Ternyata Inilah Transportasi Stasiun Gambir-Bandara Halim Perdana Kusuma

image
Selfi dulu di Lapangan Tugu Monumen Nasional (Monas)

Akhir bulan Agustus 2015 lalu, saya mendapat tugas pelatihan ke Jakarta. Berangkat dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang menumpang Pesawat Lion Air. Kurang lebih perjalanan sebelumnya sama seperti yang pernah saya posting di sini.

Mendapat panggilan pelatihan ke luar kota (Jakarta) merupakan yang kedua kalinya di tahun 2015 ini. Kesempatan berpergian gratis (muka gratisan. Haha) ini saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Jauh hari sebelum tanggal keberangkatan dan diinformasikan oleh bos di Jakarta, saya menyiapkan kondisi kesehatan yang fit. Mengapa? Karena kalau selagi kondisi badan tidak sehat, misalnya sakit flu, rasanya tidak “enjoy” bepergian. Apalagi urusannya untuk dinas/pekerjaan. Nah apalagi untuk jalan-jalan, tidak enak rasanya kan?

Continue reading “Ternyata Inilah Transportasi Stasiun Gambir-Bandara Halim Perdana Kusuma”

Please follow and like us:

Cerita Pesta Blogger 2008 yang ‘Basbang’

tertidur1

Seorang pria berkacamata duduk santai. Matanya sayu dan mengantuk. Ia menatap panggung dari kejauhan di deretan bangku lantai dua Auditorium Gedung BPPT II 3rd floor. Acara belum juga dimulai. Pria yang mengenakan kemeja biru ini pelan-pelan memejamkan mata ketika acara baru dibuka, sampai kemudian pada acara diskusi yang dimoderatori Enda Nasution. Ia tertidur. Bahkan ketika tidur, difoto seorang paparazi. Pria yang tertidur itu adalah saya sendiri 🙂

Pagi menjelang siang itu (Sabtu, 22/11) tampak keriuhan orang-orang di sekeliling. Mereka ada yang berfoto-foto dengan sejuta aksi ‘narsis’ dan ada pula yang asik ngobrol satu dengan yang lainnya. Singkat kata, mereka adalah para blogger dari seluruh Indonesia yang datang di acara Pesta Blogger 2008. Cerita dari Pesta Blogger 2008 ini membawa kisah bagi para blogger setelah kembali pulang ke rumah.

Continue reading “Cerita Pesta Blogger 2008 yang ‘Basbang’”

Please follow and like us:

Menempuh 226 Km Menuju Pesta Blogger 2008

selamat-datang-di-pelabuhan-merak

Nekat! Ya boleh dibilang begitu oleh teman-teman saya. Saya berangkat ke Jakarta mengendari sepeda motor menempuh +/- 226 Km dari Bandarlampung untuk menghadiri Pestablogger 2008. Sisa perjalanan berikutnya dilanjutkan oleh pak supir kapal (nahkoda) penyeberangan Bakauheni-Merak. Entah berapa panjang jalan kapal itu.

Saya menikmati setiap perjalanan saya yang sunyi nan sendiri. Kadang-kadang melewati suatu wilayah yang kanan-kiri terdapat semak belukar. Pepohonan hijau yang masih rindang. Memacu si legenda hitam 60-80 Km/jam sudah cukup cepat untuk kelas newbie seperti saya. Saya tak berani menggeber lebih dari itu. Takut mesinnya ‘rontok’ atau tiba-tiba ada kerusakan yang tidak saya duga sebelumnya. Menyusuri jalan beraspal yang terkadang mulus dan rata, tak jarang pula spontan kaget tiba-tiba melewati lubang yang bikin jantung dagdigdug karena khawatir terjatuh dan mecenderai diri saya sendiri. Alhamdulillah selama perjalanan tidak terjadi kendala.

Meskipun banyak motor bisa melaju dengan cepat mendahului saya, tak membuat ikut-ikutan seperti mereka. Gila deh! Mereka itu bisa menggeber motornya bisa sampai 100 Km/jam. Gimana rasanya meluncur dengan kecepatan itu? Yang pasti dan saya yakin motor itu pasti tidak stabil. Atau jika motor tipe kelas >150cc (bukan tipe bebek) mungkin masih bisa stabil. Kalau saya tak berani memacu kecepatan sampai segitu. Tapi, pernah mengendarai mobil dengan kecepatan segitu masih berani, tapi masih sedikit was-was dengan mata menatap arah depan dan tidak berkedip sekali pun. Melotot! Hehehe…

Continue reading “Menempuh 226 Km Menuju Pesta Blogger 2008”

Please follow and like us:

I’m Going to Pesta Blogger 2008

logo-pb08[Sebenarnya posting ini saya unggah Jum’at siang kemarin. Tapi, ketika menulis di tengah jalan, tiba-tiba koneksi ‘seret’ aka disconnect. Jadi pagi ini (Senin, 24/11) saya unggah. Beberapa posting dari pengalaman mengikuti Pesta Blogger 2008 kemarin, akan saya tulis di sini. Tapi nanti, tidak sekarang. Hehehe..]

Beberapa saat lagi, saya akan berangkat ke Jakarta. Insya Allah saya akan hadir di acara Pesta Blogger 2008, hari Sabtu besok (22/11) di Gedung BPPT II Jakarta Pusat. Sebuah pertemuan akbar para blogger seluruh Indonesia (mungkin setiap daerah/provinsi ada yang mewakilinya,red) dari Aceh sampai Papua (ternyata tidak ada. Paling jauh dari Makasar).

Inilah pertemuan akbar kedua setelah sebelumnya pernah dilaksanakan pada 27 Oktober 2007. Hari itu pula ditetapkan sebagai Hari Blogger Nasional oleh Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh. Pada saat itu saya tidak bisa hadir karena masih berada di luar kota (Jawa Timur). Momentum tahun inilah saatnya, saya ingin bisa hadir di acara yang digawangi oleh Maverick dan Bubudotcom.

Continue reading “I’m Going to Pesta Blogger 2008”

Please follow and like us:

Ditilang Polisi

ditilang polisi

Eh, bukan saya loh yang ditilang polisi. Sumpah bukan saya. Bener kok, bukan saya. Jangan paksa saya untuk mengatakannya. Halah….halah….*lebai 🙂

Jadi ceritanya begini. Di saat matahari di atas kepala pada hari Kamis siang kemarin (17/4), saya dan Gery pergi ke Radio Oz 94,4 FM Bandarlampung. Tujuannya menyerahkan proposal permohonan agar dapat berpartisipasi di acara talkshow di radio itu hari Sabtu besok (19/04) pagi. Di tengah jalan kami berdua bersepeda motor. Gery membonceng saya naik di atas sepeda motornya.

Continue reading “Ditilang Polisi”

Please follow and like us:

Tulisan ‘Memalukan’ di Perpustakaan FISIP UI

tulisan di perpus fisip ui

Yth.Bapak Rektor dan Dekan FISIP UI

Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak-bapak jika sempat membaca posting saya ini. Tidak ada maksud dari hati yang paling dalam ini untuk mempermalukan Universitas Indonesia (UI) sebagai perguruan tinggi negeri terfavorit di Indonesia dengan menulis tentang apa yang saya lihat di UI.

Ceritanya, senin kemarin (28/1), saya sempat mampir ke Perpustakaan Fisip UI untuk sekedar mencari dan membaca buku-buku. Suasana siang itu yang sejuk oleh AC dan cukup ramai dengan para mahasiswa yang ada di sana. Ada yang sibuk mencari buku-buku di rak-rak. Ada yang duduk-duduk di lantai sambil membaca skripsi. Hampir semua meja baca penuh dengan mahasiswa. Ada yang sibuk mengetik di laptopnya, ada yang sekedar mencatat dari buku-buku yang dibawanya ke mejanya, dan ada pula yang dengan asik browsing internet dari laptopnya.

Tapi, ada satu meja sempat kosong. Kemudian saya menempati meja itu dan membuka buku-buku yang saya ambil dari sebuah rak buku. Alangkah kagetnya, Saya menemukan banyak (coretan pena) tulisan di meja itu. Entahlah, hanya kebetulan meja yang saya tempati itu saja yang dicoret-coret atau ada juga meja lainnya yang dicoret-coret? Saya yakin yang mencoret-coret dengan pena ini adalah mahasiswa yang katanya intelektual muda. Tapi, kok alangkah tidak etis menulis seperti ini. Apalagi di sebuah perpustakaan sebagai gudangnya ilmu. Terlebih lagi perpustakaan ini mengangkat nama besar Almarhumah Miriam Budiarjo, Guru Besar Ilmu Politik UI sebagai Miriam Budiarjo Resource Center.

Sebenarnya saya malu membaca coretan itu. Bagaimana jika sewaktu-waktu ada Pak Menteri Pendidikan Nasional datang ke sana dan kebetulan ia menemui tulisan seperti itu? Mudah-mudahan kejadian seperti ini menjadi pelajaran bagi para petugas perpustakaan agar memperhatikan kebersihan meja yang dicoret-coret para mahasiswanya. Saya juga sebenarnya hampir tidak percaya yang menulis seperti ini dilakukan mahasiswa UI sendiri.

Mudah-mudahan tulisan saya ini ditanggapinya serius agar nantinya tidak terjadi lagi ‘aksi coret-coret’ di meja oleh tangan oknum yang tidak bertanggungjawab ini. Mari kita jaga sama-sama Miriam Budiarjo Resource Center lebih dirawat lagi.

Please follow and like us:

Toko Buku Terbesar di Asia Tenggara

gramedia matraman

Selagi masih di Jakarta, saya penasaran dengan toko buku terbesar di Asia Tenggara yang baru dibuka akhir Desember 2007 lalu ini. Toko Buku Gramedia Matraman yang waktu itu dibuka oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono ini, akhirnya saya sampai juga kesana Minggu sore (27/1) kemarin. Bangunannya besar. Ada empat lantai. Saya kira inilah toko buku paling besar yang pernah saya kunjungi.

Waktu pertama kali mencari toko buku itu, saya tidak menemukannya. Malah saya dari arah jalan Matraman terus menuju jalan Jatinegara. Akhirnya, saya coba memutar dan akhirnya menemukannya. Toko buku ini kalau dari arah seberang jalan tidak terlihat seperti toko buku. Saya kira itu kantor biasa yang persis bersebelahan dengan gedung Bank Danamon. Hanya dari arah depan baru terlihat ini adalah sebuah toko buku dengan tulisan Gramedia di atas bangunannya yang megah ini.

Lain waktu saya ingin ke toko buku ini lagi. Lumayan jauh kalau setiap kali dari Lampung menyeberang ke Jakarta untuk sekedar jalan-jalan mencari sekaligus mengoleksi macam-macam buku berbagai judul yang ada di sana.

Saya tertarik dengan buku-buku travel (perjalanan). Tapi, harganya lumayan mahal. Ada beberapa yang bagus menurut saya. Seperti panduan untuk jalan-jalan ke sebuah negara dan di sana lengkap dijelaskan tempat-tempat yang patut dikunjungi. Saya jadi tertarik menjadi travel writer. Mungkin saya akan meluangkan waktu untuk pekerjaan ini kelak jika ada sponsor yang mau menawari saya untuk membuat buku tentang jalan-jalan.

Please follow and like us:

ke Jakarta (lagi)

 

pelabuhan bakauheni

Sabtu pagi lalu (26/1), Saya ke Jakarta lagi. Saya berangkat sendiri dengan mengendarai sepeda motor. Mulai berangkat dari kampus kira-kira lewat pukul 9 pagi. Saat akan menghidupkan mesin motor, tiba-tiba ban motor saya terlihat kempes. Sepertinya pecah ban. Untung saja, saya belum jalan jauh.

Kira-kira perjalanan menghabiskan selama dua jam ke Pelabuhan Bakauheni sebelum menyeberangi Selat Sunda. Sesekali selama perjalanan ketika itu hujan gerimis. Saya kira bakal hujan deras. Tapi, beruntung tidak hujan deras. Saya lihat memang langit di atas terlihat awan hitam dan gelap.

 

Kira-kira kurang dari pukul 12 saya tiba di Pelabuhan Bakauheni. Seketika saat itu hujan deras saat saya baru membeli tiket masuk ke atas kapal penyeberangan ferry. Harga tiketnya Rp 29.000,-. Tapi, sebenarnya harga asli tiket itu Rp 27.000,-. Entahlah, sisanya untuk pajak parkir atau dikantongi si penjual tiketnya.

 

Di atas kapal, hujan gerimis masih mengguyur. Kendaraan pribadi menempati di bagian atas, termasuk motor saya. Terlihat sepi di saat itu. Di bagian dek bawah semuanya ditempati bus dan truk. Biasanya di tempat ini selalu bau pesing dan bikin nafas sesak karena sirkulasi udara hampir tidak ada.

 

Selama di atas kapal, saya berdiri di sisi kapal sambil memandangi laut dan beberapa pulau kecil yang kelihatan indah. Ada juga kapal cepat yang mengangkut penumpang. Kapal ini lebih cepat mengantar penumpang ke pelabuhan daripada kapal ferry penyeberangan. Kira-kira 45 menit lamanya.
***

 

Di Serang, saya baru bisa istirahat untuk salat dzuhur dan ashar (dijamak) sekitar pukul 3 sore. Saya kira bakal tiba di Jakarta lebih awal yang saya duga sebelumnya. Ternyata, perkiraan saya itu tidak tepat. Ketika masuk di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, kira-kira baru pukul 17.30.

 

Akhirnya sekitar pukul 19.30 WIB saya tiba di rumah kontrakan teman saya, Aziz. Saya menumpang di sana. Di rumah ada Fadli dan temannya, Andrew. Aziz belum datang. Sepertinya ia masih dalam perjalanan pulang dari STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Sebuah sekolah milik pemerintah yang lulusannya nanti akan bekerja pada Departemen Keuangan Republik Indonesia.

 

Perjalanan dengan sepeda motor sejak pukul sembilan pagi tadi, sungguh melalahkan. Panas, hujan, debu, belum lagi asap dari knalpot kendaraan bermotor serta kadang-kadang sepeda motor.

 

Kalau dihitung-hitung waktu perjalanan tadi cukup lama. Jam 9 pagi berangkat dan tiba jam setengah delapan di rumah Aziz. Kalau naik bus, kira-kira berapa lama ya perjalanannya? Entahlah, saya kurang tahu persis. Perjalanan dengan sepeda motor juga tidak selalu dapat dipastikan. Yang penting selamat sampai tujuan.

 

Kalau melihat para pengendara sepeda motor di Jabodetabek, rata-rata mereka punya nyali tinggi. Bayangkan saja, untuk menyalip mobil atau truk bisa dengan cepat meskipun dari arah depan ada mobil, bus atau truk. Kalau saya, masih pikir dua kali untuk menyalip dalam waktu singkat. Nekad namanya kalau tidak mempunyai perhitungan waktu yang tepat. Bisa-bisa malah kecelakaan yang terjadi. Ah, mudah-mudahan saja saya dijauhi dari kejadian kecelakaan.

Please follow and like us:

Busway atau TransJakarta?

Ini kisah (lanjutan) perjalanan saya ketika ke Jakarta, Sabtu lalu (30/12). Perjalanan singkat pertama yang pernah saya lakukan. Biasanya ke Jakarta sering menunggangi sepeda motor saya, Si Honda Legenda. Dengan sepeda motor biasanya menghabiskan waktu 8-9 jam perjalanan. Tapi, itu pun tergantung dengan kondisi cuaca, lama penyeberangan Kapal Ferry Selat Sunda, kemacetan lalu lintas dan keadaan sepeda motor. Beberapa posting waktu ke Jakarta bisa lihat di sini, di sini, dan di sini.

Yang menarik selama di Jakarta menjelang tutup tahun 2007 bagi saya, ketika itu mencoba Busway. Tapi, sebenarnya alat transportasi ini disebut Busway atau TransJakarta ya? Sering kali kita lebih akrab dengan sebutan “Busway” daripada “TransJakarta”. Saya coba cari di Google mengenai Busway. Tambah-tambah referensi di sini dan mungkin ketemu pengalaman salah satu blogger yang menggunakan fasilitas transportasi made in Sutiyoso ini. Continue reading “Busway atau TransJakarta?”

Please follow and like us: