Perjuangan Pulang Dikepung Banjir

image
Hujan deras 2-3 jam di Palembang, Minggu (15-3), menyebabkan sejumlah daerah banjir & resepsi nikah terganggu. (Foto: Koran Sripo, Senin (16-3))

Hujan deras pagi hari Minggu kemarin (15-3), sejak pukul 9 sampai pukul 11 lebih, mengakibatkan banjir di sejumlah daerah di Palembang.

Saya dan istri saya pada waktu sebelum hujan turun, sedang berada di Pasar Satelit Sako Palembang. Memang pagi itu awan kelihatan mendung dan hanya rintik-rintik air hujan kecil.

Tiba di pasar, sekitar 15 menit hujan turun derasnya. Saya lagi di toko ikan hias. Sedangkan istri saya di dalam pasar membeli beberapa kebutuhan.

Continue reading “Perjuangan Pulang Dikepung Banjir”

Please follow and like us:

Jurnalis itu Tukang Peras!

Delapan puluh persen wartawan/jurnalis adalah pemeras! Demikian menurut Rosihan Anwar, jurnalis senior tiga jaman (Kompas, 22 Mei 2010).

Barangkali apa yang diungkapkan Rosihan menunjukkan betapa memprihatinkan keadaan dunia wartawan kini yang berprofesi ganda. Tukang peras!

Sayangnya Rosihan tidak menjelaskan lebih banyak soal ini. Busuknya prilaku oknum wartawan yang memeras narasumber, sedikit sekali yang diberitakan di media massa. Seolah narasumber merasa tidak berdaya diancam oknum wartawan dengan cara memberitakan ke medianya. Menyerahkan sejumlah uang kepada oknum wartawan menjadi jalan terakhir itu.

Continue reading “Jurnalis itu Tukang Peras!”

Please follow and like us:

Firewall

SEORANG guru jurnalisme dan sekaligus senior saya dulu pernah bilang (begini kira-kira),”berita dan iklan dipisahkan oleh firewall.” Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, firewall itu tembok api atau pagar api.

Tak bisa dipungkiri rezim kebijakan kantor redaksi di sebuah surat kabar, di tempatnya bekerja kini, tidak bisa mewujudkan seperti apa yang pernah dia katakan seperti di atas. Berita dan iklan di surat kabar itu tidak memiliki (firewall) batas secara tegas yang memisahkannya. Mungkin pembaca surat kabar sudah paham hal itu.

Continue reading “Firewall”

Please follow and like us:

Media Dikuasai Pemilik Modal

PERUSAHAAN media massa di Indonesia tidak terlepas dari ‘cengkraman’ pemilik modal yang punya kepentingan di dalamnya. Di jaman kebebasan pers Indonesia seperti sekarang, pemilik modal melancarkan pengaruh dan kepentingan melalui perusahaan media yang dikelolanya.

Sama halnya dengan sebuah perusahaan yang didirikan pemilik modal dan bertujuan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya melalui perusahaan itu. Namun yang membedakan dengan perusahaan media massa adalah tanggung jawab moral dan sosial mereka terhadap masyarakat. Masyarakat sangat berharap terhadap pers yang dapat menumbuhkan demokrasi yang selaras dan tercapainya tujuan kebebasan berpendapat yang dilindungi undang-undang.

Pers sebagai pilar demokrasi keempat, tentu menjadi pengawal jalannya pemerintahan (eksekutif) agar bersih dan transparan. Sehingga jalannya pemerintahan yang telah diamanahkan oleh masyarakat tersebut, harus sepenuhnya dijalankan dengan asas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (Pancasila sila kelima, red). Hal ini menjadi tugas pers menjembatani masyarakat dengan pemerintah. Apakah pemerintah berjalan sesuai amanah atau sebaliknya? Jika pemerintah ada indikasi menyimpang atau tidak amanah, maka tanggung jawab pers untuk mengungkapnya ke publik.

Continue reading “Media Dikuasai Pemilik Modal”

Please follow and like us:

“Kompas” pada Usia ke 44 Tahun di Mata Saya

44-tahun-kompasSuatu sore di sebuah perempatan lampu merah di jantung ibukota,  saya melihat beberapa loper koran menjajakan koran dan majalahnya kepada para pengendara kendaraan bermotor.  Sekilas tampak dari jauh, koran Kompas diapit beberapa koran dan tabloid lainnya. Dengan sigap saya melambai kepada penjual koran itu menandakan bahwa saya ingin beli koran. Saya tahu bahwa koran Kompas sedikit lebih mahal daripada koran nasional lainnya. Tapi, saya tak perhitungan untuk membeli koran Kompas meskipun harganya beda Rp 500-1.000,- per eksemplar dengan koran lain.

Isi dan harganya (kini Rp 3.500 per eksemplar) menurut saya sudah seimbang dengan beragam tulisannya yang berbobot dan bermutu. Bahkan tak jarang untuk membaca 36 halaman (kadang-kadang hari tertentu bisa mencapai >36 halaman) koran Kompas ini, saya sering tak tuntas. Hanya beberapa rubrik pilihan saja yang saya baca, seperti: Tajuk Rencana, Opini, Pendidikan dan Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan Sosok. Itu tadi rubrik senin-sabtu. Kalau hari minggu saya suka membaca rubrik Kehidupan, Hobi dan Komunitas, Urban, dan Parodi yang ditulis Samuel Mulia.

Tulisan saya di blog ini hanya menceritakan kekaguman saya terhadap Kompas sebagai media cetak pilihan saya. Tidak ada permintaan dari pihak Kompas agar saya menulis testimoni tentang Kompas. Saya menulis tentang Kompas hanya menunjukkan apresiasi saya terhadap koran ini yang tepat merayakan hari ulang tahunnya ke-44. Lalu, mengapa saya memilih Kompas? Continue reading ““Kompas” pada Usia ke 44 Tahun di Mata Saya”

Please follow and like us: