Kapan saat yang tepat menulis?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kapan saat yang tepat Anda menulis? Kalau saya menulis memilih pada waktu malam hari. Terserah jam berapa saja. Asalkan belum mengantuk dan tidak kesibukan lainnya. (Lah!? sibuk apaan malam-malam?).

Dulu ketika masih aktif di organisasi pers mahasiswa (namanya “UKPM Teknokra“. UKPM kepanjangan dari Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa), teman-teman mulai dari senior yang ‘menularkan virus’ begadang. Ya, menulis pada waktu malam hari. Ada yang sambil merokok dan minum kopi. Wah!! rasanya punya sensasi berbeda deh!

Meskipun ‘virus’ ini menulari saya, tidak serta ikut tertular dengan merokok. Saya sudah ‘nawaitu’ tidak akan merokok. Entah bagaimana pun mau ditawari rokok jenis apa pun. Kalau kopi, ya bolehlah!! Kopi yang benar-benar telah berhasil ‘meracuni’ saya. Beruntung tidak sampai lebih dari satu gelas sehari.

Continue reading “Kapan saat yang tepat menulis?”

Please follow and like us:

Sebuah Pengabdian Terakhir

Pengantar
Di dalam pembuka buku: “Teknokra: Jejak Langkah Pers Mahasiswa”, pers mahasiswa atau pers kampus mahasiswa di Indonesia pernah menapaki masa gemilang dan keemasan pada era pers terbelenggu tirani kekuasaan dan hegemoni pemerintahan yang terlalu kuat tanpa penyeimbang. Sehingga fungsi pers sebagai kontrol sosial mengalami masa nadirnya. Saat-saat ini, menjadi momentum bertumbuhan pers mahasiswa yang harum namanya dan dicari-cari karena keberhasilan isi tulisannya (Gofur dkk, 2010).

Menjadi bagian terkecil di dalam sebuah organisasi pers mahasiswa telah banyak memberi arti penting dalam perjalanan hidup saya kala itu. Tak hanya merasakan bertambahnya ilmu akademik karena kewajiban sebagai mahasiswa memang harus kuliah. Namun di samping itu, saya ‘kuliah’ hingga larut malam (bahkan sampai esok paginya lupa mandi dan gosok gigi, red) di pojok itu. Teman-teman menyebutnya Pojok PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa). ‘Serpihan’ kecil-kecil kehidupan yang ternyata mendidik karakter pribadi menjadi tangguh dan survive.

Sebuah cerita lama (hampir empat tahun lalu, red), ini ingin saya kisahkan di ruang blog. Ya ini sekelumit cerita (LPj,red) menutup pengabdian di organisasi ‘gila’ itu. Mengapa saya sebut organisasi ‘gila’? Di cerita berikutnya akan saya bagikan untuk Anda. Selamat membaca.

Continue reading “Sebuah Pengabdian Terakhir”

Please follow and like us:

Cerita di Bawah Pohon

Ini bukan cerita di bawah pohon cemara seperti dengung lagu anak-anak naik-naik ke puncak gunung. Bukan itu. Bukan pula cerita luar biasa yang ‘menggemparkan’ dunia pemberitaan media cetak maupun elektronik di tanah air Indonesia. Ah, sebenarnya ini cuma sepotong cerita tidak menarik. Tapi tiba-tiba suara bisikan ‘memerintah’ saya agar menceritakannya.

Matahari sebentar lagi tepat berada di atas kepala. Kira-kira siang itu masih pukul 12 kurang. Sepeda motor berwarna biru tipe bebek diparkir tak jauh dari meja makan sebuah kedai makan. Meja panjang dan beberapa kursi plastik itu berada di luar dan dilindungi oleh pepohonan seakan menjadi atap peneduh buat para pengunjung yang makan di kedai itu.

Ada sekumpulan mahasiswa ngobrol sambil menikmati hidangan makan siang mereka. Kadang-kadang tertawa puas. Sampai-sampai kedua matanya terpejam sendiri. Ada lagi seorang mahasiswa baru tiba ditemani seorang mahasiswi, kemudian menempati tempat duduk sisi kanan. Mereka pesan makan ke penyaji, lalu larut dalam obrolan.

Continue reading “Cerita di Bawah Pohon”

Please follow and like us:

Mengunjungi Taman Kupu-kupu Gita Persada

Berbagai jenis kupu-kupu ada di dalam sebuah penangkaran yang menempati lahan seluas 4,8 Ha di kaki Gunung Betung, Desa Tanjung Manis, Kemiling, Bandar Lampung. Ketika saya datang ke sana, Senin lalu (7/7) bersama teman saya, Arka dan Redha, di depan pintu masuk terbuka, tapi terlihat sepi dan tak ada orang di sana. Setelah masuk ke dalam, saya hanya melihat sebuah motor yang diracik seperti motor cross, bersandar di sebelah pohon.

Sebuah rumah berdinding kayu terlihat masih kokoh. Dari dalam rumah itu baru muncul seseorang. Kang Aseb, biasa dipanggil seperti itu. Ia orang Sunda. Arka mengenalnya sebagai penjaga di sana. Mereka berdua tampak bercakap bahasa Sunda. Tak sepotong kata pun saya mengerti bahasa asal Jawa Barat ini.

Kami bertiga berangkat dengan sepeda motor dari kampus. Saya sendirian, Arka dan Redha berboncengan berdua. Sepanjang jalan di kaki Gunung Betung menuju lokasi ini, udara terasa sejuk meskipun saat itu cuaca sedang cerah. Maklum, ketinggian di lokasi itu 460 meter di atas permukaan laut. Jalan beraspalnya agak sempit dan berliku-liku. Maklum saja jalan di kebanyakan di daerah gunung pasti berliku-liku.

Continue reading “Mengunjungi Taman Kupu-kupu Gita Persada”

Please follow and like us:

Kopdar Wongkito di Lampung

wongkito kopdar di puskom unila

Baru satu bulan yang lalu tepatnya di acara Blogger Day tanggal 1 Mei 2008 di Ketty Resto Palembang Indah Mall, terakhir bertemu dengan mereka (Ibunk dan Ardy). Akhirnya kami (saya dan Idrus) yang kini sedang ‘berjuang untuk sesuap nasi di Lampung’, bisa bertemu kembali dengan mereka. Melepas rindukah? hehehe…berlebihan para ‘homok’ ini.

Kemarin Senin pagi (2/6), Ibunk dan Ardy (Pak Ketuo Wongkito) tiba di Bandarlampung. Mereka berangkat naik Kereta Api Limex Sriwijaya kelas eksekutif dari Kertapati Palembang pukul 9 malam. Kata mereka, baru tiba di stasiun Tanjung Karang, Bandarlampung sekitar jam setengah delapan. Wah, jadi pengen pulang ke Palembang nih 🙂

Continue reading “Kopdar Wongkito di Lampung”

Please follow and like us:

Memberi Materi Jurnalistik di Fakultas Kedokteran

pelatihan jurnalistik kedokteran unila

Dari judul yang saya buat di atas cukup panjang. Padahal, saya suka memberi judul posting di blog dengan yang pendek dan singkat. Tapi, ya ngga apa-apa. Sebuah judul tulisan mewakili isi keseluruhan tulisan. Sesekali saja.

Sabtu siang kemarin (24/5), saya diminta Exsa untuk mengisi pelatihan jurnalistik untuk teman-teman persiapan Fakultas Kedokteran Unila. Saya memberi materi pengenalan jurnalistik dan dapur redaksi. Ada delapan mahasiswa yang ikut kelas pelatihan yang saya ampuh ini. Lima cewek dan tiga cowok. Satu lagi Exsa, senior mereka dan juga pernah di BEM FK Unila.

Awalnya saya diminta Exsa untuk membimbing adik-adik tingkat mereka (angkatan 2006,red) untuk membentuk sebuah lembaga pers mahasiswa (LPM) di fakultas mereka. Saya menyambutnya positif dan mendukungnya. Berarti akan bertambah LPM fakultas di FK. Setidaknya saya pernah bilang ke Exsa, masing-masing fakultas memiliki kekhasan dalam menyajikan medianya untuk teman-teman di fakultasnya. Karena segmentasi mereka terbatas di fakultas masing-masing.

Continue reading “Memberi Materi Jurnalistik di Fakultas Kedokteran”

Please follow and like us:

Mantan Rektor Unila Jadi Calon Gubernur

muhajir calon independen

Ia bernama Prof.Dr.Ir.Muhajir Utomo,M.Sc. Dari sekian banyak gelar akademis yang disandangnya itu, orang langsung mengira ia adalah seorang akademisi (dosen atau guru besar). Tentu saja. Apalagi menyandang gelar profesor.  Tak sembarang orang memiliki gelar itu kalau ia tidak mengajar sebagai dosen di universitasnya.

Saya mulai saling kenal dengan Pak Muhajir (begitu saya menyapanya,red) ketika saya dipercaya teman-teman sebagai Pemimpin Redaksi UKPM Teknokra Universitas Lampung (Unila) pada tahun 2006 lalu. Waktu itu ia adalah (masih) orang nomor satu di Unila (rektor,red). Siapa yang tak kenal ia. Dari mulai mahasiswa, karyawan hingga dosen di kampus hijau itu (sebutan bagi kampus Unila).

Namun, Pak Muhajir pada awal tahun 2007 kemarin tidak lagi menjabat sebagai rektor Unila. Masa pengabdiaannya selama dua periode (1998-2002) dan (2003-2007) telah habis dan digantikan ‘juniornya’ Prof.Dr.Ir.Sugeng P.Harianto,M.S. Seorang guru besar dari Fakultas Pertanian Unila dan sebelumnya pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unila. Keduanya sama-sama berasal dari tempat kelahiran yang sama (Pringsewu, Tanggamus).

Continue reading “Mantan Rektor Unila Jadi Calon Gubernur”

Please follow and like us:

Pelatihan Blog Tingkat Dasar Episode Dua

pelatihan

Sosialisasi tentang blog perlahan-lahan mulai dikenalkan di kampus saya. Karena melihat perkembangan blog yang belakangan ini sudah mulai cukup dikenal banyak masyarakat, maka sudah seharusnya pengenalan tentang blog di kampus saya pun dimulai. Bukan sekedar tren sesaat seperti social networking macam situs friendster dan facebook. Blog yang ditulis secara personal memiliki pengaruh besar di dunia maya.

Inisiatif pentingnya memiliki blog ternyata telah dimulai teman-teman BEM KBM Unila dengan mengadakan workshop membuat blog tingkat dasar untuk mahasiswa yang diadakan beberapa waktu yang lalu. Ketika itu peserta yang ikut tidak hanya mahasiswa Unila saja, tapi sebagian ada mahasiswa dari Metro, sebuah kota yang berjarak sekitar 50 KM dari Kota Bandar Lampung. Waktu itu saya yang diminta sebagai instruktur pelatihan blog yang diadakan dari pagi hingga sore itu.

Continue reading “Pelatihan Blog Tingkat Dasar Episode Dua”

Please follow and like us:

Pentas Teater Gebyar Wajah Baru 2008 “Kamboja di Atas Kursi Goyang”

teater unila

Suatu pagi Lina masih berbaring tidur pulas di atas kursi sofa panjang. Ia malas bangun, meskipun ibunya berkali-kali membangunkannya. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit. Ibunya, Marni, lagi-lagi membangunkan anaknya. Namun, tetap saja Lina yang seorang mahasiswi Seni Rupa ini malas bangun.

“Lina, bangunlah kau!! Sekarang sudah pagi. Matahari sudah di atas kepala kita,”ujar ibunya sedikit keras membangunkan anaknya.

“Aahh…mami, aku tadi tidur jam empat pagi,”kata Lina yang mulai kesal sambil mengusap-usap matanya.

Continue reading “Pentas Teater Gebyar Wajah Baru 2008 “Kamboja di Atas Kursi Goyang””

Please follow and like us:

Tulisan ‘Memalukan’ di Perpustakaan FISIP UI

tulisan di perpus fisip ui

Yth.Bapak Rektor dan Dekan FISIP UI

Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak-bapak jika sempat membaca posting saya ini. Tidak ada maksud dari hati yang paling dalam ini untuk mempermalukan Universitas Indonesia (UI) sebagai perguruan tinggi negeri terfavorit di Indonesia dengan menulis tentang apa yang saya lihat di UI.

Ceritanya, senin kemarin (28/1), saya sempat mampir ke Perpustakaan Fisip UI untuk sekedar mencari dan membaca buku-buku. Suasana siang itu yang sejuk oleh AC dan cukup ramai dengan para mahasiswa yang ada di sana. Ada yang sibuk mencari buku-buku di rak-rak. Ada yang duduk-duduk di lantai sambil membaca skripsi. Hampir semua meja baca penuh dengan mahasiswa. Ada yang sibuk mengetik di laptopnya, ada yang sekedar mencatat dari buku-buku yang dibawanya ke mejanya, dan ada pula yang dengan asik browsing internet dari laptopnya.

Tapi, ada satu meja sempat kosong. Kemudian saya menempati meja itu dan membuka buku-buku yang saya ambil dari sebuah rak buku. Alangkah kagetnya, Saya menemukan banyak (coretan pena) tulisan di meja itu. Entahlah, hanya kebetulan meja yang saya tempati itu saja yang dicoret-coret atau ada juga meja lainnya yang dicoret-coret? Saya yakin yang mencoret-coret dengan pena ini adalah mahasiswa yang katanya intelektual muda. Tapi, kok alangkah tidak etis menulis seperti ini. Apalagi di sebuah perpustakaan sebagai gudangnya ilmu. Terlebih lagi perpustakaan ini mengangkat nama besar Almarhumah Miriam Budiarjo, Guru Besar Ilmu Politik UI sebagai Miriam Budiarjo Resource Center.

Sebenarnya saya malu membaca coretan itu. Bagaimana jika sewaktu-waktu ada Pak Menteri Pendidikan Nasional datang ke sana dan kebetulan ia menemui tulisan seperti itu? Mudah-mudahan kejadian seperti ini menjadi pelajaran bagi para petugas perpustakaan agar memperhatikan kebersihan meja yang dicoret-coret para mahasiswanya. Saya juga sebenarnya hampir tidak percaya yang menulis seperti ini dilakukan mahasiswa UI sendiri.

Mudah-mudahan tulisan saya ini ditanggapinya serius agar nantinya tidak terjadi lagi ‘aksi coret-coret’ di meja oleh tangan oknum yang tidak bertanggungjawab ini. Mari kita jaga sama-sama Miriam Budiarjo Resource Center lebih dirawat lagi.

Please follow and like us: