Cerita Pesta Blogger 2008 yang ‘Basbang’

tertidur1

Seorang pria berkacamata duduk santai. Matanya sayu dan mengantuk. Ia menatap panggung dari kejauhan di deretan bangku lantai dua Auditorium Gedung BPPT II 3rd floor. Acara belum juga dimulai. Pria yang mengenakan kemeja biru ini pelan-pelan memejamkan mata ketika acara baru dibuka, sampai kemudian pada acara diskusi yang dimoderatori Enda Nasution. Ia tertidur. Bahkan ketika tidur, difoto seorang paparazi. Pria yang tertidur itu adalah saya sendiri 🙂

Pagi menjelang siang itu (Sabtu, 22/11) tampak keriuhan orang-orang di sekeliling. Mereka ada yang berfoto-foto dengan sejuta aksi ‘narsis’ dan ada pula yang asik ngobrol satu dengan yang lainnya. Singkat kata, mereka adalah para blogger dari seluruh Indonesia yang datang di acara Pesta Blogger 2008. Cerita dari Pesta Blogger 2008 ini membawa kisah bagi para blogger setelah kembali pulang ke rumah.

Continue reading “Cerita Pesta Blogger 2008 yang ‘Basbang’”

Please follow and like us:

I’m Going to Pesta Blogger 2008

logo-pb08[Sebenarnya posting ini saya unggah Jum’at siang kemarin. Tapi, ketika menulis di tengah jalan, tiba-tiba koneksi ‘seret’ aka disconnect. Jadi pagi ini (Senin, 24/11) saya unggah. Beberapa posting dari pengalaman mengikuti Pesta Blogger 2008 kemarin, akan saya tulis di sini. Tapi nanti, tidak sekarang. Hehehe..]

Beberapa saat lagi, saya akan berangkat ke Jakarta. Insya Allah saya akan hadir di acara Pesta Blogger 2008, hari Sabtu besok (22/11) di Gedung BPPT II Jakarta Pusat. Sebuah pertemuan akbar para blogger seluruh Indonesia (mungkin setiap daerah/provinsi ada yang mewakilinya,red) dari Aceh sampai Papua (ternyata tidak ada. Paling jauh dari Makasar).

Inilah pertemuan akbar kedua setelah sebelumnya pernah dilaksanakan pada 27 Oktober 2007. Hari itu pula ditetapkan sebagai Hari Blogger Nasional oleh Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh. Pada saat itu saya tidak bisa hadir karena masih berada di luar kota (Jawa Timur). Momentum tahun inilah saatnya, saya ingin bisa hadir di acara yang digawangi oleh Maverick dan Bubudotcom.

Continue reading “I’m Going to Pesta Blogger 2008”

Please follow and like us:

Persahabatan Blogger

Anda mungkin sering mendengar pepatah,”Tak Kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.” Lalu, malah ada yang menambahi,”tak cinta maka tak..”(silahkan menambahi titik-titik itu.hehe). Seperti itulah proses bertahap di saat orang mulai saling kenal-mengenal.

Kehadiran banyak teman menjadikan sebuah warna tersendiri untuk bisa saling berbagi bersama-sama. Tidak hanya suka, tapi kehadiran teman bisa mengobati duka. Mereka bisa mengobati menjadi senyum, gembira kembali dalam keceriaan.

Teman yang punya kesamaan hobi macam ngeblog pun belakangan ini sudah banyak. ‘Wadah’ mereka masing-masing mengekspresikan di dalam blog-nya. Menulis. Diskusi di milis. Bercanda. Tukar-pendapat. Padahal, mereka tidak saling bertemu (tatap muka) satu dengan yang lainnya dalam sebuah pertemuan.

Tapi, ketika para blogger yang sering bertemu di dunia maya itu ada keinginan saling bertemu secara langsung (para blogger akrab menyebutnya “kopdar”), mereka pun menggagas bertemu di darat. Bahkan, ada saja blogger dari jauh sekali pun benar-benar niat ingin bertemu. Tentunya tak sekedar bertemu saja, tapi disertai ‘bumbu’ acara makan-makan. Sepertinya sudah lazim ada acara kopdar, pasti ada acara makan-makan.

Continue reading “Persahabatan Blogger”

Please follow and like us:

Ditraktir

teman-bbs

Senin sore kemarin, kebetulan Johan, Ika, dan Intan mengajak Sony dan saya ke Pizza Hut di Tanjung Karang. Syaratnya, kata Intan, ngga boleh bawa motor. Sejenak bingung. Bengong. Kok ngga boleh bawa motor? Oh, Intan dan Ika juga ngga mau naik motor. Mereka bilang naik angkot saja.

Meskipun ada motor di luar sana sedang terparkir, tapi sore itu tak digunakan. Ya ngga apa-apa. Cuma untuk sore itu saja, ikhlas dan demi traktir ke PH. Johan yang juga punya motor seperti saya. Tapi, tidak ia gunakan. Hanya menambahi gembok di motornya sebelum kami berangkat, jalan kaki ke depan halte Unila, lalu naik angkot ke PH.

Continue reading “Ditraktir”

Please follow and like us:

Kopdar Wongkito di Lampung

wongkito kopdar di puskom unila

Baru satu bulan yang lalu tepatnya di acara Blogger Day tanggal 1 Mei 2008 di Ketty Resto Palembang Indah Mall, terakhir bertemu dengan mereka (Ibunk dan Ardy). Akhirnya kami (saya dan Idrus) yang kini sedang ‘berjuang untuk sesuap nasi di Lampung’, bisa bertemu kembali dengan mereka. Melepas rindukah? hehehe…berlebihan para ‘homok’ ini.

Kemarin Senin pagi (2/6), Ibunk dan Ardy (Pak Ketuo Wongkito) tiba di Bandarlampung. Mereka berangkat naik Kereta Api Limex Sriwijaya kelas eksekutif dari Kertapati Palembang pukul 9 malam. Kata mereka, baru tiba di stasiun Tanjung Karang, Bandarlampung sekitar jam setengah delapan. Wah, jadi pengen pulang ke Palembang nih 🙂

Continue reading “Kopdar Wongkito di Lampung”

Please follow and like us:

Penuhi Nazar, Rany Mengajak Makan di Rumahnya

 di rumah rany

Makan pempek atau sejenis makanan asli palembang sungguh nikmat. Apalagi disuguhi gratis dari seorang teman yang meraciknya sendiri. Jumat kemarin (7/3) siang hingga sore, saya dan teman-teman dari komunitas blogger Wongkito datang ke rumah ranny. Rumahnya di Komplek Tirta Kencana Palembang, ia bilang acara makan-makan di rumahnya sebagai sebuah bentuk rasa syukur atas nazar yang  telah jalaninya. Setelah saya tanya, ia enggan menjawab nazarnya. Rahasia, kata Rany.

Sebelum salat Jumat, baru Aulia, Saya dan Triana yang telah datang ke rumah Rany untuk membatu-bantu menyediakan hidangan makanan khas Palembang. Sedangkan yang lainnya belum ada yang datang.

Baru setelah salat Jumat, satu per satu baru datang. Ada Jafis datang sendiri dengan mengendarai sepeda motor yang suara knalpotnya memekakkan telinga satu kampung. Berikutnya datang Cherry pun juga datang sendiri. Tak lama kemudian datang pasangan Pak Alam dengan sang istri, Nike.

Continue reading “Penuhi Nazar, Rany Mengajak Makan di Rumahnya”

Please follow and like us:

Pantai Mutun yang Bikin Mutung

kagum

Pernah main ke pantai? Wah, rugi kalau ngga pernah ke pantai. Apalagi pemandangan di pantai dan lautnya itu indah. Semburan ombaknya sesekali menghembus ke bibir pantai. Suara ombak yang begitu sejuk terdengar dibarengi dengan tiupan angin sepoi-sepoi menjadi sedikit terasa sejuk meskipun matahari mulai berada di atas kepala. Sinarnya semakin terasa menyengat kulit.

Pagi menjelang siang kemarin (Minggu, 2/3), saya dan teman-teman: Gigih, Harid, Risti, Winwin, Bayu, Redha, Arka, dan Geri, pergi ke Pantai Mutun. Lokasinya cukup jauh. Untuk mencapai ke pantai itu, kita menempuh dengan sepeda motor dengan jarak sekitar 18 km dari pusat kota Bandar Lampung. Kami mulai berangkat bersama-sama dari Puskom Unila.

Continue reading “Pantai Mutun yang Bikin Mutung”

Please follow and like us:

Kopdar Wongkito yang Ketiga Makin Ramai

kopdar wongkito ketiga

Awan mendung tiba-tiba menampakkan sosok matahari dan memancarkan sinarnya yang cukup menyengat kulit, Sabtu siang kemarin. Tapi, setelah saya masuk di depan pintu Mall Palembang Square (PS), agak terasa lega. Udara yang cukup dingin dari AC mengeruap di dalam mall berlantai tiga itu menyejukkan sekujur tubuh saya.

Selama perjalanan mengendarai mobil Taft Daihatsu warna merah tahun 1970-an milik ayah saya, tidak pernah menggunakan AC sama sekali. Jadi, wajar saja terasa agak panas. Satu-satunya cuma mengandalkan angin sepoi-sepoi dari balik jendela mobil. Ditemani Triana setelah menjemputnya dulu di rumahnya dekat Komplek Pusri. Lalu, menjemput Kiki, teman sebaya Triana yang kebetulan sedang latihan teater di SMP Kartika, sekitar 100 meter dari Pasar Lemabang. Kami bertiga langsung menuju Restoran Solaria di mall PS.
Triana Haryani nama lengkapnya. Ia lulusan SMA Negeri 5 Palembang tahun 2006. Sekolah/almamater yang sama dengan saya juga. Tri, begitu biasa saya memanggilnya, tutur katanya sopan dan suaranya lembut. Nyaris tak terdengar. Meskipun masih muda, Ia kini sudah bekerja di sebuah lembaga pendidikan komputer cukup terkemuka di Palembang.

Sedangkan Kiki, adiknya Pandu yang juga teman satu angkatan saya waktu SMA dulu, kebetulan diajak Tri ikut bersama di acara kopi darat atau kopdar. Dalam istilah kopdar, dikatakan wikipedia Kampung Gajah, artinya bertemu langsung di darat, tidak lagi di udara atau via internet. Dulu istilah kopdar sering akrab digunakan para ‘breaker’ atau pengguna komunikasi handy talky (HT) dan juga radio amatir. Seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, maka istilah kopdar sepertinya lebih melekat pada komunitas blogger.

Ramai orang hilir-mudik. Padahal, mall itu cukup luas dan besar. Tetap saja kalau ramai, rasanya kalau jalan terasa kurang leluasa. Di beberapa gerai makan tampak ramai orang makan di sana ketika saya berada di lantai satu. Rencananya kita akan kopdar di lantai tiga. Tapi, kemudian saya menduga pasti akan lebih ramai lagi para pengunjung yang makan di sana.

kopdar juga

Sesampai di lantai tiga, tidak sulit menemui tempat acara kopdarnya. Tampak dari depan banyak orang tengah mengisi tempat duduknya masing-masing sambil menikmati santapan makanan yang dipesannya. Berjalan penuh pasti masuk ke dalam Restoran Solaria, akhirnya beberapa teman sudah duduk-duduk dan menunggu kedatangan kita di sana (kayak pejabat aja ya. Hehe..). Padahal, masih ada yang belum tiba tepat waktu yang dijanjikan pukul dua siang.Terlihat enam meja putih saling dirapatkan. Sebuah tulisan “Reserved” di atas meja itu. Warnanya ungu, sama seperti warna dinding di tempat itu. Barangkali warna khas Restoran Solaria yang cukup artistik menempati di mall ini. Saya duduk di sebelah Aulia dan Ibunk. Ada Ardy ketawa-ketiwi dengan para pendamping setianya, Rahmat, Petrus dan Mumud. Yang cukup mengagetkan saya mendengar celetukan Ardy menyebut Petrus dengan Mr P. (Haha…maaf buat Petrus, bukan maksud menertawakan Petrus, ini sekedar guyonan dan banyolan). Entahlah, guyonan macam-macam sudah ‘mengocok’ perut mereka.

Acara yang ditunggu sebelum diskusi dan bahas-bahas yang lain, memesan makanan dan minuman. Sebelum berangkat, dari rumah memang sudah sengaja meninggalkan perut kosong untuk makan di Solaria. Ini kedua kali saya makan di sana. Yang pertama ditraktir Aziz, teman saya yang baru menikah Sabtu kemarin dan mengajak teman-teman dekat lainnya sekitar tujuh orang.

Kebanyakan para pelayan di restoran itu adalah perempuan. Semuanya mengenakan seragam berwarna hitam dan ber-makeup seperti akan kondangan. Ya, terlihat seperti Sales Promotion Girl/SPG kosmetik dengan mata bercelak, bibir berlipstik, dan bedak tebal menutupi permukaan kulit wajahnya.

Yang mengherankan buat saya, jika telah memesan makanan dan minuman yang kita inginkan, sang pelayan akan menghitung total jumlah biaya yang kita pesan, kemudian meminta membayar langsung. Saya malah baru tahu makan di tempat ini harus membayar dulu, baru makanan dan minuman dibuat sang koki di dapur lalu segera dihidangkan. Agaknya, memang harus menunggu cukup lama pesanan yang kita inginkan jika saat itu sedang ramai pengunjung. Seperti waktu itu, pengunjung lumayan ramai dan kita cukup lama menanti satu per satu hidangan datang ke meja kita.

Ardy, sang ketua Wongkito, berinisitif memulai berbicara di depan teman-teman yang dihadiri sekitar 26 orang. Ini Kopdar terbanyak yang pernah diadakan. Satu per satu mendapat giliran memperkenalkan diri, meskipun ada beberapa blogger yang (mungkin) baru pertama kali ikut kopdar ini.

Karena banyaknya yang hadir, agaknya sulit sekali mendengar secara khusuk penjelasan dari Ardy, Mumud dengan ID card-nya, Jafis dengan rencana buat profile Wongkito, dan Wahyu dengan recana bersilahturahmi dengan Walikota Palembang untuk mengenalkan komunitas Blogger Palembang (Wongkito). Agak samar-samar mendengar mereka bicara satu per satu, karena ramai suara pengunjung lain yang ada di sana.

Tak banyak diskusi dan pembahasan ketika itu, tapi saya cukup senang bisa bertemu dengan teman-teman blogger yang kebanyakan berdomisili di Palembang. Ternyata, saya masih menjadi tamu paling jauh yang hadir di acara kopdar ketiga ini. Mudah-mudahan kopdar keempat mendatang bisa bertemu lagi ya. Mohon maaf teman-teman yang di seberang meja nun jauh di sana tak sempat berbincang dan berbagi cerita. Konferensi Meja “L” kita cukup ramai kan? Hehe..

Please follow and like us:

Kopdar (lagi) di Rumah Kayu

makan malam di rumah kayu

Kopdar lagi. Tidak ada hari tanpa kopdar untuk minggu ini. Kopdar malam kedua ini kembali menemani Ibunk, teman kopdar saya dari Palembang. Saya mengajak Geri agar bisa ketemu dengan Ibunk. Sekalian mengajak makan malam dan merasakan suasana Kota Bandar Lampung pada malam hari.

makan2

“Mau makan dimana ya?”pikir saya. Tiba-tiba teringat tempat makan yang cukup bagus dan nyaman. Waktu itu yang ikut Sony, Redha, Geri, Arka dan saya. Sebuah pondok santap dengan menu hidangan makanan ikan bakar. Selain itu pula ada makanan Sea Food. Menu-menu lainnya cukup banyak. Namanya “Rumah Kayu”. Barangkali masyarakat kota sini sudah cukup mengenal pondok santap itu. Sebab, hampir setiap malam di sana ramai pengunjung yang hendak menikmati masakan ikan bakar dan menu-menu lainnya yang enak dan lezat. (Foto di atas: perdana makan di Rumah Kayu)

abahoryza makan

Suasana dari luar cukup ramai kendaraan bermotor parkir. Dari arah depan saat akan masuk, ada sebuah kolam yang berisi ikan-ikan gabus besar. Semburan seperti air dari dinding mengalir deras. Seolah seperti berada di sekitar air terjun. Sambil jalan masuk melewati jembatan kolam tadi, dua orang pelayan wanita menghampiri kami bertiga. Bertanya sebentar, kemudian kami di antar ke meja yang berada di dalam.

Saat berada di dalam pondok santap itu, saya seperti berada di sebuah kebun. Banyak pohon yang rindang, tapi tidak terlalu tinggi. Ada taman yang tertata rapi, serta banyak gubuk atau gazebo yang dihiasi lampu di sana. Pengunjung terlihat asik menyantap makanan yang di hidangkan buat mereka. Malam itu cukup ramai.

menu

Ini yang kedua kalinya saya datang ke Rumah Kayu. Tidak diragukan memang masakannya lezat. Ikan Bakar Gurame Pedas, salah satu hidangan yang pernah saya coba. Saya tanya Ibunk penasaran,”Bunk, di Palembang ada gak tempat kayak gini?” kata Ibunk,”wah..kayaknya gak ada,Rik”. Saya kira di Palembang, tempat saya lahir, ada tempat seperti ini. Tapi, sayang sekali kalau tidak ada. Mungkin pondok santap seperti di Rumah Kayu ini ada di Palembang, menarik juga, pikir saya. Prosepek usaha bagus untuk dikembangkan. Melihat hampir setiap malam selalu saja ramai pengunjung. Bahkan, bukan di saat hari libur pun ramai dikunjungi banyak orang.

Soal harga, saya kira tidak terlalu mahal. Cukup ideal dengan masakan yang enak dan tempat yang nyaman juga suasana indah seperti berada di sebuah kebun. Kalau sudah pernah mencoba makan di sini, rasanya ingin mencoba lagi.

Please follow and like us:

Kopdar Wongkito di Lampung

ibunk

Ibunk, teman dari Komunitas Blogger Palembang (Wongkito), datang ke Bandarlampung. Semalam (Rabu, 16/1), ia mengirim pesan singkat kepada saya. Katanya, ia menginap di Hotel Andalas selama dua malam. Kesempatan tidak disia-siakan, ia mengajak saya kopi darat atau kopdar.

Kopdar mendadak. Saya coba mengontak Gery, teman saya yang sedang ‘ngebet’ membentuk Komunitas Blogger Lampung. Tapi, beberapa kali saya coba menghubunginya selalu gagal. “Ah..ya sudahlah, gua berangakat sendiri ke sana,”celetuk saya. Pesan singkat kembali mempir ke HP saya. Ibunk tanya, jam berapa saya akan ke hotelnya. Saya balas, sesegera mungkin. Sekitar ba’da Isya, saya langsung meluncur ke hotel tempat Ibunk menginap.

Tidak sulit saya mencari Ibunk. Setelah tiba di hotel, saya masuk ke ruang lobi hotel. Ibunk sedang asik mengutak-atik PDA-nya. Saya sapa ia dari arah belakang punggungnya belakang. Ngobrol sebentar, saya ajak ia makan di Sate Cak Umar. Tidak jauh dari hotel itu.

sate

Di tempat yang cukup rileks ini, kami ngobrol banyak sambil menunggu hidangan sate kambing dua porsi yang kami pesan. Suasananya cukup menyenangkan. Aroma sate yang sedang dibakar mengeruap hingga terhirup. Waktu itu, terlihat pengunjung yang makan di sana agak sepi. Bangku-bangku banyak yang kosong. Saya dan Ibunk memilih tempat duduk dekat parkir. Lumayan bisa lihat-lihat suasana di jalan dan sekitarnya.

Semua hidangan sate kambing kami lahap dengan santai. Tidak terasa sudah habis, tapi ngobrol tetap berjalan terus. Satenya enak dan empuk. Tak ada kami meninggalkan sedikit pun kecuali tusuk-tusuk satenya. Ibunk malah ingin pesan minuman lagi. Tapi, saya bilang tidak perlu. Kita ngobrol sampai sekitar pukul 10 malam.

sate

Rasanya ingin kembali mencoba makan sate di sana lagi suatu saat. Harganya cukup terjangkau. Satu porsi sate kambing Rp10.000. Kalau ingin sate spesial kambing harganya Rp.12.000,-. Tak begitu mahal bukan? Kalau ingin mencoba, lokasi Sate Cak Umar ini terletak di Jalan Raden Intan, sebelah Hotel Kurnia Bandarlampung.

Oh ya, ucapan terima kasih yang istimewa buat Ibunk yang telah mengundang kopdar dan traktirnya yang menyenangkan. Mudah-mudahan kita bisa kopdar lagi di Palembang atau di Lampung.

Please follow and like us: