Asiknya Bubar dan Reuni 2001


Senang rasanya kembali bisa berkumpul dengan teman-teman seangkatan SMA kemarin Jumat (20/10) sore di KFC Hotel Royal Asia. Acara buka puasa bersama (bubar) ini boleh dibilang mendadak. Sebabnya, setahu saya Feliciano memberi kabar via sms satu hari sebelum acara buka puasa. Begitu pula kabar itu saya yakin baru disebar ke beberapa teman-teman lainnya via sms pada hari itu juga.

Sayangnya, sejak awal kelihatannya tidak ada yang ingin menjadi inisiator buat mengundang teman-teman seangkatan. Ya, saya pikir mungkin mereka sudah pada sibuk. Atau bisa jadi mereka malas, karena tidak seperti acara bubar dua tahun lalu di rumah Tata yang terlihat lebih ramai oleh teman-teman yang datang ketika itu.

Tapi, untuk tahun ini, tidak apa-apa bagi saya meskipun yang datang di Hotel Royal cuma sedikit. Alhamdulillah, ada sekitar 30-an orang yang datang sore menjelang Maghrib sore itu. Beberapa teman terlihat masih santai mengobrol dengan yang lainnya di sudut meja walaupun azan telah tiba. Mereka sampai lupa waktu padahal telah tiba berbuka puasa.

Saya pun sejak sekitar 10 menit waktu azan Maghrib telah mengantri di dalam barisan untuk memesan makanan berbuka puasa. Menunggu tiga orang di depan. Terasa lama sekali. Saya lihat seorang perempuan berjilbab di depan meja sedang menjaga kasir. Tampaknya ia juga bertugas menyiapkan pesanan, seperti menuangkan Coke ke dalam gelas atau menyiapkan beberapa potongan ayam sesuai permintaan konsumen. Pesanannya cukup banyak. Dari benak saya, kenapa tugasnya sebagai kasir harus ditambah dengan melayani permintaan konsumen seperti tadi. Katanya restoran cepat saji. Tapi, kok masih tetap saja lama menunggu dengan mengantri panjang di dalam barisan.

Setelah tiga orang di depan saya telah selesai mengambil pesanannya dan membayar kepada penjaga kasir, kebagian giliran saya. Saya bilang pada teman saya di belakang kalau saya hanya pesan segelas Coke. Buka tidak ingin sekalian makan malam dengan ayam goreng yang lagi hangat. Tapi, kebetulan saya tidak membawa uang. Jadi, saya meminjam uang Rp10 ribu dari Aziz ketika masih sempat menunggu sambil duduk-duduk di depan serambi KFC. Tapi, Aziz tidak ikut bubar karena ia dengan Hendri diajak bubar di tempat lain.

Dengan uang segitu, ternyata hanya cukup dapat membeli segelas Coke besar. Harganya tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Tujuh ribu lima ratus rupiah. Saya kira harganya sekitar antara Rp4ribu-Rp5ribu. Yah, akhirnya cukup berbuka dengan segelas Coke besar dan menikmatinya bersama teman-teman yang belum kebagian dapat buka puasa karena telat memesan sebelumnya.

Please follow and like us:

Buka Puasa Bersama Teman-teman UKM

Tanpa terasa kita yang sedang menjalankan ibadah puasa ini telah memasuki Ramadhan hari ke-23. Sepintas mungkin di pikiran kita, begitu cepatnya waktu berlalu. Puasa seperti baru saja dimulai kemarin, padahal nyatanya sekarang sudah memasuki sepuluh hari ketiga di bulan Ramadhan.

Di kampus saya, Unila, tempat saya lebih banyak menghabiskan waktu di sekretariat Teknokra yang berada di pojok Gedung PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) Unila, sejak memasuki awal puasa Ramadhan, banyak undangan berdatangan. Kebanyakan undangan mengajak berbuka puasa bersama (bubar) dari teman-teman sesama aktivis UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di Gedung PKM Unila.

Seperti kemarin (Minggu, 15/10), teman-teman dari UKM Bidang Seni mengundang seluruh penghuni sekret di Gedung PKM Unila untuk mengikuti acara ‘bubar’ mereka. Ramai sekali saat itu. Sambil menunggu detik-detik azan Maghrib pukul 17.54 WIB sebagai tanda berbuka puasa, sebelumnya sekitar pukul empat sore, tamu undangan Ansori Djausal (Pembantu Rektor IV Unila) membacakan kumpulan sajak puisi yang dibuatnya. Lalu, di hadapan para undangan yang datang, Bang An, panggilan akrabnya, membacakan puisi “Krakatau”.

UKMBS sering mengundang para penyair yang tinggal di Bandarlampung dalam acara rutinnya setiap bulan. Sebelum Bang An, ada Budi P Hatess atau Bang Budi (Wartawan HU Lampung Post), panggilan akrabnya. Bang Budi membacakan beberapa karya puisinya agar dapat dinikmati bersama dengan hadirin undangan bulan Agustus lalu. Tak hanya sekedar membacakan puisi saja, ada kritik, saran dan pembahasan bersama peserta. Acaranya pun dibuat santai dengan duduk di alas karpet. Sesekali gelak tawa terluapkan. Saya makin menyukai acara rutin bedah sastra yang diadakan UKMBS ini. Saya pun sesekali nantinya ingin mengasah kemampuan menulis sajak. Rasanya berbeda sekali saat menulis berita atau opini.

Sebelum acara ‘bubar’ UKMBS, sejak minggu pertama puasa Ramadhan, UKM Filateli lebih awal mengundang teman-teman UKM lainnya dalam acara ‘bubar’ juga. Berikutnya, giliran UKM kita (Teknokra, red) di akhir pekan. Setiap momen ‘bubar’ giliran temen-teman UKM seperti bulan puasa Ramadhan ini, selalu saja ramai. Tentu saja selain gratis, bagi anak kostan mengirit pengeluaran sehari-hari. Ya, contohnya seperti saya ini.

Berikutnya secara berturut-turut, menyusul giliran UKM Pramuka, Rakanila, KSR, Mapala, dan Menwa. Hampir dalam seminggu giliran acara ‘bubar’ di Gedung PKM Unila tidak pernah sepi. Soal makanan, apa pun pasti habis disambar para undangan. Entah karena sangat kelaparan, atau menu-menu yang disajikan cukup enak.

Saya kangen ketika pulang ke Palembang nanti, ada acara bubar angkatan teman-teman SMA dulu. Ya, di momen seperti inilah kita bisa bertemu dan berkumpul kembali. Ada yang telah setahun lebih tidak bertemu dan di saat itulah bisa kangen bertemu lagi.

Please follow and like us:

Atul: Pahlawan Pers Mahasiswa

Pernahkah kita mencoba kembali mengenang perjuangan para mahasiswa saat menyaksikan peristiwa Tragedi Trisakti pada Mei 1998 lalu di layar televisi? Dari layar kaca itu, kita sepakat bahwa aksi itu adalah sebagai keberutalan luar biasa yang pernah terjadi sepanjang sejarah Orba di negeri ini ketika itu. Bagaimana tidak, mahasiswa yang saat itu berdemonstrasi menuntut Soeharto agar turun dari jabatan presiden yang telah berkuasa selama hampir 32 tahun, kemudian diberondong tembakan oleh aparat keamanan ke seluruh penjuru masa yang kebanyakan adalah mahasiswa. Banyak korban yang kemudian berjatuhan. Bahkan ditemukan korban meninggal dunia karena ditembak peluru tajam oleh aparat keamanan.

Peristiwa di atas bukan saja sekali dan terjadi hanya di Jakarta. Di Bandar Lampung, pada awalnya hanya sebuah aksi demonstrasi yang digawangi para aktivis Dewan Mahasiswa (Dema) di depan kampus Universitas Bandar Lampung (UBL) pada 28 September 1999. Para aktivis mahasiswa itu menuntut pencabutan Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU PKB). Namun, tepat di depan kampus UBL itu mereka telah dinanti para aparat kepolisian (Pasukan Huru-hara atau PHH ketika itu, red).

Tak menghiraukan PHH yang menghalangi jalan, para aktivis Dema dari berbagai kampus di Bandar Lampung itu kemudian berorasi di depan aparat keamanan itu. Mereka juga sempat berusaha menembus barisan PHH. Namun, entah siapa yang pertama kali memicu kericuhan sehingga terjadi chaos. PHH memberondong tembakan ke arah para mahasiswa yang berdomonstrasi. Aksi itu ternyata bukan murni dari kalangan mahasiswa, tapi ada elemen lainnya (PRD, red) yang ikut bergabung dalam aksi demonstrasi.

***
Juwendra Asdiansyah (Pemimpin Umum Teknokra 1998-1999) mengetahui terjadi chaos di depan kampus UBL dari pengumuman MC festival musik yang saat itu digelar di kampus Unila. Bergegas Juwendra memberitahukan hal itu kepada seluruh kru yang ada di kesekretariatan Teknokra. Atul, panggilan akrab Saidatul Fitria, yang ketika itu berada di kesekretariatan Teknokra, langsung menuju tempat terjadinya chaos di depan kampus UBL yang jaraknya kurang dari empat kilometer dari kampus Unila.

Atul tidak sendiri ketika berangkat ke sana. Ia ditemani Reno Setiaji (Magang Teknokra) memantau aksi demonstrasi yang telah berubah menjadi chaos. Beberapa orang melempari batu-bartu besar ke arah pasukan PHH. Di jalanan raya depan kampus UBL berubah menjadi arena lemparan batu.

Kesabaran bertahan dari lemparan batu-batu dari arah mahasiswa, entah perintah dari siapa kemudian pasukan PHH kemudian memberondong para pendomonstrasi yang melempari batu-batu itu dengan peluru. Banyak mahasiswa terluka-luka. Bahkan, ada yang terkena tembak peluru tajam yang menembus dada kiri. Dia adalah M Jusuf Rizal, mahasiswa FISIP Unila. Ijal akhirnya harus pergi untuk selamanya ketika sempat dibawa ke rumah sakit.

Ketika Atul mengabadikan peristiwa chaos itu dengan kamera SLR Nikon dari tangannya, ia yang bertugas sebagai jurnalis foto, tidak menyangka harus terluka parah akibat kepalanya dipukul benda tumpul dari aparat keamanan. Atul dibawa ke Rumah Sakit Advent yang berada tidak jauh dari kampus UBL, tempat terjadi chaos.

Atul saat berada di tempat terjadinya chaos, ia sempat mengabadikan beberapa fotonya. Kini, ada tujuh foto dari aksi keberaniannya itu masih tersimpan di kesekretariatan Teknokra.

Namun, setelah kepalanya dipukul benda keras dan harus segera dibawa ke rumah sakit ketika itu, ia mengalami koma. Saat sadar setelah Atul diobati kepalanya, ia sempat mengatakan kepada Juwendra, “Kak, saya telah diincar mereka (aparat keamanan, red)!” Kepala Atul mengalami retak pada tengkoraknya. Ia harus segera dioperasi pada hari berikutnya.

Pasca operasi pada kepala Atul, ia hampir tak lagi sadarkan diri. Atul kembali koma. Sampai ia dipanggil menghadap Sang Khaliq pada pagi subuh, tanggal 3 Oktober 1999. Sepeninggalnya, Ia pantaslah mendapat penghargaan sebagai “Pahlawan Pers Mahasiswa.”

***
Kisah tujuh tahun lalu itu saya dapatkan dari Kak Juwendra, yang kini ia adalah wartawan Harian Umum Seputar Indonesia yang tinggal di Bandar Lampung. Saya amat sedih mendengar cerita darinya saat Atul tidak tertolong lagi. Atul bagi saya dan teman-teman Teknokra sekarang adalah inspirasi perjuangan pers mahasiswa dan jurnalis, juga umat manusia. Karena Atul melaksanakan tugas tanpa pamrih. Ia mengabadikan foto sebagai tugas seorang jurnalis yang memberikan informasi kepada publik. Tapi, ia harus meninggalkan kita semua. Namanya (Saidatul Fitria), mengabadikan pada kesekretariatan kami menjadi Graha Saidatul Fitria.

Please follow and like us: