Persahabatan Blogger

Anda mungkin sering mendengar pepatah,”Tak Kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.” Lalu, malah ada yang menambahi,”tak cinta maka tak..”(silahkan menambahi titik-titik itu.hehe). Seperti itulah proses bertahap di saat orang mulai saling kenal-mengenal.

Kehadiran banyak teman menjadikan sebuah warna tersendiri untuk bisa saling berbagi bersama-sama. Tidak hanya suka, tapi kehadiran teman bisa mengobati duka. Mereka bisa mengobati menjadi senyum, gembira kembali dalam keceriaan.

Teman yang punya kesamaan hobi macam ngeblog pun belakangan ini sudah banyak. ‘Wadah’ mereka masing-masing mengekspresikan di dalam blog-nya. Menulis. Diskusi di milis. Bercanda. Tukar-pendapat. Padahal, mereka tidak saling bertemu (tatap muka) satu dengan yang lainnya dalam sebuah pertemuan.

Tapi, ketika para blogger yang sering bertemu di dunia maya itu ada keinginan saling bertemu secara langsung (para blogger akrab menyebutnya “kopdar”), mereka pun menggagas bertemu di darat. Bahkan, ada saja blogger dari jauh sekali pun benar-benar niat ingin bertemu. Tentunya tak sekedar bertemu saja, tapi disertai ‘bumbu’ acara makan-makan. Sepertinya sudah lazim ada acara kopdar, pasti ada acara makan-makan.

Continue reading “Persahabatan Blogger”

Please follow and like us:

Orang Lampung Akrab dengan Sastra sejak Lahir

udo

Sejak lahir hingga ajal menjemput, orang Lampung mengenal dan akrab dengan sastra. Ada banyak sastra Lampung dari para leluhur terdahulu. Kata Iswadi Pratama, Sastrawan Lampung, karya sastra para leluhur itu membuat ia tak sanggup menandingi kata-kata yang tertuang dalam sastra lama itu. Ia kagum, sampai-sampai selalu dipikirkan dan tidak sanggup berkarya sastra lagi. Begitu kata Iswadi berdiplomatis, ketika saya mendengar kesannya di Lampung Post, Selasa malam kemarin (24/6).

Sampai begitu kagumnya karya sastra yang berbentuk puisi dan pantun yang dibuat para leluhur sastrawan Lampung. Ketika saya mendengarkan kata demi kata, bait demi bait, pembacaannya pun membuat saya kagum. Sastra lama Lampung ternyata memikat untuk dipelajari.

Adalah Udo.Z.Karzi nama pena dari Zulkarnain Zubairi, redaktur Borneo News (group Media Indonesia), berhasil memenangkan Penghargaan Rancage 2008, yang diberikan padanya di Bandung, Sabtu (14/6) lalu. Udo, senior saya di Teknokra biasa memanggilnya demikian, menerbitkan buku Mak Dawah Mak Dibingi. Kumpulan 50 puisi yang dibuatnya sejak tahun 1987-2004. Ngga siang ngga malam, begitu kurang lebih terjemahan dalam bahasa Indonesia judul buku karya Udo itu.

Continue reading “Orang Lampung Akrab dengan Sastra sejak Lahir”

Please follow and like us:

Pelatihan Blog Tingkat Dasar Episode Dua

pelatihan

Sosialisasi tentang blog perlahan-lahan mulai dikenalkan di kampus saya. Karena melihat perkembangan blog yang belakangan ini sudah mulai cukup dikenal banyak masyarakat, maka sudah seharusnya pengenalan tentang blog di kampus saya pun dimulai. Bukan sekedar tren sesaat seperti social networking macam situs friendster dan facebook. Blog yang ditulis secara personal memiliki pengaruh besar di dunia maya.

Inisiatif pentingnya memiliki blog ternyata telah dimulai teman-teman BEM KBM Unila dengan mengadakan workshop membuat blog tingkat dasar untuk mahasiswa yang diadakan beberapa waktu yang lalu. Ketika itu peserta yang ikut tidak hanya mahasiswa Unila saja, tapi sebagian ada mahasiswa dari Metro, sebuah kota yang berjarak sekitar 50 KM dari Kota Bandar Lampung. Waktu itu saya yang diminta sebagai instruktur pelatihan blog yang diadakan dari pagi hingga sore itu.

Continue reading “Pelatihan Blog Tingkat Dasar Episode Dua”

Please follow and like us:

Satu Jam Bersama Radio Oz

talkshow di radio oz

Alhamdulillah, kemarin Sabtu pagi (19/4) giliran talkshow di Radio Oz 94,4 FM Bandarlampung, berlangsung sukses dan lancar tanpa ada hambatan. Saya (blogger kondang(an) halah..) dan Simon Sumanjaya (blogger yang juga dosen di Fisip Unila) yang datang ke Radio Oz Bandarlampung. Akhirnya suara seksi saya bisa didengar para Ozers (sebutan para pendengar Radio Oz,red) di seluruh penjuru tanah Lampung. Saat itu DJ-nya adalah Vina. Ternyata saya sudah mengenalnya di satu almamater yang sama.

Sebelumnya saya juga pernah diundang ikut talkshow di LTV. Acaranya bertajuk “Bincang-Bincang IT” yang mendiskusikan tentang Apa itu Blog? Waktu itu saya dan Gery datang pada acara itu. Tidak sulit untuk tanya-jawab, karena alhamdulillah pertanyaannya seputar blog yang cukup mudah dimengerti. Mulai dari apa itu blog, kenapa harus punya blog, keuntungan blog sampai apa saja yang ditulis di blog.

Continue reading “Satu Jam Bersama Radio Oz”

Please follow and like us:

Kopdar Wongkito yang Ketiga Makin Ramai

kopdar wongkito ketiga

Awan mendung tiba-tiba menampakkan sosok matahari dan memancarkan sinarnya yang cukup menyengat kulit, Sabtu siang kemarin. Tapi, setelah saya masuk di depan pintu Mall Palembang Square (PS), agak terasa lega. Udara yang cukup dingin dari AC mengeruap di dalam mall berlantai tiga itu menyejukkan sekujur tubuh saya.

Selama perjalanan mengendarai mobil Taft Daihatsu warna merah tahun 1970-an milik ayah saya, tidak pernah menggunakan AC sama sekali. Jadi, wajar saja terasa agak panas. Satu-satunya cuma mengandalkan angin sepoi-sepoi dari balik jendela mobil. Ditemani Triana setelah menjemputnya dulu di rumahnya dekat Komplek Pusri. Lalu, menjemput Kiki, teman sebaya Triana yang kebetulan sedang latihan teater di SMP Kartika, sekitar 100 meter dari Pasar Lemabang. Kami bertiga langsung menuju Restoran Solaria di mall PS.
Triana Haryani nama lengkapnya. Ia lulusan SMA Negeri 5 Palembang tahun 2006. Sekolah/almamater yang sama dengan saya juga. Tri, begitu biasa saya memanggilnya, tutur katanya sopan dan suaranya lembut. Nyaris tak terdengar. Meskipun masih muda, Ia kini sudah bekerja di sebuah lembaga pendidikan komputer cukup terkemuka di Palembang.

Sedangkan Kiki, adiknya Pandu yang juga teman satu angkatan saya waktu SMA dulu, kebetulan diajak Tri ikut bersama di acara kopi darat atau kopdar. Dalam istilah kopdar, dikatakan wikipedia Kampung Gajah, artinya bertemu langsung di darat, tidak lagi di udara atau via internet. Dulu istilah kopdar sering akrab digunakan para ‘breaker’ atau pengguna komunikasi handy talky (HT) dan juga radio amatir. Seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, maka istilah kopdar sepertinya lebih melekat pada komunitas blogger.

Ramai orang hilir-mudik. Padahal, mall itu cukup luas dan besar. Tetap saja kalau ramai, rasanya kalau jalan terasa kurang leluasa. Di beberapa gerai makan tampak ramai orang makan di sana ketika saya berada di lantai satu. Rencananya kita akan kopdar di lantai tiga. Tapi, kemudian saya menduga pasti akan lebih ramai lagi para pengunjung yang makan di sana.

kopdar juga

Sesampai di lantai tiga, tidak sulit menemui tempat acara kopdarnya. Tampak dari depan banyak orang tengah mengisi tempat duduknya masing-masing sambil menikmati santapan makanan yang dipesannya. Berjalan penuh pasti masuk ke dalam Restoran Solaria, akhirnya beberapa teman sudah duduk-duduk dan menunggu kedatangan kita di sana (kayak pejabat aja ya. Hehe..). Padahal, masih ada yang belum tiba tepat waktu yang dijanjikan pukul dua siang.Terlihat enam meja putih saling dirapatkan. Sebuah tulisan “Reserved” di atas meja itu. Warnanya ungu, sama seperti warna dinding di tempat itu. Barangkali warna khas Restoran Solaria yang cukup artistik menempati di mall ini. Saya duduk di sebelah Aulia dan Ibunk. Ada Ardy ketawa-ketiwi dengan para pendamping setianya, Rahmat, Petrus dan Mumud. Yang cukup mengagetkan saya mendengar celetukan Ardy menyebut Petrus dengan Mr P. (Haha…maaf buat Petrus, bukan maksud menertawakan Petrus, ini sekedar guyonan dan banyolan). Entahlah, guyonan macam-macam sudah ‘mengocok’ perut mereka.

Acara yang ditunggu sebelum diskusi dan bahas-bahas yang lain, memesan makanan dan minuman. Sebelum berangkat, dari rumah memang sudah sengaja meninggalkan perut kosong untuk makan di Solaria. Ini kedua kali saya makan di sana. Yang pertama ditraktir Aziz, teman saya yang baru menikah Sabtu kemarin dan mengajak teman-teman dekat lainnya sekitar tujuh orang.

Kebanyakan para pelayan di restoran itu adalah perempuan. Semuanya mengenakan seragam berwarna hitam dan ber-makeup seperti akan kondangan. Ya, terlihat seperti Sales Promotion Girl/SPG kosmetik dengan mata bercelak, bibir berlipstik, dan bedak tebal menutupi permukaan kulit wajahnya.

Yang mengherankan buat saya, jika telah memesan makanan dan minuman yang kita inginkan, sang pelayan akan menghitung total jumlah biaya yang kita pesan, kemudian meminta membayar langsung. Saya malah baru tahu makan di tempat ini harus membayar dulu, baru makanan dan minuman dibuat sang koki di dapur lalu segera dihidangkan. Agaknya, memang harus menunggu cukup lama pesanan yang kita inginkan jika saat itu sedang ramai pengunjung. Seperti waktu itu, pengunjung lumayan ramai dan kita cukup lama menanti satu per satu hidangan datang ke meja kita.

Ardy, sang ketua Wongkito, berinisitif memulai berbicara di depan teman-teman yang dihadiri sekitar 26 orang. Ini Kopdar terbanyak yang pernah diadakan. Satu per satu mendapat giliran memperkenalkan diri, meskipun ada beberapa blogger yang (mungkin) baru pertama kali ikut kopdar ini.

Karena banyaknya yang hadir, agaknya sulit sekali mendengar secara khusuk penjelasan dari Ardy, Mumud dengan ID card-nya, Jafis dengan rencana buat profile Wongkito, dan Wahyu dengan recana bersilahturahmi dengan Walikota Palembang untuk mengenalkan komunitas Blogger Palembang (Wongkito). Agak samar-samar mendengar mereka bicara satu per satu, karena ramai suara pengunjung lain yang ada di sana.

Tak banyak diskusi dan pembahasan ketika itu, tapi saya cukup senang bisa bertemu dengan teman-teman blogger yang kebanyakan berdomisili di Palembang. Ternyata, saya masih menjadi tamu paling jauh yang hadir di acara kopdar ketiga ini. Mudah-mudahan kopdar keempat mendatang bisa bertemu lagi ya. Mohon maaf teman-teman yang di seberang meja nun jauh di sana tak sempat berbincang dan berbagi cerita. Konferensi Meja “L” kita cukup ramai kan? Hehe..

Please follow and like us:

Rencana Pindah ke Hati yang Lain

Sabtu kemarin (12/1), saya mencoba memindahkan seluruh posting yang ada di engine Blogspot ini ke WordPress. WordPress seperti diketahui merupakan engine untuk membuat blog yang gratis sama seperti engine Blogspot. Blog yang saya bangun sejak awal (tahun 2004) hingga sekarang (2008) masih menggunakan Blogspot.

Kini masih dalam proses menentukan pilihan yang tepat agar tidak menyesal di kemudian hari (halah…). Sempat berpikir berencana akan pindah ke engine WordPress untuk seterusnya. Menulis di blog bagi saya, butuh konsisten engine blog yang sering diisi dan digunakan untuk jalan-jalan atau istilah para blogger itu “Blogwalking” ke blog lainnya dan meninggalkan link blog kita sendiri.

Sejauh ini yang saya ketahui dan memantau blog-blog dengan dua engine (Blogspot dan WordPress) ini, masing-masing mempunyai ‘pasarnya’ atau segmen sendiri. Misalnya, ada blogger yang menggunakan blogspot dan biasanya para komentator yang hadir di blog itu berasal dari blogger yang menggunakan engine yang sama (Blogspot). Hal yang sama juga seperti blogger yang menggunakan engine WordPress, biasanya yang memberikan komentar berasal dari blogger WordPress. Rata-rata saya perhatikan begitu.

Sepengetahuan saya juga, engine Blogspot tidak menyimpan backlink setelah kita meninggalkan komentar di blogger yang menggunakan engine Blogspot. Ternyata, harus beberapa kali melompati link-link berikutnya untuk menemukan blog utamanya. Memang betul masing-masing kedua engine blog ini (WordPress dan Blogspot) memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Keduanya juga masih gratis dan mudah untuk digunakan bagi yang awam dengan istilah-istilah dan cara-cara yang ‘njlimet’ (susah,red) pengaturannya.

Banyak teman-teman blogger saya sudah pindah hati yang lain. Kebanyakan mereka yang sebelumnya menggunakan engine Blogspot, hijrah menggunakan engine WordPress. Jadi tertarik mengikuti jejak seperti mereka juga. Bukan sekedar alasan ikut-ikutan saja, tapi seperti alasan yang saya sebutkan di atas tadi. Ehm,..ada ide lain soal ini?

Please follow and like us: