Website D’Cinnamons Sempat di-Hack

Akhir-akhir ini saya suka mendengar lagu-lagu yang dinyanyikan oleh D’Cinnamons dari Winamp komputer. Saya suka musik dari petikan gitar dan suara khas Bona (Vocal dan Lead Guitar). Band yang hanya terdiri dari tiga orang itu berasal dari Bandung. Hampir semua lagu-lagunya saya suka, apalagi lagu “Loving You”.

Tak puas mendengar lagu-lagunya, Saya tertarik mencari info-info tentang D’Cinnamons di google. Di beberapa blog umum, ada banyak lirik-lirik lagunya. Bagus-bagus. Sampai saya dapatkan website resmi D’Cinnamons, tiba-tiba Kamis malam itu (29/11) pukul 9:41 PM, saya kaget membuka website-nya di-hack orang (ya jelas orang lah, masa’ ada mesin yang bisa hack website sih :P). “Kok tega ya orang ini meng-hack website D’Cinnamons yang jadi favorit saya ini?”gumam saya penasaran.

Pada halaman website utama itu tertulis by CyberRoot, dengan lambang bulan sabit dan bintang. Mirip lambang bendera Turki. Cukup mengagetkan saya. Kata teman saya, sudah biasa sekarang banyak website kena hack. Baru-baru ini saja, website Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia di-hack. Saya baca dari detikcom.

Kembali ke website D’Cinnamons, sebelum di-hack, saya pernah mengunjungi website-nya. Keren. Ada lantunan lagu-lagunya. Desain warna coklat yang khas seperti kopi. Ngomong-ngomong soal kopi, saya senang dengan kopi. Apalagi menikmati kopi Lampung yang khas dan harum. ehm,…nikmat deh diminum saat pagi hari. Loh, kok malah ngga nyambung dengan D’Cinnamons? Ya sudahlah itu hanya intermezo saja. Hehehe…

Saya lihat website D’Cinnamons kembali seperti biasa, Jumat malam (30/11). Untungnya sang admin website D’Cinnamons cepat mengatasi tampilan halaman utama yang di-hack itu. Mudah-mudahan website-nya tidak di-hack lagi. Kalau mau hack, situs-situs pemerintahan Malaysia saja di-hack. Mas Pujiono menulis di blog-nya, “Perang Sudah Dimulai, Sebuah Serangan di Dunia Maya (kembali) Dilancarkan“. Mas Pujiono sempat merekam (screenshoot) halaman website Kementerian Kebudayaan Malaysia itu di sini. Tanda-tanda perang di dunia cyber Indonesia-Malaysia sudah terlihat jelas. Ada yang mau turut partisipasi melancarkan peperangan di dunia cyber dengan Malaysia?

Please follow and like us:

Surat Terbuka: Lagi, Malaysia Tak Henti Klaim Budaya Indonesia

Saudaraku Malaysia, mengapa saudara pemerintah Malaysia mengklaim Reog Ponorogo sebagai milik Malaysia? Ini permintaan saya kepada warga atau pemerintah Malaysia agar menjawab pertanyaan saya ini secara objektif serta dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Saya sebagai warga negara Indonesia, tentu sangat sedih dan menyayangkan pemerintah Malaysia mengklaim Reog Ponogoro adalah milik Malaysia.

Kamis (22/11) kemarin, saya kaget setelah membaca sebuah berita yang berjudul “Reog Dijiplak Malaysia, Pemkab Ponorogo Didesak Bertindak” dari situs berita Detikcom. Saya jadi heran dengan sikap Malaysia. Sebelumnya pemerintah Malaysia mengklaim lagu “Rasa Sayange” sebagai lagu milik mereka untuk kampanye pariwisata “Malaysia Truly Asia”.

Namun, setelah mereka gagal klaim lagu “Rasa Sayange” adalah milik Malaysia, kini mereka klaim Reog Ponorogo. Dari kata setelah Reog disambung dengan Ponorogo asli milik masyarakat Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia. Tarian Barongan yang dimuat oleh website Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia tampak seperti Reog Ponorogo. Bentuknya jelas-jelas sama dengan Reog Ponorogo. Hanya saja Malaysia menyebutnya Tarian Barongan.

Saudaraku Malaysia, Reog Ponorogo yang ditiru Malaysia menjadi Tarian Barongan berasal dari Kota Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia. Seorang sesepuh kesenian Reog, seperti dikutip dari Media Indonesia, Kemun alias Molok, berusia 84 tahun, mengatakan Reog sejak masa embahnya Kemun bernama Reog Ponorogo. Tidak ada Reog Malaysia atau reog lain.

Cerita Reog Ponorogo, seperti dikutip dari Kompas, telah ada dan mulai berkembang sejak tahun 900 saka. Tepatnya, pada masa kerajaan Kediri. Menurut Sesepuh Kesenian Reog Ponorogo yang juga sebagai pengamat Reog Ponorogo Tobroni, pada masa itu, Prabu Klono Sewandono dari kerajaan Bantarangin atau Wengker yang merupakan cikal bakal Kabupaten Ponorogo, berangkat menuju Daha kerajaan Kediri untuk melamar putri Songgolangit.

Namun ditengah perjalanan rombongan Prabu Klono Sewandono dihadang makhluk yang berwujud kepala harimau (Kepala Barong) yang berhiaskan burung merak (dadak merak) di atasnya. Saat itu, kepala barong dapat dikalahkan dan kemudian menjadi pengikutnya. Namun, ketika melamar sang putri raja Songgolangit, sang putri bersedia dinikahi dengan meminta mas kawin berupa sebuah kesenian yang belum ada di dunia. Atas permintaan tersebut, akhirnya lahirlah kesenian reog, yang merupakan perpaduan antara musik seruling dengan gending atau karawitan yang diiringi para penari.

Bagi saya, Malaysia telah melakukan kesewenang-wenang dengan klaim “Reog Ponorogo” versi Malaysia (Tarian Barongan, red) adalah milik mereka. Menurut website Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia, Tarian Barongan menggambarkan kisah-kisah di zaman Nabi Allah Sulaiman dengan binatang-binatang yang boleh bercakap. Kononnya, seekor harimau telah terlihat seekor burung merak yang sedang mengembangkan ekornya. Apabila terpandang harimau, merak pun melompat di atas kepala harimau dan keduanya terus menari. Tiba-tiba Pamong (Juru Iring) bernama Garong yang mengiringi Puteri Raja yang sedang menunggang kuda lalu di kawasan itu. Pamong lalu turun dari kudanya dan menari bersama-sama binatang tadi. Tarian ini terus diamalkan dan boleh dilihat di daerah Batu Pahat, Johor dan di negeri Selangor.

Pak Molok, asal Ponorogo, seperti dikutip dari website Kapanlagi, sebagaimana yang dikemukakan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Seni Budaya, Pemkab Ponorogo, Gunardi. “Gambar reog di website itu adalah asli buatan Pak Molok, perajin reog di Ponorogo,” katanya.

Menurut dia, dadak merak reog yang dibuat Molok berukuran panjang 2,25 meter, lebar 2,30 meter, dan beratnya hampir 50 kilogram, sedangkan yang membedakan antara reog buatan Molok dengan perajin reog lainya terletak pada kekhasan saat membuat dadak merak dengan motif dan ukiran khusus.

Sedangkan pemerintah kabupaten Ponorogo telah mendaftarkan tarian reog Ponorogo sebagai hak cipta milik Kabupaten Ponorogo yang tercatat dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004 dan diketahui langsung oleh Menteri Hukum dan Perundang-Undangan.

Wahai saudaraku Malaysia, apakah saudara tak henti-hentinya mengklaim sejumlah budaya milik Negara Kesatuan Republik Indonesia? Setelah Musik Angklung dari Sunda (Provinsi Jawa Barat) juga diklaim milik Malaysia. Lalu, batik khas Jawa sama-sama nasibnya diklaim milik Malaysia. Berikutnya, rendang dari Sumatera Barat pun juga diklaim Malaysia dan masih banyak lagi yang lainnya diklaim milik Malaysia.

Saudaraku Malaysia, mengapa Reog Ponorogo yang jelas-jelas adalah milik masyarakat Ponorogo, Jawa Timur itu diklaim dan diganti nama dengan Tarian Barongan ala Malaysia? Seperti Kuda Kepang yang disebutkan di website Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia mencantumkan berasal dari Jawa yang lebih dikenal dengan nama Kuda Lumping. Apa sulitnya mencantumkan secara jujur seperti Reog Ponorogo, Angklung dari Sunda (Jawa Barat), Batik dari Jawa, dan lain-lainnya.

Semoga saudaraku Malaysia sadar dengan sikapnya yang sewenang-wenang mengklaim budaya asli milik Indonesia. Cik Anwar Ibrahim pun mengingatkan isu Lagu Rasa Sayang tidak mungkin hangat dan bergolak seandainya hubungan kedua negara akrab. Malangnya sikap pemerintah Malaysia terlalu angkuh, menangkis hujah jiran secara sombong. Penderaan tenaga kerja Indonesia, dengan kes bunuh, rogol, penindasan majikan, hukuman sebat rotan di penjara semuanya memberikan gambaran betapa kejam dan angkuhnya pemerintah dan sebahagian rakyat Malaysia.

Saya menulis ini tidak ada bermaksud ingin provokasi antara Indonesia dengan Malaysia. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa sejumlah media di Indonesia memberikan sejumlah fakta dan informasi terutama mengenai Reog Ponorogo yang diklaim Malaysia secara sepihak. Tak ada rasa kebencian kepada saudaraku Malaysia karena kita adalah satu rumpun. Saya hanya ingin mengetahui dan berdiskusi banyak kepada saudaraku Malaysia tentang ini.

Wallahu ‘alam


sumber foto: Portal Kementarian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia

Please follow and like us:

Hutan Mangrove Lampung Timur Masih Terlihat Hijau

Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, Selasa (13/11) pagi itu hujan gerimis. Awan terlihat agak mendung, tapi langit masih cukup cerah. Sebuah kawasan Hutan Mangrove terlihat hijau dari arah kejauhan dari sebuah rumah yang baru baru saja Kami singgahi di desa itu. Cukup menyegarkan pandangan mata melihat keasrian di kawasan itu.

Selama lebih kurang dua jam perjalanan dari kampus Unila menuju Desa Margasari terasa singkat. Di dalam bus ada sekitar delapan orang dosen yang ikut. Ditambah saya. Awalnya, saya kira rombongan yang akan ikut cukup banyak. Namun, kenyataannya hanya beberapa saja.

Di dalam bus yang cukup adem oleh AC itu, tak banyak dosen yang saya kenal. Mereka rata-rata adalah dosen Jurusan Manajemen Kehutanan. Yang lainnya, dosen Biologi dan Teknik. Mereka adalah tim yang ditunjuk pimpinan universitas untuk meninjau kawasan Hutan Mangrove di Desa Margasari.

Saya tiba-tiba jadi pendiam di bus yang sepi penumpang itu. Ada dosen yang ‘sok’ bercakap bahasa Inggris. Awalnya agak risih mendengar dosen itu yang sangat cerewet. Bahkan, saya pun jadi bahan buat diskusi dengan teman-temannya di bus. Tentu saja menyebalkan.

Oh ternyata, itu tadi hanya sebuah kekesalan sesaat. Saya tidak sebenci itu kok. Ibu dosen itu cukup menyenangkan diajak ngobrol. Sedikit-sedikit saya pun ngobrol dengan bahasa Inggris. Ternyata, bahasa Inggris saya memang masih payah. Agak terbata-bata. Tapi, ya sudahlah. Namanya juga mencoba-coba kembali berbahasa Inggris. Tak ada salahnya bukan?

“Everybody have their own character,”celetuk saya

“Yes, you right bla bla bla….,”jawab ibu dosen itu panjang lebar dengan bahasa Inggris-nya yang fasih. Tapi, saya hanya menangkap inti yang dia ucapkan saja. Dia setuju komentar saya. Cukup? Ternyata ia masih dengan kecintaan berbahasa Inggris-nya. Saya diam saja sambil memperhatikannya berbicara. Tak mengerti. Saya menggut-manggut saja.

Tidak terasa kira-kira dua jam perjalanan. Bus milik kampus Unila yang kami tumpangi tiba di sebuah rumah yang di sana telah ditunggu sejumlah warga desa. Mereka tampak duduk-duduk santai di atas kursi plastik di depan rumah itu. Kebanyakan dari mereka adalah bapak-bapak.

Ketika masuk di desa itu, jalan agak rusak. Tidak diaspal. Hanya bebatuan koral saja ditanam di sepanjang jalan. Tapi masih bisa dilewati kendaraan roda empat seperti bus dengan cukup lancar. Hanya saja kecepatan maksimum 20-30 Km/jam.

Bapak-bapak yang menunggu di rumah itu menyambut kami. Mereka senyum kami telah tiba. Kami dipersilahkan masuk ke dalam rumah. Saya memilih duduk-duduk di luar teras rumah sambil memfoto-foto dengan kamera digital merk Mpix di sekitar rumah. Dari arah kejauhan rumah, tampak hamparan hijau yang luas. Mata saya terasa sejuk melihat hamparan hijau itu.

Tidak lama kemudian, acara pertemuan dengan bapak-bapak masyarakat desa dimulai. Kepala Desa Margasari juga ikut pertemuan. Nyoto, kepala desa itu mengatakan desanya memiliki kawasan Hutan Mangrove seluas lebih dari 1000 Ha. “Kalau bisa nanti dijadikan Mangrove Center,”kata Pak Nyoto.

Yuni, tamu dari JICA atau Japan International Corporation Agency yang datang dari Pusat Mangrove Bali, menyambut baik dari perhatian masyarakat untuk menjaga Hutan Mangrove di desanya. “Lampung sebenarnya punya banyak potensi alam yang bermanfaat,”ujar Yuni.

Kalau bagi Ir.Anshori Djausal,M.T, Pembantu Rektor IV Unila Bidang Kerjasama justru mengingatkan agar masyarakat mulai bisa tidak terlalu banyak bergantung kepada pihak luar. “Meskipun banyak tenaga ahli dari luar, tapi bukan berarti harus mengandalkan para tenaga ahli untuk mengelolanya. Justru peran dari masyarakat itu sendiri yang telah lebih dulu berpengalaman karena telah lama tinggal di daerahnya,”kata Bang Ans, panggilan akrabnya.

Setelah istirahat dan makan siang, Kami diajak ikut menaiki kapal yang biasa digunakan nelayan menangkap ikan di laut. Berangkat dari tepi sungai hingga keluar dari muara sungai kemudian ke lepas pantai.

Ombak laut sesekali menghantam kapal yang kami tumpangi. Agaknya saya pun khawatir. Soalnya, belum pernah saya menumpang kapal seperti itu dengan hempasan ombak yang kuat. Kapal naik-turun. Lama-lama saya jadi menikmati perjalan di atas kapal yang terbuat dari kayu itu. Saya pun memfoto-foto pemandangan Kawasan Hutan Mangrove yang penuh kehijauan.

Bang Ans di atas kapal menerbangkan layang-layang. Ia memang hobi bermain layang-layang. Bangkan, sejak kecil hobinya itu hingga sekarang masih ditekuninya. Saya lihat layang-layang itu cukup besar terbang di langit yang cukup cerah siang itu. Indah betul. Sambil mengarungi laut dengan kapal, tak henti-hentinya saya takjub dengan pemandangan kawasan Hutan Mangrove yang hijau. Sesekali saya lihat ada burung terbang dari hutan itu.

Kapan-kapan saya ingin bermain ke sana lagi. Sambil membawa pancingan. Saya pengan belajar mancing di laut. Di kawasan ini seharusnya bisa dijadikan tempat wisata. Sayangnya, belum ada niat untuk mengembangkan kawasan Hutan Mangrove itu untuk tempat wisata. Menunggu willing pemerintah daerah pasti lama. Oh ya, ada yang mau mengajari saya memancing di laut gak ya?

Please follow and like us:

Malam Minggu Pempov Lampung Ramai ABG

Tidak biasanya saya jalan-jalan pada malam minggu. Kalau pun ingin jalan ketika malam hari, biasanya diajak teman-teman dekat seangkatan saya di Teknokra. Dulu, kurang lebih empat tahun saat masih aktif di Teknokra, dalam satu minggu pasti jalan keluar malam. Entah itu ada sesuatu hal yang penting dan harus dikerjakan malam itu, sehingga rasa kantuk pun harus dikalahkan dengan hembusan angin malam yang menusuk paru-paru.

Kadang pergi sendirian. Tapi, lebih sering ditemani berdua atau bertiga menaiki motor. Kalau berdua, ya motornya cukup satu saja. Nah, kalau bertiga harus cari satu motor lagi untuk jalan. Tidak mungkin satu motor ditumpangi bertiga kan? Biasa-bisa ditilang polisi di tengah jalan.

Kendaraan bermotor roda dua ini di zaman sekarang, memang terasa sangat membantu untuk berpergian kemana pun. Apalagi motor yang biasa saya gunakan sehari-hari (Legenda2, red) ini, bahan bakarnya cukup irit. Keluar ongkos untuk beli bensin pun tak seberapa mahal dalam seminggu. Ya, lihat situasi dan kondisi juga. Jika jarang berpergian jauh, biasanya jadi irit pengeluaran sehari-hari saya.

Sebaliknya, kalau sering berpergian dalam dua hari biasanya harus mengeluarkan ongkos lebih dari biasanya. Tak apa. Pergi ke tempat teman atau senior saya, insya Allah niatnya silahturrahmi. Bahkan, dosen saya sering cerita tentang hikmah tentang silahturrahmi. Katanya, silahturrahmi itu akan memperpanjang usia bagi yang menjalankannya. Selain itu pula akan mendatangkan rezeki. Wallahu ‘alam, rezeki hanya Allahu yang mengatur dan mengetahui. Saya jadi banyak mendapatkan semacam pencerahan dari dosen saya yang mengajar pada jurusan Teknik Elekro. Saya senang bisa banyak tukar-pikiran dengannya. Tak banyak dosen mau tukar-pikran seperti itu.

Jadi, malam minggu kemarin (10/11), saya, Dede, Yudi, Rieke dan Andi jalan-jalan. Tak ada yang mengira jalan-jalan malam minggu itu harus terdampar di halaman kantor Gubernur Provinsi Lampung. Biasanya kantor ini disebut Balai Keratun.

Rieke kebetulan datang dari Jakarta pada hari sabtu pagi (10/11). Ia ingin liburan di sini, setelah katanya, menyelesaikan terbitan majalah di tempatnya bekerja. Sebetulnya, ia pun ingin agar selain kita berempat tak ada yang mengetahui ia berada di Lampung. Termasuk teman dekatnya, Diova dan May pun ia tak mengabarinya. Di SMS-nya pun Rieke selalu mengingatkan saya agar tak memberitahukan siapa pun.

Di halaman kantor Gubernur Provinsi Lampung ternyata ramai orang, terutama mereka yang menggunakan sepeda motor. Kebanyakan mereka adalah para ABG atau Anak Baru Gede. Saya perhatikan mereka meskipun tidak terlalu begitu jelas, karena suasana malam hari di sekitar itu agak gelap. Meskipun lampu terlihat menyala di tiap penjuru komplek kantor pemerintahan itu, tapi tetap saja tidak bisa menerangi hingga ke setiap sudut-sudut.

Ramai seperti pasar kaget. Hilir mudik motor di tempat itu. Ada pula beberapa pasangan laki-laki dan perempuan malah duduk di atas motornya di komplek itu, tapi agak gelap. Samar-samar. Mungkin mereka lebih suka begitu, daripada tempat yang terang dan terlihat orang banyak. Tebak sendiri mereka berbuat apa. Saya dan teman-teman saya lebih memilih tempat yang cukup terang sinar lampu di komplek kantor pemerintahan itu.

Di seberang jalan dari komplek kantor pemprov itu, suara musik terdengar menghentak. Tak terlalu keras, karena itu bukan konser besar. Hanya panggung kecil lengkap dengan penyanyi, band dan sound system yang cukup terjangkau di dekatnya.

Saya kemudian jadi tahu, ternyata malam minggu di sana memang ramai orang. Entah untuk pacaran atau sekedar lihat orang pacaran di atas sepeda motor. Kira-kira satu jam kami ngobrol dan hanya duduk-duduk di atas tangga menghadap ke lapangan komplek kantor Pemprov Lampung itu. Selintas di pikiran saya, maklum saja Bandarlampung yang ibukota Provinsi Lampung ini tak punya taman kota yang cukup luas. Wajar saja, mereka memanfaatkan lahan lapangan kantor gubernur ini. Kasihan? Ya,..nasib jadi warga kota Bandarlampung.

Please follow and like us:

Makrab dan Reuni di Pantai Sapenan

Senang dan terharu. Barangkali begitulah perasaan saya ketika ikut acara Malam Keakraban (Makrab) 2007, Sabtu-Minggu (3-4 November kemarin), di Pantai Sapenan, Lampung Selatan. Rasanya senang bisa bertemu dengan hampir seluruh angkatan di jurusan saya (Komunikasi). Sebagian besar mereka ikut serta pada acara ini. Bahkan, angkatan yang tertua (1998) pun bisa datang meskipun hanya tiga orang. Kira-kira ada sekitar 100 lebih orang yang datang di acara ini, dari mulai angkatan 1998-2007.

Ada juga teman-teman yang telah lulus dan bekerja di luar Bandarlampung, seperti: Adi, Abet, dan Suriyanto. Mereka bertiga datang dari Tangerang. Ada juga Nunik dari Sukabumi, tidak ketinggalan ikut rombongan bersama mereka. Padek pun niat banget ikut acara Makrab. Ia naik Kereta Api dari Palembang ke Bandarlampung selama lebih dari 8 jam. Saya salut dengan mereka yang ingin datang dari jauh-jauh. Ini seperti acara reuni buat mereka yang sudah lama tidak bertemu. Saya yakin mereka sudah merencanakan agar bisa ikut dan bisa bertemu teman-teman yang masih tinggal di Bandarlampung.

Ferari dan teman-teman angkatan 2000 pun menyiapkan sebuah bus besar yang disewa untuk teman-teman angkatan 2000-2004. Bus ini membawa kita ke Pantai Sapenan, Lampung Selatan yang jaraknya sekitar 80 Km lebih dari kampus Unila. Cuma ada sedikit tambahan ongkos sebesar Rp 20 ribu per orang untuk pergi-pulang. Nyatanya yang ikut di dalam bus cukup banyak. Sambil menikmati perjalanan kira-kira dua jam, banyak teman-teman yang sibuk berfoto-foto, cengar-cengir, terkadang tertawa lepas. Hari itu, tampak keceriaan wajah mereka.

Kira-kira pukul 5 sore lebih, bus yang membawa rombongan kami tiba di Pantai Sapenan. Teman-teman langsung berhamburan keluar. Ada yang berfoto-foto dengan latar belakang pantai. Ada yang belum salat Asar, langsung ‘ngacir’ cari air wudhu, terus salat di mushola. Nah loh, ketahuan yang belum salat Asar itu saya dan Anto. Hehe..

Lokasi pantai ini bersebelahan dengan Kalianda Resort. Pemandangannya indah. Dari Pantai Sapenan melihat ke laut dan kejauhan, terlihat Gunung Rajabasa menjulang tinggi. Saya belum pernah ke pantai ini sebelumnya. Pemandangan di sekitar pantai ini memang indah.
Malam hari, setelah menikmati makan nasi bungkus bersama dengan diliputi hawa angin yang kencang, ada acara api unggun dan persembahan dari masing-masing angkatan. Kocak dan bikin ketawa lihat tingkah si Ian ‘Kep’ bergaya fotografer. Si Kep memfoto Andina dari dekat saat menarikan Tari Sembah (Tari khas Lampung, red) ditemani sembilan teman seangkatannya (2005,red). Mereka menari seperti layaknya Tari Sembah beneran di atas panggung menyambut tamu agung.

Tak hanya ‘Kep’ saja memfoto mereka yang sedang menari, tapi beberapa teman-teman lain yang membawa kamera tidak ketinggalan ikut mendekat dan memfoto aksi Andina dkk. Kilatan cahaya dari blitz kamera terus terpancar bak artis selebritis. Tanpa menghiraukan kamera-kamera yang mendekati Andina dkk yang sedang menari, tapi mereka hanya tersenyum-senyum saja dan terus menari yang diiringi dengan lantunan suara musik khas Tari Sembah hingga selesai.Belum cukup puas menyaksikan aksi persembahan setiap angkatan, berikutnya membakar beberapa kembang api. Kata panitia, sebagai peringatan “Satu Dekade Komunikasi Unila”. Satu per satu kembang api dihidupkan, kemudian diarahkan ke langit. Warna-warni terpancar dari kembang api itu diliputi suara ledakan, mirip petasan. “Beliin kembang api ini aja abis sekitar Rp200 ribu,”celetuk panitia. Semua menatap kembang api yang meluncur bak roket ke langit menjadi terang karena kilatan kembang api itu.
Setelah acara kembang api itu, teman-teman angkatan 2000 punya acara spesial. Bakar Kambing Guling. Entahlah, katanya ini sebagai bentuk tanda syukur. Seekor kambing yang sudah siap diiris-iris oleh Ferari, kemudian yang lainnya siap membakar hingga jadi setengah matang. Semuanya bersemangat menikmati kambing guling bakar itu. Sambil dibumbui kacang dan saus kecap, nikmat sekali di saat angin malam yang terus berhembus dari pantai. Yummiiee..

Please follow and like us: