Selamat Wisuda Saudaraku

(Wisudawan Unila Periode Juni 2007 di Gedung Serba Guna Unila. Foto oleh: M.Reza)

“Wisuda itu ibarat berangkat haji,” kata Roni kepada Saya suatu hari. Perumpamaan yang menarik pikir saya. Seperti menuju puncak dari seluruh aktivitasnya selama menjadi mahasiswa. Tidak hanya sekedar berkutat di bangku kuliah, mendengar ceramah dosen, praktikum di lab atau mengerjakan tugas bersama teman-teman. Tetapi, ada hal lain dari itu semua yang patut diikuti yakni sebagai aktivis mahasiswa.

Rasanya tidak puas jika selama kuliah dan menjadi mahasiswa hanya dituntut belajar untuk mengejar Indeks Prestasi Komulatif (IPK) tinggi saja. Tanpa dibarengi dengan kegiatan ekstrakulikuler, ibaratnya makan sayur tanpa garam. Tidak terasa nikmat.

Selamat Wisuda saudaraku! Roni, Novir, dan Doni, semoga ilmu yang kalian dapatkan selama bertahun-tahun di kampus tercinta Unila, bermanfaat bagi kaluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Saya jadi ingat apa yang dikatakan Gubernur Lampung Sjachroedin ZP saat memberi kata sambutan untuk semua Wisudawan Unila, Kamis (21/6) kemarin. “Tidak ada gunanya Ilmu tanpa iman dan taqwa,” kata Sjachroedin ZP berpesan.

Apa yang dikatakan Gubernur Lampung ini ada benarnya juga. Banyak sarjana hebat yang dilahirkan dari negeri ini. Namun, terkadang iman dan taqwa-nya dikalahkan keangkuhan ilmu yang didapatkannya. Selayaknya ilmu yang bermanfaat untuk masyarakat, itu ditegakkan dari iman dan taqwa kepada Sang Khaliq.

Kalian lahir dari Teknokra. Kalian pun dibesarkan bersama-sama dengan Teknokra. Jangan melupakan itu. Kelak ilmu dari Teknokra akan bermanfaat di dunia masyarakat yang sebentar lagi akan kalian hadapi.

Saya yakin kalian bertiga mampu menjadi bagian dari generasi penerus bangsa yang bermanfaat bagi negeri ini. Semoga!

Please follow and like us:

Ke Pantai Sebalang Tarahan Lampung Selatan

(Foto: Saya (paling kanan) melantik para pengurus baru Teknokra: Weni, Vera, Lily, dan Ismi. Saya memberikan pecahan Kelapa sebagai simbol untuk Weni dan teman-temannya yang baru dilantik)
Rencananya Sabtu sore kemarin (16/6), Saya, Yudi dan Dede akan berangkat ke Pantai Sebalang, Tarahan, Lampung Selatan. Kami bertiga naik sepada motor. Kebetulan May juga akan ikut bersama kita. Jadi, Kita berangkat ke pantai mengendarai dua sepeda motor dari kampus. Saya membonceng May dan Yudi membonceng Dede. Sayangnya, Saya, Yudi dan Dede harus menjemput May di rumahnya.

Berangkat ke rumah May, kami bertiga dijamu dengan suguhan Tekwan panas. “Wah, kebetulan sekali lapar dan bisa menikmati makan tekwan,” pikir Saya. Akhirnya, berangkat ke Pantai Sebalang menjadi telat. Saya pikir perjalanan ke Pantai yang jaraknya sekitar 45 km dari kampus kira-kira satu jam, itu akan tiba di Pantai Sebalang pada malam hari. Ya, tidak apalah. Kami berempat jalan mengendarai sepeda motor tidak terlalu terburu-buru.

Sebelumnya, Pengurus Teknokra mengundang kami yang telah alumni untuk hadir di acara pelantikan anggota baru pengurus Teknokra. Mereka yang telah lulus masa magang ada 10 orang. Mereka segera dilantik hari Minggu pagi (19/6) itu. Tentu saja bertambahnya kru baru ini akan memperkuat barisan bagi pengurus Teknokra untuk akan datang.

Mereka tidak hanya melantik pengurus baru, tapi juga mengadakan rapat evaluasi kegiatan Rally Photo yang mereka selenggarakan beberapa waktu yang lalu. Sejak Sabtu malam hingga Minggu subuh, mereka sangat serius mengikuti rapat hingga selesai. Terlihat dari wajah mereka yang mengantuk. Mata agak kemerah-merahan. Tapi, akhirnya mereka berhasil menyelesaikan rapat yang sangat melelahkan itu.

***
Keesokkan Minggu pagi, saya sempat memfoto Edi ketika diceburkan ke laut oleh teman-teman Teknokra. Ketika kegiatan Rally Photo kemarin, Edi ditunjuk sebagai Ketua Panitia Pelaksana kegiatan itu. Mungkin saja, mereka ingin melepaskan Edi ke laut sebagai ungkapan senang telah melalui kegiatan yang telah mereka adakan beberapa waktu lalu.

Wajah-wajah mereka terlihat bahagia. Satu amanah kegiatan berlevel daerah telah mereka selenggarakan dengan baik. Saya pun jadi ikut senang melihat mereka.

Please follow and like us:

Di Balik Kamar


(Foto: Kondisi kamar kostanku baru-baru ini)

“Rumahku adalah istanaku.” Mungkin begitulah sebagian orang menganggap tempat tinggalnya (rumah,red). Ada yang sangat betah sehari penuh berada di rumah. Ada pula yang menganggap berada di rumah hanya untuk menumpang tidur dan istirahat.

Mungkin bagi saya yang telah lama tinggal jauh dari orangtua, memang harus membiasakan diri untuk mengurusi tempat tinggal (kostan,red) sendiri. Namun, sayangnya sejak tahun 2001 lalu hijrah dari kota Palembang ke Bandarlampung untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi, saya belum terbiasa dengan kerapian. Mulai dari membersihkan kamar kostan, menyuci baju secara teratur, menyetrika baju, sampai mengurus sepeda motor, saya belum sangat terbiasa teratur untuk seperti itu.

Terkadang kalau saya balik ke Palembang, harus siap dinasehati oleh ibu saya untuk rajin bersih-bersih. Yah, namanya juga anak laki-laki seperti saya susah sekali kalau disuruh bersih. Lihat saja kamar kostan saya di foto itu terlihat berantakan. Tapi, untung saja tidak sampai kumuh. Apalagi saya jarang sekali pulang ke kostan. Kalau pulang, hanya menumpang menyuci pakaian-pakaian kotor yang telah menumpuk selama seminggu. Atau sesekali cuma untuk tidur pagi karena lelah begadang malam di kampus.

Bisa dihitung selama seminggu berada di kostan cuma sebentar dan tidak lama. Bahkan, untuk sehari penuh saya tidak betah di kostan. Makanya sering berada di luar. Akibatnya, kostan jadi tak diurus kebersihannya. Ditambah lagi malas sekali bersih-bersih. Ada yang bersedia membantu saya? Hehe….

Tertarik ingin memfoto kondisi kamar kostan saya seperti apa, nah saya sempat memfoto kostan saya dan seperti terlihat di atas itulah hingga sekarang. Ada monitor komputer yang sudah jadi ‘bangkai’ tak terurus lagi. Ada CPU (Pentium I,red) pun sudah tak berfungsi lagi. Di atas meja setumpuk buku-buku yang tak jelas lagi apa saja dan kebiasaan meletakkan baju-baju kering dari jemuran. Sepertinya memang segera dibersihkan dan dirapikan ya? Bantuin dong 🙂

Please follow and like us:

Pemilihan Rektor Unila diwarnai Demonstrasi dan Pemukulan


Puluhan mahasiswa Unila terlihat masih bertahan di depan Gedung Rektorat Unila. Meskipun hujan deras sempat membasahi mereka beberapa menit, Rabu sekitar pukul 11 siang (6/6). Mereka saling bergantian berorasi membacakan tuntutannya. Seorang mahasiswa berdiri di atas meja, dengan suara yang lantang dari pengeras suara ke arah gedung berlantai tujuh itu.

Pilihan hari itu akan menentukan selama empat tahun ke depan Unila. Rektor Unila Periode 2007-2011 segera dipilih hari itu. Tiga calon rektor Unila, Prof.Dr.Ir.Tirza Hanum, Prof.Dr.Ir.Sugeng P.Harianto, dan Prof.Dr.Sudjarwo nasibnya ditentukan oleh 43 anggota Senat Unila yang akan memilih satu di antara mereka bertiga untuk menjadi Rektor Unila empat tahun mendatang.

Sejak pukul 9 pagi, Rapat Senat Unila dengan agenda pemilihan rektor Unila langsung dibuka oleh Ketua Senat Unila Prof.Dr.Ir.Muhajir Utomo,M.Sc. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian visi dan misi serta tanya-jawab dengan para anggota Senat Unila secara berturut-turut mulai dari: Prof.Dr.Ir.Tirza Hanum (Pembantu Rektor I Bidang Akademik), Prof.Dr.Ir.Sudjarwo (Dekan FKIP), dan terakhir Prof.Dr.Ir.Sugeng P.Harianto (Dekan FMIPA).

Tiga calon rektor itu telah menyampaikan visi dan misi serta tanya-jawab dengan para anggota Senat Unila, sekitar pukul 10.45 WIB. Selanjutnya, agenda pemilihan rektor segera dimulai. 43 kertas suara dibagikan kepada 43 anggota Senat Unila yang hadir saat itu. Proses pemilihan hingga perhitungan suara berjalan lancar hingga sekitar pukul 11.30 WIB. Hasilnya, Prof.Dr.Ir.Sugeng P.Harianto meraih suara terbanyak (27 suara), disusul Prof.Dr.Ir.Tirza Hanum (14 suara) dan Prof.Dr.Sudjarwo (2 suara).
***
Di luar gedung Rektorat Unila tampak para mahasiswa yang sebagian besar mengenakan jaket alamamater Unila itu semakin ‘memanas’. Mereka menantikan Rektor terpilih Prof.Dr.Ir.Sugeng P.Harianto untuk diminta agar segera menemui mereka dan menandatangani delapan tuntutan yang disampaikan para mahasiswa. Namun, dari sebelah timur dan barat para Satpam telah berjaga-jaga dan meblokir para mahasiswa dengan meja-meja sebagai pembatas agar tidak mendekat ke arah pintu masuk Gedung Rektorat Unila.

Saya yang berada di luar gedung itu jadi kebingungan. Niat ingin masuk tiadak berhasil karena semua pintu masuk ke Gedung Rektorat ditutup dan dijaga para Satpam. Saya penasaran untuk segara masuk dan menemui rektor yang baru saja terpilih.

Dengan melakukan lobi dan mengaku wartawan kepada salah seorang Satpam, akhirnya saya dan teman saya berhasil masuk ke dalam gedung, lalu segera menuju ke Ruang Sidang Rektorat di lantai dua, tempat berlangsungnya pemilihan rektor.

Tidak lama kemudian, terdengar suara ramai dari arah para mahasiswa yang berdemonstrasi di depan gedung itu. Secepatnya saya lari keluar gedung dan mencari tahu apa yang terjadi. Menurut beberapa wartawan dan fotografer media cetak yang sempat saya tanyakan, ada seorang mahasiswa Fakultas Teknik (FT) dipukuli Satpam karena diduga sebelumnya memukuli seorang calon rektor saat akan keluar dari gedung.

Menurut wartawan dan fotografer yang saya tanyai, laki-laki yang diduga calon rektor Prof.Dr.Sudjarwo itu memakai seragam Satpam dan mengenakan helm tertutup sehingga wajahnya tidak terlihat dengan jelas, lalu dibonceng seorang Satpam lain dengan mengendarai sepeda motor untuk menghindari kerumunan para mahasiswa yang berdemonstrasi.

Namun, saat si pengendara sepeda motor memboncengi yang diduga tadi calon rektor Prof.Dr.Sudjarwo, itu menabrak seorang mahasiswa FT yang kebetulan sedang menyeberang jalan di depan Gedung Rektorat dan sempat menabrak mahasiswa tadi. Tidak lama kemudian, para Satpam yang berjaga tiba-tiba mengejar mahasiswa tadi hingga ke depan Gedung A Fakultas Pertanian yang tidak jauh dari Gedung Rektorat Unila.

Mahasiswa tadi sempat mendapat pukulan dari sejumlah Satpam yang menangkapnya. Mukanya tampak memar dan kemerah-merahan. Kacamata yang dipakainya pun terlihat pecah. Ia sepertinya tidak melawan saat ditanggap dan mendapat pukulan dari para Satpam.

Setelah digiring masuk ke dalam Rektorat Unila dan ditanya sejumlah wartawan TV dan media cetak juga Satpam, mahasiswa itu ternyata korban salah sasaran dari oknum Satpam yang memukulnya.

Saya sempat mengambil sejumlah gambar dengan memfoto dan rekam video dari peristiwa kerumunan Satpam yang memukuli mahasiswa yang menjadi korban. Meskipun rekaman video itu berdurasi sebentar, dari situ bisa dilihat kearoganan dan kemurkaan oknum Satpam terhadap mahasiswa yang menjadi korban sasaran pemukulan.

Please follow and like us: