Jurnalis itu Tukang Peras!

Delapan puluh persen wartawan/jurnalis adalah pemeras! Demikian menurut Rosihan Anwar, jurnalis senior tiga jaman (Kompas, 22 Mei 2010).

Barangkali apa yang diungkapkan Rosihan menunjukkan betapa memprihatinkan keadaan dunia wartawan kini yang berprofesi ganda. Tukang peras!

Sayangnya Rosihan tidak menjelaskan lebih banyak soal ini. Busuknya prilaku oknum wartawan yang memeras narasumber, sedikit sekali yang diberitakan di media massa. Seolah narasumber merasa tidak berdaya diancam oknum wartawan dengan cara memberitakan ke medianya. Menyerahkan sejumlah uang kepada oknum wartawan menjadi jalan terakhir itu.

Continue reading “Jurnalis itu Tukang Peras!”

Please follow and like us:

Hidup dan Mati Jurnalis

September 2004 lalu, saya dan teman-teman pers mahasiswa dari seluruh perguruan tinggi di Lampung, ikut aksi keprihatinan atas meninggalnya Ersa Siregar, jurnalis RCTI. Ia meninggal dunia dalam tugasnya sebagai jurnalis pada waktu itu konflik di Aceh, 29 Desember 2003 lalu.

Saya dan teman-teman saya yang ikut aksi di depan Bundaran Gajah, Jalan Raden Intan, Bandar Lampung, itu barangkali tak pernah mengenal begitu dekat sosok siapa Ersa Siregar. Tapi, kami berkabung atas kepergiannya. Kami belajar dan menjadi tahu bahwa pekerjaan jurnalis sangat dekat dengan maut ketika meliput di daerah yang sedang konflik senjata. Siapa pun yang berprofesi sebagai jurnalis  (TV, suratkabar, radio, internet, dll), ikut merasa kehilangan pria berusia 52 tahun ini.

Continue reading “Hidup dan Mati Jurnalis”

Please follow and like us:

Menggowes Sepeda Hingga Ke Seberang Pulau

Menggowes sepeda di jalan raya, apalagi rombongan beramai-ramai pada jaman sekarang bukan hal yang aneh. Mereka membawa isu mengampanyekan “Go Green!”. Mereka pantas diberi apresiasi di tengah jumlah kendaraan bermotor kian memadati jalan raya dan menipiskan lapisan ozon.

Bahkan ada pula sebuah komunitas bersepeda di Jakarta, dalam kelompok kecil mereka melakukan touring hingga ke Pulau Sumatera (Lampung,red). Saya hampir tak percaya membayangkan hal itu. Tapi, memang benar adanya demikian. Mereka betul-betul menggowes sepeda sejauh +/- 200 km!

Continue reading “Menggowes Sepeda Hingga Ke Seberang Pulau”

Please follow and like us:

Menulis untuk Terhindar dari Kepikunan

Demikian kata Marthias Dusky Pandoe, seorang jurnalis yang hidup pada tiga zaman. Pria yang telah berusia 80 tahun ini meluncurkan buku Jernih Melihat Cermat Mencatat.

Mungkin tak banyak sosok jurnalis senior yang dikenal oleh para jurnalis di era kini. Termasuk saya. Saya hanya ingat nama Rosihan Anwar. Sesekali pernah membaca tulisannya di opini media cetak harian tentang Pers.

Sayang sekali jika jurnalis muda tidak banyak belajar dari mereka berdua. Ilmu dan pengalaman mereka tak sebanyak dengan tulisan yang pernah ditulis di surat kabar maupun buku.

Continue reading “Menulis untuk Terhindar dari Kepikunan”

Please follow and like us: