawinan kami menjadi sangat sederhana

aku dan ibumu silih berganti mengawasi tidurmu
kulitmu putih, matamu jernih
dengan senyum seindah pagi, kami tahu kau bermimpi
segala yang menyegarkan mantul di wajahmu

tak pernah aku sekhawatir seperti saat ini
maka kuterjemahkan cintaku kepadamu
dengan lembut kutepuk nyamuk pada kulitmu
dengan hati-hati menyelimutimu

aku cinta padamu, nak, seperti juga cinta
pada ibumu

Sajak di atas kalau saya baca hampir setiap ada kesempatan, selalu teringat dengan ibu saya yang kini sedang ada di rumah, di Palembang. Jujur, saya terharu membacanya. Air mata ini hampir saja meneteskan ke baju, juga di hadapan monitor komputer ini. Saya sangat rindu dengan Ibu di rumah. Maafkan saya belum bisa pulang, Bu!

Please follow and like us:

Juara Umum Semarak HUT Kemerdekaan RI ke-61


(Foto: Kru Teknokra berusaha menarik tambang sekuatnya sampai Rio terjatuh)
Lapangan rumput yang sedikit berdebu itu ramai orang. Siang itu, mereka akan mengikuti acara perlombaan untuk memeringati HUT Kemerdekaan RI ke-61. Baru kali ini Forum UKM menyelenggarakan acara bersama-sama. Intinya mereka membangun kebersamaan dan menumbuhkan kembali semangat nasionalisme.

Forum UKM adalah forum yang dibentuk bersama-sama antar aktivis UKM yang menghuni bersama di gedung PKM Unila. Mereka adalah UKM BS (Bidang Seni), Mapala, Menwa, KSR, Rakanila, Filateli, Kopma, Teknokra, dan Pramuka. Salah satu hal yang menjadi alasan berdirinya forum ini adalah kebersamaan di antara para aktivis UKM. Pagi, siang, sore, malam, mereka selalu ada. Mereka penghuni di gedung berlantai dua ini. Mereka bak panjaga malam sekretnya. Begadang malam kerap dilakoni mereka. Sungguh dunia yang berbeda dengan mahasiswa non-aktivis kebanyakan.

Siang sekitar jam 14, acara semarak kemerdekaan dimulai dengan makan krupuk. Saya dan Padli mewakili Teknokra. Krupuknya lumayan gede dan masing-masing digantung di atas seutas tali plastik. Ketika pluit ditiup tanda dimulai makan krupuk, semua melahap dengan segera. Saya dan Padli yang biasa makan ‘rongot’ tak mau kalah dengan para peserta lain. Ternyata, sampailah kita berdua masuk ke babak final. Tapi, saya kalah di babak ini. Tak berhasil menandingi cepatnya Padli makan krupuk. “Kriuk…kriuk…”
Menjelang detik-detik penghabisan, Padli berhasil melahap semua krupuknya dan menyabet juara I Lomba Makan Krupuk.

Giliran berikutnya, tarik tambang yang tak kalah serunya. Tapi, sayangnya tim kita kalah dengan urusan tarik menarik ini. Tapi, kita berhasil juara futsal mengalahkan BEM Unila di babak final melalui adu finalti, sekaligus mengumpulkan medali paling banyak. Yes. We are The Champion. Kita berhasil kawan!!

Please follow and like us:

Ikut Meriahkan HUT RI ke-61

Selasa kemarin (15/08) sejak siang, teman-teman aktivis UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) sudah mulai mengikuti bermacam-macam perlombaan dalam rangka memeriahkan HUT Republik Indonesia ke-61. Mereka adalah teman-teman dari UKM Menwa (Resimen Mahasiswa), UKM BS (Bidang Seni), UKM KSR (Korps Sukarela), UKM Pramuka, UKM Filateli, UKM Mapala, UKPM Teknokra, UKM Rakanila (Radio Kampus Unila), UKM Kopma (Koperasi Mahasiswa), dan BEM Unila.

Perlombaan yang kita selenggarakan bersama itu antara lain: Lomba Catur, Futsal, Tarik Tambang, Makan Krupuk, Karaoke, Masukin Paku dalam Botol, dan Balap Karung. Tampak pada foto di atas sedang serius pertandingan catur di depan Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unila. Sssttt….ngga boleh diganggu!!

Sore sekitar jam 16, pertandingan futsal dimulai. Beberapa kru dari masing-masing UKM berkumpul. Sarung-sarung juga telah disiapkan dan dipakai untuk bertanding. Terbayang lucu saat mereka nanti bertanding. Itu hari pertama pertandingan. Tim kita (UKPM Teknokra,red) bertanding melawan Tim UKM KSR Unila. Mereka cukup tangguh dan lincah dalam bermain di lapangan hijau di Belakang Gedung Rektorat Unila. Tapi, alhamdulillah tim kita lebih unggul 1-0 melawan mereka.

Tak kalah seru dan menjadi hambatan membagi lapangan menjadi dua untuk latihan teman-teman UKM Taekwondo dan teman-teman yang sedang bertanding futsal sore itu. Tak jarang teriak suporter pendukung masing-masing tim menggema di lapangan hijau sedikit kering itu. Tertawa pun tak luput dan berhenti saat melihat pemain sedang mengejar bola namun sayangnya, sarung yang dipakainya sobek. Ha..ha..Seru sekali pertandingan futsal sore itu.

(Ok, Segitu dulu. kita bersiap-siap melanjutkan pertandingan sore ini. ditunggu aja posting berikutnya..)

Please follow and like us:

FlexiCombo Melanggar Aturan


Apakah Handphone Anda termasuk CDMA dan menggunakan Telkom Flexi? Oh ya, sebelumnya tulisan ini bukan bermaksud mempromosikan produk milik salah satu BUMN berlaba tinggi ini. Tujuan saya hanya ingin memberikan tanggapan perkembangan terbaru teknologi komunikasi mobile pada HP flexi.

Kembali ke topik awal. Sebagian orang tentunya sudah mengetahui, salah satu penyedia jasa layanan mobile CDMA terbesar di Indonesia adalah Telkom yang menjangkau hampir seluruh daerah dibandingkan dengan yang lainnya, macam Bakrie dengan Esia-nya dan fren. Ok, memang dari sisi harga biaya percakapan memang murah. Malah sekarang Telkom mengenalkan keunggulan yang lebih hebat dalam mobile-nya, yakni bisa digunakan di luar daerah asalnya. Namanya Flexicombo.

Flexicombo ini termasuk baru dikenalkan di Indonesia. Saat pertama kali saya mengetahuinya dari iklan di televisi, saya begitu terperanga melihat teknologi ini. Raksasa telekomunikasi Indonesia ternyata punya strategi pasar yang bagus buat sekarang dan mungkin hingga akan datang dalam waktu panjang. Telepon flexi yang telah menjadi pesaing dengan telepon selular memang selain murah biaya percakapannya dibandingkan dengan tipe telepon selular. Namun, flexi punya kelemahan dalam hal jangkauan, yakni hanya bisa dilakukan di lokal daerah saja. Sebaliknya, jenis selular bisa digunakan di mana saja namun biaya percakapannya terbilang tinggi.

Setelah saya baca Harian Kompas edisi Senin (14/08) kemarin tentang fixed wireless yang digunakan dalam FlexiCombo, ternyata mengandung permasalahan dalam regulasi. Terlihat tidak menyalahi PP No 50 Tahun 2000. Tapi, secara berhasil disembunyikan dalam rumusan jaringan tetap lokal dengan mobilitas terbatas. Nah, justru dengan kehadiran FlexiCombo ini menjadi tanda tanya, bagaimana bisa fixed wireless bisa menjadi sama dengan layanan dengan seluler, sementara Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi di antara keduanya berbeda jauh. Tidak adil bukan?

Telkom terkesan ‘banci’ dalam teknologi CDMA yang dimilikinya sekarang. Sungguh pandai sekali BUMN telekomunikasi ini bermain dalam kemonopoliannnya demi mengejar keuntungan. Tidak ada yang salah memang setiap perusahaan termasuk Telkom, mempunyai motivasi meraih untung dalam bisnisnya. Tapi, tentunya ada aturan-aturan main yang harus disepakati bersama agar semua perusahaan saling berkompetisi dan bersaing sehat di sana.

Please follow and like us:

Tayangan Wajah Koruptor Bisa Memberi Efek Jerakah?

Judul di atas adalah sebuah tanda tanya saya ketika membaca tajuk rencana Harian Suara Pembaharuan tentang cara pemberantasan korupsi ala Kejaksaan Agung. Berbagai cara yang dilakukan kejaksaan untuk menjebloskan para koruptor ke penjara patut diacungi jempol. Bukan lagi semata-mata pandang buluh terhadap menyusutan kasus per kasus korupsi yang kerap masih sulit diberantas.

Baru-baru ini, Kejaksaan Agung merencanakan akan menayangkan wajah para koruptor di televisi. Sebuah cara untuk memberikan efek jera bagi koruptor? Dengan menayangkan foto-foto para koruptor itu tentu saja tujuannya untuk membuat malu mereka di hadapan publik. Bahkan, rencananya juga tidak hanya sekedar menayangkan foto dan biodata para koruptor, Kejaksaan Agung dan pengelola televisi akan membuat semacam tayangan perjalanan lengkap para koruptor. Lengkap dari mulai kehidupan sehari-harinya sampai kejahatan korupsi yang telah dilakukan para koruptor itu. Mirip acara infotainment yang berisi para selebritis. Bedanya, acara ini malah diisi para koruptor dengan tajuk koruptainment. Menarik bukan?

Tapi, upaya tersebut seperti semacam gertakan kepada para koruptor. Praktek korupsi bukan lagi hal yang tertutup dan dilakukan sembunyi-sembunyi. Di layar kaca hampir pernah kila lihat sejumlah koruptor yang diduga korupsi pun hampir sebagian terekspos. Tapi, tujuan semula yakni untuk memberikan efek jera tidak tercapai. Toh, tetap saja praktek korupsi dilakukan para pejabat yang mempunyai kedudukan ‘basah’ dan anggota dewan yang mempunyai kewenangan dan kekuasaannya, juga masih banyak lagi lainnya peluang-peluang korupsi yang menjangkiti di sejumlah tempat.

Seharusnya yang lebih ditekankan pemberantasan korupsi oleh Kejaksaan Agung adalah komitmen dari semua aparat penegak hukum untuk menindak para koruptor. Jangan kemudian dilepas karena diimingi dengan tembusan uang misalnya, lalu tidak jadi diproses hukum. Akibatnya, tetap saja negeri ini korupsi tidak akan pernah berkurang karena para penegak hukumnya tidak tegas. Belum lagi perangkat hukum yang masih lemah membuat jera para koruptor.

Negeri ini telah mengimpikan bebas korupsi sejak hampir enam sewindu pasca reformasi dan kejatuhan Orde Baru Soeharto. Namun, dari waktu yang cukup lama hingga kini belum bisa menunjukkan prestasi penurunan korupsi. Justru praktek korupsi adalah perilaku yang menjadi hal biasa di negeri ini. Kapan kita akan bebas dari praktek korupsi?

Please follow and like us:

Nidji Konser di Unila

Aksi Giring (vocal) memukau di hadapan ribuan penonton yang didominasi para remaja Bandarlampung, Selasa sore kemarin (8/8) di lapangan parkir GSG Unila. Nidji konser amal keliling kota untuk membantu para korban bencana gempa bumi di Jogjakarta dan Pangandaran. Saya menyaksikan Nidji dari sebelah kiri panggung bersama teman-teman. Sayangnya, Saya tidak tampak di foto itu. Cukup menikmati dari samping panggung dengan mendengar dentuman enam tembang lagunya yang keren. Reza berhasil membidik foto-foto yang bagus ketika di atas panggung. Foto di atas inilah yang sangat bagus menurut saya. (Foto: M.Reza, Redaktur Foto Teknokra).

Giring tak mau kalah dengan para penonton turut menikmati lantunan musik sambil berjingkrak di atas panggung. Andro (berkaos hitam dan berkacamata) tampak serius memainkan bass-nya. (Foto: M.Reza)

Para penonton sangat mengelu-elukan Giring ingin bersalaman dengannya. Minimal bisa pegang tangannya lumayan kali ya (He-he-he). (Foto: M.Reza)
Please follow and like us:

Jauhkan Narkoba!


Apa yang terbayangkan oleh Anda ketika bertemu dan berbincang dengan orang penting macam pejabat misalnya? Ngga percaya? Grogi? Ah..biasa saja? Atau senangnya bukan main kayak ketemu artis idola sepanjang zaman?

Akhir bulan lalu, tepatnya hari Jumat siang (28/7) lalu, Saya ditemani Padli, wawancara dengan Kapolda Lampung, Brigjen Pol Drs Suharijono Kamino MBA, di ruang kerjanya. Awalnya, saya berangkat sendiri untuk mewawancarai Kapolda. Saya dijanjikan bisa bertemu pada jam 10 pagi oleh sekretaris pribadinya via telepon. Ketika bertemu dengan sekretaris pribadinya, ia menyarankan kepada saya agar mengajak teman saya. “Pokoknya lebih dari satu baru boleh ketemu dengan Bapak (Kapolda,red),” ujarnya kepada saya. Akhirnya, saya segera sms teman saya yang sedang di redaksi untuk secepatnya ke kantor Polda Lampung, menemani saya wawancara dengan Kapolda.

***

Jabatan Kapolda bagi saya adalah setara dengan para pejabat-pejabat daerah. Ya, termasuk Kapolda Lampung ini. Ia termasuk agak sulit ditemui langsung jika ada di kantor, karena para sekretaris pribadinya tidak memperkenankan langsung bisa bertemu dan wawancara. Mereka bilang kepada saya jika ingin bertemu dan audiensi dengan Kapolda harus melayangkan surat permohonan terlebih dahulu. “Alaaahhh….lagi-lagi birokrasi. Susah banget sih ketemu pejabat,” pikir saya satu minggu sebelum bertemu dengan Kapolda.

Satu minggu sebelum bertemu dan wawancara ketika itu, saya langsung pulang ke redaksi dan membuat surat permohonan audiensi/wawancara dengan Kapolda. Isi surat itu kurang lebih begini, “Saya bermaksud mewawancarai Bapak Kapolda Lampung tentang penyalahgunaan narkoba di Lampung.”

Saya harus bolak-balik ke kantor Polda Lampung untuk memastikan jadwal bisa bertemu dan wawancara dengan Kapolda. Kantor Polda Lampung yang jaraknya sekitar 15 km lebih itu, harus saya tempuh dari kampus saya dengan mengendarai sepeda motor. Lumayan capek juga bolak-balik ke sana.

Setelah salat Jumat ketika itu, saya dan Padli bergegas menuju ruang kerja Kapolda. Di sana, saya bertemu lagi dengan sekretaris pribadinya. Tertera nama Zulfikar pada seragamnya. Wajahnya putih dan terlihat masih muda. Ia punya pangkat bergaris tiga berwarna kuning. Saya tidak paham dengan tingkat kepangkatan di kepolisian. Mungkin kalau di militer (TNI AD,red) tanda pangkat itu ‘kapten.’

Ketika dipersilahkan masuk oleh Zufikar ke ruang kerja Kapolda, Saya melihatnya masih duduk di dekat meja kerjanya. Tampaknya ia sibuk. Ruang kerjanya cukup luas dan sejuk sekali karena AC, meskipun di luar Saya terasa agak panas.
“Saya Eriek,Pak,” saya memperkanalkan diri sambil bersalaman kepadanya. Kami dipersilahkan duduk di sofa yang tidak jauh dari meja kerjanya.

Sepintas saya perhatikan Pak Suharijono mirip dengan ayah saya yang tinggal di Palembang. “Wah mirip dengan bapak di rumah,”gumam saya. Tapi, tidak kemudian saya cerita bahwa ia mirip dengan ayah Saya. Mungkin tidak terlalu penting. Nanti saja saya akan cerita kepada ayah saya saat pulang ke Palembang.

Pak Suharijono Kamino lahir di Mataram, Nusa Tenggara Barat, 56 tahun lalu. Dibandingkan dengan ayah saya, ia lebih muda 10 tahun dari ayah saya. Lagi-lagi saya terpikirkan seperti betemu dengan ayah saya dan berbincang dengannya. Dari namanya sudah pasti ia adalah asli keturunan jawa. Logat jawanya tidak hilang meskipun Ia kelahiran Mataram.

Dalam wawancara saya dengan Pak Suharijono, ia ditemani dengan Kepala Satuan Narkotika dan Psikotropika Direktorat Polda Lampung AKBP Anwar Efendi. Tapi, sejak awal wawancara hingga selesai hampir setengah jam itu, lebih banyak dijawab ia sendiri. Saya kurang mendapat kesan yang mendalam bertemu dan wawancara dengannya ketika itu. Dari pertanyaan saya, sering kali saya nilai kurang berbobot. Maksudnya, kurang dalam data yang bener-benar saya butuhkan. Misalnya saja soal rata-rata peningkatan pengguna narkoba. Pak Suharijono termasuk baru sembilan bulan menjabat di Kapolda Lampung. Katanya kepada saya, keberhasilan yang membanggakan selama ini adalah penangkapan penyeludup ganja dari Aceh melalui pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. Jumlahnya hampir satu ton. Wuih, cukup banyak dan bisa mematikan berapa jiwa manusia itu. Sebelum menutup wawancara saya dengannya, ia mengatakan, “Jangan dekati narkoba! Saatnya semua masyarakat harus menyatakan perang dengan narkoba.” Begitu pesannya.

Please follow and like us:

Seminar Wida Tentang Blog

Sekitar satu minggu lalu, seorang teman di jurusan, dan juga sekaligus adik tingkat, meminta kepada saya menjadi pembahas seminar untuk proposal skripsinya. Saya yang sama sekali belum pernah menjadi pembahas seminar, apalagi mengajukan usulan dan menjadi penyaji dalam proposal skripsi pun belum pernah sama sekali. Awalnya saya kaget kok tiba-tiba saya ditunjuknya untuk membahas proposal penelitiannya. “Kak Erie jadi pembahas saya yah,” bujuknya kepada saya ketika bertemu di BBS UnilaNet.

Ternyata penelitian yang dilakukan teman saya ini mengangkat tentang aktivitas para blogger di dunia internet. Melalui judul yang telah ia buat, yaitu: ”Weblog sebagai Media Aktualisasi Diri Para Blogger (Studi Kasus pada Komunitas Blog Family di Bandarlampung).” Judulnya menarik buat saya. Mungkin karena saya paham dengan dunia weblog dan juga aktif mengisi blog, jadi ia memilih saya. Kemudian, saya langsung terima tawaran Wida, teman saya yang ngebet meminta saya menjadi pembahas mahasiswa untuk proposal penelitian di seminarnya, Senin (1/8) kemarin. Selain saya sebagai pembahas mahasiswa, ada juga Jana ditunjuk sebagai pembahas kedua. Ia juga paham tentang blog, karena pengisi blog juga.

***

Pagi yang cerah sekitar jam 10 kurang, saya sudah tiba di parkiran motor tepat di depan gedung B FISIP Unila. Dari kejauhan, saya melihat Wida masuk ke gedung D yang bersebelahan dengan gedung B tempat saya parkirkan motor itu dengan jalan agak terburu-buru. Di gedung D lantai dua direncanakan seminarnya. Tapi, dari kejauhan di depan gedung itu tampak lengang. Sepi.

Saat saya menuju lantai dua, saya melihat hanya ada beberapa mahasiswa saja di sana, di luar ruang seminar. Saya hanya menduga, mereka akan mengikuti seminar Wida sebentar lagi. Tapi, saya melihat Wida agak kebingungan. Ia belum menyiapkan laptop untuk seminarnya. Di ruang seminar hanya ada seperangkat LCD projector menyorot ke dinding papan tulis. Sepertinya, Wida belum menyiapkan laptop yang dipinjam dari jurusan. Tapi, jam sudah lewat dari pukul 10. Dosen pembimbing dan pembahas belum juga muncul. Saya lagi-lagi mengumpat dalam hati, yah beginilah Indonesia. Jam karet. Selalu ngaret. Tidak pernah tepat waktu. Dosennya telat, tentu saja mahasiswa mengikuti dosennya ikutan telat.

Sekitar pukul 10.30, seminar baru dimulai. Semua dosen datang. Para peserta seminar yang kebanyakan teman-teman seangkatan Wida hadir di seminar. Untung saja semua kebutuhan Wida telah disiapkan sempurna sebelum dimulai. Tapi, ia masih terlihat panik karena sejumlah contoh weblog yang akan ditunjukkan di seminarnya, tidak bisa dimunculkan dengan sempurna. Beberapa foto dan gambar yang ditampilkan di pojector tidak ada. ”Mungkin waktu save dari internet, semua gambar dan foto di dalam folder tidak ikut ter-save,”kata saya mengomentari.

Tapi, meskipun rencana semula tidak sepenuhnya sempurna, tapi saya bisa menilai Wida telah berusaha dengan semampunya. Seminar pun berjalan dengan lancar dan ia menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari saya, Jana, dan para dosen pembimbing, serta pembahas. Tak luput pula ada beberapa kesalahan yang ditulis dalam proposal skripsinya yang segera harus diperbaiki. Namun, seminar selama kurang dari dua jam itu berhasil ia lalui dengan baik. Selamat yah Wid.

Please follow and like us: