Mengapa Kita Peduli Kepada ODHA? Ini Alasannya

Ayu Oktariani, penggiat Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) / Foto: twitter @wawaraji

Tubuhnya yang mungil, ia mengubar senyum dan menyapa kami. Siapa menyangka perempuan berkacamata asal Bandung ini tampak sehat bugar ternyata sejak tahun 2009 mengidap infeksi HIV/AIDS. “Dulu tidak tahu sama sekali, melalui jarum suntik bisa terinfeksi HIV/AIDS,” kata Ayu Oktariani, penggiat Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI).

Angka terinfeksi HIV/AIDS lebih tinggi terjadi pada para ibu rumah tangga. “Miris yah?”ujar Ayu prihatin. Cukup tidak enak didengar persepsi negatif di tengah masyarakat terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Namun, Ayu tetap optimis dan semangat terus menjalankan kehidupan selayaknya orang sehat pada umumnya.

“Sekarang sudah ada obatnya (antiretroviral/ARV). Obat ini tidak mematikan virus, tapi cuma ditekan. Obat ARV ini harus dikonsumsi seumur hidup dan tidak bisa berhenti,”ujar Ayu.

Para pemateri Diskusi dan Workshop #SayaBeraniSayaSehat dalam rangka Hari AIDS Sedunia 2017 / Foto: twitter @RAsmaraningsih

Kemenkes Mengajak Masyarakat Hidup Sehat

Tahun 2015, terjadi perubahan pola penyakit sebanyak 57% penyakit tidak menular (PTM), seperti: stroke, kecelakaan, jantung, kanker dan diabetes di Indonesia. “Ini terkait dengan pola perilaku hidup masyarkat,”ujar Indra Rizon, SKM, M.Kes, Kepala Hubungan Media dan Lembaga Biro Komunikasi & Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di acara Diskusi Bersama Blogger #SayaBeraniSayaSehat dalam Rangka Hari AIDS Sedunia 2017″ di The Excelton Hotel Palembang, Senin, 4 Desember 2017.

Sejalan dengan adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), muncul penyakit Katastropik. Penyakit Katastropik adalah penyakit yang berbiaya tinggi dan secara komplikasi dapat terjadi ancaman jiwa yang membahayakan penderitanya. “Bagaimana kita jangan sampai jatuh sakit? Pilihannya adalah selalu menjaga yang sehat tetap sehat atau mengobati,”kata Indra.

Presiden Republik Indonesia Ir.Joko Widodo menaruh perhatian terhadap persoalan ini dan kemudian terbit Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017. Tujuannya adalah kesehatan selalu terjaga, lingkungan bersih, produktif, dan biaya berobat berkurang. “Melalui mewujudkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), diharapkan peningkatan aktivitas fisik, peningkatan perilaku hidup sehat, penyediaan pangan sehat dan percepatan perbaikan gizi, peningkatan pencegahan dan deteksi dini penyakit, peningkatan kualitas lingkungan, dan peningkatan edukasi hidup sehat.”kata Indra.

Indra mengajak masyarakat mempraktekkan pola hidup sehat sehari-hari di institusi dan organisasi masing-masing dan selalu memeriksa kesehatan setiap 6 bulan sekali.

Mengenal Infeksi HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual

Hingga Maret 2017, ada sebanyak 242.699 kasus infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) di Indonesia. 40.000-an kasus ditemukan per tahun. +/-110 kasus per hari. Tren jumlah pengidap infeksi HIV terjadi pada remaja 15-24 tahun dan AIDS pada remaja 15-29 tahun. Mengapa anak remaja berisiko terkena HIV/AIDS? “Karena pada usia mereka (anak remaja) dipengaruhi oleh kesetaraan gender (HAM), hidup jauh dari keluarga (orangtua), perubahan ekonomi (dampak kesenjangan ekonomi, mobilitas, imigrasi) dan perubahan sosial dan jaringan sosial (dampak sosial media dan akses yang bebas terhadap internet).”jelas dr. Endang Budi Hastuti, Kasubdit HIV AIDS dan PIMS Direktorat Pencegahan Penyakit Menular Langsung (PPML) Kemenkes RI.

dr.Endang Budi Hastuti, Kasubdit HIV AIDS dan PIMS Direktorat Pencegahan Penyakit Menular Langsung (PPML) Kemenkes RI / Foto: twitter @KemenkesRI

Bagaimana tanda orang yang terjangkit HIV/AIDS? Ternyata saya dan hampir semua peserta tidak bisa mengenal dan mengetahui orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Saya melihat Ayu Oktariani ketika menceritakan pengalaman hidupnya bersama kami, tidak terlihat seperti orang yang sakit. Ia selalu ceria dan senyum kepada semua orang.

Apakah virus HIV? Virus HIV adalah virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Virus ini tidak mudah menular dan cara penularannya terbatas, seperti melalui: hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi HIV, berbagi jarum suntik, produk darah dan organ tubuh dan ibu hamil positif HIV ke janin/bayinya.

HIV Ada Obatnya (Antiretroviral/AVR)

Beberapa tahun lalu, diagnosis HIV atau AIDS berarti lonceng kematian. “Namun, berkat perkembangan pengobatan terapi ARV, orang yang terinfeksi virus ini bisa hidup panjang dan produktif,”kata Endang.

Saat ini HIV dikategorikan sebagai penyakit kronis/menahun seperti diabetes dan darah tinggi. Semua ODHA Bisa Memulai ARV. Pada masa lalu, tidak semua ODHA bisa memulai ARV. Hanya ODHA tertentu dengan CD4<350 dan beberapa kriteria lainnya bisa terapi ARV. CD4 adalah jenis sel darah putih atau limfosit. Sel tersebut adalah bagian yang penting dari sistem kekebalan tubuh kita.

Penelitian klinis beberapa tahun terakhir ODHA bisa terapi dini ARV (tanpa memperhatikan jumlah CD4). Hal ini bermanfaat untuk kesehatan dan ketahanan hidup bagi ODHA.

Jangan khawatir, infeksi HIV/AIDS tidak menular melalui sentuhan kulit tangan (salaman, pegangan tangan), menggunakan alat makan bersama, berpelukan, tinggal serumah dengan ODHA dan gigitan serangga.

Ternyata melalui gigitan serangga, seperti nyamuk yang menggigit ODHA dan perpindah menggigit orang sehat, tidak akan tertular infeksi HIV/AIDS. Saya baru tahu hal ini setelah Bu Endang menjelaskan kepada kami.

Bagaimana cara mencegah tertularnya infeksi HIV/AIDS? Tidak melakukan hubungan seksual yang bukan pasangannya atau tidak ganti pasangan, tidak menggunakan narkoba, mengikuti program pencegahan penularan HIV dari ibu kepada anak, skrining darah donor dan organ tubuh, dan menerapkan kewaspadaan standar (bagi petugas kesehatan).

Apa yang harus dilakukan agar anak remaja tidak tertular infeksi HIV/AIDS? Endang menjelaskan dengan cara melalui pendekatan iman dan taqwa kepada Tuhan, ketahanan keluarga, Be Assertie atau terbuka dan jujur, aktif produktif, dan perilaku hidup sehat, anak remaja diharapkan terhindar dari HIV/AIDS.

Angka Infeksi HIV/AIDS di Sumatera Selatan

Kasus infeksi HIV/AIDS di Sumatera Selatan, menurut data Dinas Kesehatan Sumsel, ada sebanyak 1329 kasus HIV dan 1377 kasus AIDS, dari tahun 1995 sampai September 2017 dari total kasus sebanyak 2706 kasus.

“Rasio HIV antara laki-laki dan perempuan adalah 3:1. Sedangkan Rasio AIDS antara laki-laki dengan perempuan adalah 4:1,”kata Feri Yanuar, SKM, MKes, Kabag P2P Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.

Feri Yanuar, SKM, MKes, Kabag P2P Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan / Foto: twitter @mamanisss

Pengidap HIV dan penderita AIDS pada perempuan menurut pekerjaan di Sumsel dari Januari sampai September 2017, HIV dan AIDS masing-masing sebanyak 14 orang ibu rumah tangga. Namun, pederita HIV/AIDS menurut jenis kelamin dari Januari sampai September 2017, HIV (laki-laki: 80 orang dan perempuan: 30 orang) dan AIDS (laki-laki: 106 dan perempuan: 25 orang).

Jumlah Kasus HIV/AIDS dari tahun 2010 sampai 2017 di Sumsel / Dokumen Diknas Sumsel
Situasi HIV/AIDS di Sumsel tahun 2017 / Dokumen Diknas Sumsel
Kegiatan Upaya Pencegahan dan Pengobatan HIV/AIDS di Sumsel / Dokumen Diknas Sumsel

Acara Diskusi bersama Blogger Kesahatan yang dimoderatori oleh Kepala Bagian Pelayanan Masyarakat Biro Komunikasi & Pelayanan Masyarakat, Kemenkes RI, drg Widyawati, MKes, ini menambah wawasan bagi para blogger terutama berkaitan dengan penularan dan pencegahan infeksi HIV/AIDS.

Selain diskusi dan tanya jawab mengenai HIV/AIDS, acara yang berlangsung sampai sore ini tanpa terasa lelah diisi workshop blogger oleh Kang Arul. Pemilik blog di alamat: www.dosengalau.com ini membagai tips ngeblog dengan asik dan santai.

Referensi:

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *