Orang Lampung Akrab dengan Sastra sejak Lahir

udo

Sejak lahir hingga ajal menjemput, orang Lampung mengenal dan akrab dengan sastra. Ada banyak sastra Lampung dari para leluhur terdahulu. Kata Iswadi Pratama, Sastrawan Lampung, karya sastra para leluhur itu membuat ia tak sanggup menandingi kata-kata yang tertuang dalam sastra lama itu. Ia kagum, sampai-sampai selalu dipikirkan dan tidak sanggup berkarya sastra lagi. Begitu kata Iswadi berdiplomatis, ketika saya mendengar kesannya di Lampung Post, Selasa malam kemarin (24/6).

Sampai begitu kagumnya karya sastra yang berbentuk puisi dan pantun yang dibuat para leluhur sastrawan Lampung. Ketika saya mendengarkan kata demi kata, bait demi bait, pembacaannya pun membuat saya kagum. Sastra lama Lampung ternyata memikat untuk dipelajari.

Adalah Udo.Z.Karzi nama pena dari Zulkarnain Zubairi, redaktur Borneo News (group Media Indonesia), berhasil memenangkan Penghargaan Rancage 2008, yang diberikan padanya di Bandung, Sabtu (14/6) lalu. Udo, senior saya di Teknokra biasa memanggilnya demikian, menerbitkan buku Mak Dawah Mak Dibingi. Kumpulan 50 puisi yang dibuatnya sejak tahun 1987-2004. Ngga siang ngga malam, begitu kurang lebih terjemahan dalam bahasa Indonesia judul buku karya Udo itu.

Continue reading “Orang Lampung Akrab dengan Sastra sejak Lahir”

Please follow and like us:

Tugu Muli-Mekhanai

tugu muli mekhanai lampung

Pemandangan di pusat kota, terkadang memiliki daya tarik tersendiri akan keindahannya. Terlebih lagi jika kota tersebut bersih dan banyak pohon rindang di pinggir jalan raya. Seperti di Bandar Lampung, terutama jalan menuju Teluk Betung, saya perhatikan cukup banyak pepohonan yang masih terlihat hijau dan rimbun. Apalagi ketika memasuki lampu merah dekat Kantor Walikota Bandar Lampung, selain ada taman yang terlihat indah dan rapi itu, ada sebuah patung Muli-Mekhanai dengan khas pakaian adat Lampung. Muli itu berarti perempuan dan Mekhanai berarti laki-laki.

Ini salah satu patung Muli-Mekhanai yang kebetulan saya potret Kamis siang (28/2) kemarin ditemani Gigih dan Redha saat jalan-jalan bersepeda motor dan hunting laptop di sejumlah toko komputer. Tidak hanya patung itu saja dibangun, masih ada satu set patung (memangnya barang. hehe..) di persimpangan Jalan Kartini. Patung Muli-Mekhanai itu mengenakan pakaian adat Lampung Saibatin. Saya memotretnya sekitar bulan Juli 2006 yang lalu.
Saya kurang tahu persis tugu patung yang di dekat Kantor Walikota Bandar Lampung itu. Yang saya tahu hanya ada dua tugu patung itu saja yang dibangun pemda kota Bandar Lampung. Jika sempat nanti saya coba mencari tahu, jenis pakaian adat Lampung apa yang saya foto di atas itu. Atau mungkin Anda tahu jenis pakaian adat Lampung itu?

Please follow and like us: