Pantai Mutun yang Bikin Mutung

kagum

Pernah main ke pantai? Wah, rugi kalau ngga pernah ke pantai. Apalagi pemandangan di pantai dan lautnya itu indah. Semburan ombaknya sesekali menghembus ke bibir pantai. Suara ombak yang begitu sejuk terdengar dibarengi dengan tiupan angin sepoi-sepoi menjadi sedikit terasa sejuk meskipun matahari mulai berada di atas kepala. Sinarnya semakin terasa menyengat kulit.

Pagi menjelang siang kemarin (Minggu, 2/3), saya dan teman-teman: Gigih, Harid, Risti, Winwin, Bayu, Redha, Arka, dan Geri, pergi ke Pantai Mutun. Lokasinya cukup jauh. Untuk mencapai ke pantai itu, kita menempuh dengan sepeda motor dengan jarak sekitar 18 km dari pusat kota Bandar Lampung. Kami mulai berangkat bersama-sama dari Puskom Unila.

Selama sekitar 45 menit perjalanan akhirnya tiba di kawasan Pantai Mutun. Perjalanan ketika itu pun belum termasuk kesasar di Teluk Betung. Sempat rombongan lima sepeda motor terpisah karena salah jalan. Tapi, untungnya bisa kembali ketemu dan terus melanjutkan perjalanan.

Saat rombongan sudah masuk kawasan Pantai Mutun, ada sejumlah panjaga yang menarik tiket masuk. Untuk pengunjung yang menggunakan sepeda motor cukup mengeluarkan uang Rp10ribu per sepeda motor. Terlihat di kaca, tarif harga masuk untuk mobil Rp 5ribu dan per orang Rp2500.-.

main di pantai

Selama di pantai, saya kira hanya duduk-duduk saja. Tapi, melihat Gigih menyeburkan ke laut sambil berenang, akhirnya saya pun ikut turun ke laut sambil belajar berenang. (Maklum, belum mahir berenang. Hehe). Sebarnya Gigih pun tak bisa berenang. Untungnya laut di pinggir pantai itu tidak dalam. Jadi, bisa main sepuasnya tanpa khawatir terkena ombak.

Geri menyewa sebuah perahu kecil terbuat dari fiberglass. Katanya, dia menyewa perahu itu Rp 10ribu per jamnya. Saya jadi tertarik menaiki perahu itu. Bolak-balik saya terjatuh dari perahu karena selain saya, Gigih yang berat badannya 80 Kg, ikut terjatuh naik di atas perahu. Beberapa kali meskipun dinaiki lebih dari dua orang, tetap saja perahu itu oleng dan akhirnya terjatuh ke air laut.

Siang itu saya benar-benar menikmati main-main air di Pantai Mutun. Sambil belajar berenang yang tak kunjung bisa. Kalau tak dipaksa, mana bisa berenang. Aksi narsis ingin difoto pun tidak ketinggalan. Coba lihat foto di atas. Para pria itu memandangi Winwin dengan penuh pesona (Halah…halah…berlebihan :D). Winwin pun tertawa melihat ulah pria-pria yang kurang kerjaan memandanginya. Yah, kalau saya melihat ke arah kamera. Ingin narsis difoto. Hehe…

belah duren

Ketika pulang, Harid dan Risti mengajak traktir makan durian di depan Gedung Pusat Kerajinan Lampung. Ada beberapa bapak-bapak menjual durian di pinggir jalan itu. Wah…sedap sekali aromanya. Sayangnya, Redha dan Arka tidak ikut makan durian. Cuma kita ber-7 saja menikmati durian di sana sambil menikmati hembusan angin di bawah teduhan pohon. Dua durian langsung dilahap dengan cepat. Kalau istilah Harid, “Belah duren“? (Hayoo apa coba? hehe :P)

Kapan lagi ya, kita bisa main air laut sambil berenang ke Pantai Mutun ini? Pulang dari Pantai Mutun, muka jadi mutung alias gosong. Risiko deh ke pantai jadi begini. Hehe…

Please follow and like us:

13 thoughts on “Pantai Mutun yang Bikin Mutung”

  1. seru banget mandi dipantainya, apalgi ramean. yang paling rame n seru kak gigih. kalo kak erik seru pas jatuh mulu naik bananaboot ha.ha.ha.
    belah durennya tuh juga seru, mas hari jagonya 😀

  2. Kaki gw ketusuk Bulu babi nih, waktu maen aer…
    Sakit Oyy………

    Win-win juga seru kok, awalnya dia takut sama aer. Lama-lama Nyebur juga ke Laut……..

    Belah Duren………
    Wah itu yang paling seruw…… 😀

  3. mantap!
    sayang, kurang banyak jumlah durian yg masuk k kamera. h ehe heheh he biar kita terlihat seperti juragan durian……
    he heh eh hehe h:)
    skin-treatment, pakai mentimun kah ? perih oit kulit wajahku…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *