Batiqa Hotel Palembang: Hotel di Pusat Kota “Quality A”

image
Batiqa Hotel Palembang tampak dari luar

Kota Palembang kini semakin maju dan berkembang. Di hampir sudut kota, dari taman kota, infrastruktur jalan yang diperlebar dan diaspal sampai bangunan-bangun dibangun untuk mal dan hotel terlihat semakin apik. Kota Palembang ternyata menjadi daya tarik bagi banyak orang. Tidak hanya bagi warga Palembang sendiri, bahkan warga luar Palembang karena memiliki potensi yang besar.

Continue reading “Batiqa Hotel Palembang: Hotel di Pusat Kota “Quality A””

Please follow and like us:

Pergi-Pulang dengan Pesawat Terbang (2)

Soekarno-Hatta International Airport. (sumber foto: wikipedia).

Alhamdulillah pesawat Sriwijaya Air yang saya tumpangi tiba di Soekarno-Hatta International Airport, siang itu dengan lancar dan tidak ada kendala. Turun dari pesawat saya salah satu yang termasuk rombongan terakhir (nasib duduk di dekat jendela biasanya belakangan turun pesawat).

Turun dari pesawat melihat beberapa pesawat yang terparkir membuat saya takjub dan mata tidak hentinya melihat sekeliling lapangan terbang. Sebelum ambil barang dari bagasi pesawat, rasanya kurang “plong” kalau belum singgah ke toilet (hehe). Di tempat pengambilan barang bagasi pesawat, memang sudah tersedia dan ada informasi di layar LCD di tempat tersebut untuk mengambil barang-barang dari Pesawat kode penerbangan “anu”. Tidak lama kira-kira 3-5 menit tiba di sana, saya langsung menemukan satu barang saya berjalan ke arah saya dan langsung saya tangkap untuk dibawa keluar.
Continue reading “Pergi-Pulang dengan Pesawat Terbang (2)”

Please follow and like us:

Pergi-Pulang dengan Pesawat Terbang (1)

image
Pesawat sedang siap take off dari Sultan Mahmud Badarudin II Airport (foto dukumen pribadi)

Pagi itu, Kamis (29/01), Bandara Sultan Mahmud Badarudin II Palembang tampak lengang. Kendaraan mobil untuk mengantar para penumpang yang turun di drop stop terminal kedatangan, tampak relatif tidak terlalu ramai. Sesekali mobil berhenti sebentar menurunkan penumpang, kemudian segera pergi.

Saya datang di terminal kedatangan dari rumah diantar tetangga naik sepeda motor pagi itu. Cukup jauh ternyata jarak dari rumah ke bandara. Kira-kira 30-40 menit perjalanan. Itu naik motor. Entah berapa lama waktu perjalanan jika naik mobil?

Continue reading “Pergi-Pulang dengan Pesawat Terbang (1)”

Please follow and like us:

Melihat Jakabaring Sport City Palembang

Wongkito, sebutan masyarakat Palembang, patut bangga memiliki kawasan fasilitas olahraga yang terpadu dan terlengkap di Indonesia. Jakabaring Sport City, demikian nama kawasan seluas 350 hektar yang terletak di Seberang Ulu, kota Palembang, Sumatera Selatan ini. Perlu diketahui bahwa kota Palembang dibagi dua wilayah yang dipisahkan Sungai Musi, yakni: Seberang Ilir dan Seberang Ulu.

Pembangunan fasilitas olahraga dengan standar internasional tentunya, ini tidak terlepas dari Indonesia yang ditunjuk sebagai tuan rumah Sea Games XXVI 11-22 September 2011 mendatang di Palembang dan Jakarta. Jika kita selalu menduga bahwa Jakarta selalu menjadi ‘urat nadi’ setiap even olahraga tingkat nasional dan internasional, tapi sekarang Palembang bisa menyamai seperti Jakarta. Bukan tidak mungkin ke depannya, Palembang selalu menjadi ‘barometer’ even-even olahraga tingkat internasional.

Continue reading “Melihat Jakabaring Sport City Palembang”

Please follow and like us:

Dari Taman Hutan Kota ke Krakatoa Nirwana Resort

Sebuah Train-Kite sengaja diterbangkan oleh panitia Festival Layang-Layang sambil dibantu dengan angin yang bertiup cukup kencang sore itu. Talinya diikat ke bagian belakang mobil. Beberapa orang mencoba menarik-narik tali itu. Ternyata cukup kencang bak menarik tarik-tambang ketika lomba 17 Agustus.

Train-Kite itu ada 32 buah. Masing-masing lebarnya antara 60-70 cm. Wajar saja untuk menarik Train-Kite sepanjang itu, tak ada yang sanggup menarik sendiri. Paling tidak perlu dibantu 3-5 orang.

Para pengunjung yang datang sambil melihat Train-Kite merasa kagum. Bahkan, sejumlah anak-anak mencoba menarik Train-Kite itu. Tampaknya meraka tak sanggup menariknya karena Train-Kite yang telah di atas udara itu cukup kencang terikat di bagian belakang mobil.

Continue reading “Dari Taman Hutan Kota ke Krakatoa Nirwana Resort”

Please follow and like us:

Festival Layang-Layang Lampung Tahun 2008

Lampung Kite Festival (LKF) 2008 yang diadakan sejak hari Jumat-Sabtu (22-23/08) di Taman Hutan Kota, Way Halim, Bandarlampung dan Minggu (24/08) di Kalinda Resort, cukup mengesankan buat saya. Apalagi ini even pertama kali saya ikuti sebagai panitia kegiatan berlangsung. Saya jadi tahu sekaligus merasakan bagaimana menerbangkan bermacam-macam layangan berukuran kecil sampai layangan yang berukuran besar dan lebih tinggi dari tinggi badan saya.

Hari pertama (Jumat, 22 Agustus 2008), LKF 2008 dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung, M. Natsir Ari. LKF 2008 ini termasuk dalam rangkaian kegiatan Festival Krakatau 2008 yang berlangsung dari tanggal 23-31 Agustus 2008. Natsir meresmikan pembukaan Festival Layang-Layang 2008 itu dengan menerbangkan pesawat aeromodeling milik teman-teman Teknik Elektro Unila. Tapi, sayangnya pesawat itu tak mau terbang.

Sejumlah layang-layang dari yang kecil hingga yang besar di letakkan di atas tanah lapangan. Beberapa panitia menerbangkan layang-layang. Saya tertarik mencoba menerbangkan layang-layang yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Mungkin lebarnya selebar kedua tangan saya.

Mengenakan kaos putih berlogo Visit Lampung 2009 dan di belakangnya bertuliskan “Lampung Kite Festival 2008” dan penutup topi yang biasa saya kenakan saat berpergian keluar, saya berlari-lari kecil menerbangkan layang-layang di lapangan. Meskipun suasana terik matahari semakin panas menyengat kulit, tapi tidak menyurutkan saya bermain layangan.

Continue reading “Festival Layang-Layang Lampung Tahun 2008”

Please follow and like us:

Budidaya Ikan Kerapu di Teluk Lampung

Ternyata tak hanya di Pulau Ayin saja berdiri bangunan/rumah yang terlihat layak dengan lengkap fasilitas di dalamnya bak cottage yang bisa buat disinggahi. Apalagi untuk menginap tentu saja menyenangkan karena pemandangan di sekitar pantai dan juga laut yang biru begitu ‘meneduhkan’ pandangan. Terasa sejuk dan damai.

Menyusuri ke beberapa pulau kecil lainnya, Saya melihat sebuah bangunan rumah kayu (bukan restoran,red) bercat coklat agak hitam. Saya merekam kesan bahwa bangunan rumah itu pastilah milik orang untuk kepentingan pribadi. Sama seperti di Pulau Ayin, dimiliki seorang Ayin saja. Bukan dikelola untuk wisata yang bisa mendatangkan wisatawan untuk berlibur di sana. Sayangnya tidak seperti yang diharapkan tadi. Ternyata pulau-pulau kecil dapat dengan mudah dimiliki orang, bukan negara yang memelihara pulau-pulau yang indah (bukan Indah ini, red). Hehe becanda kok Ndah 🙂

Continue reading “Budidaya Ikan Kerapu di Teluk Lampung”

Please follow and like us:

Pulau Ayin

“Itu Pulau Ayin,”kata salah satu rombongan kami sambil menunjuk ke pulau yang dimaksudnya.

Arthalita Suryani atau lebih akrab disebut Ayin, seperti belakangan ini diberitakan di berbagai media cetak dan elektronik karena ‘tersandung’ kasus suap bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Saya baru tahu pulau itu dari bapak-bapak yang ikut dalam rombongan naik kapal motor. Saya juga baru tahu bahwa Ayin adalah seorang pengusaha asal Lampung. Namun, sayangnya nasibnya kini sedang menunggu vonis Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Jakarta.

Saya ikut dalam rombongan bapak-bapak dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pesawaran, Lampung. Jika saya tak salah hitung, ada sekitar 15 orang termasuk saya yang ikut dalam rombongan itu. Kebetulan saya diajak dosen saya, Endang L.Widiastuti,Ph.D, Sabtu-Minggu lalu (12-13/7) melihat ke beberapa pulau yang masuk di dalam Kabupaten Pesawaran. Ia adalah dosen FMIPA Biologi Unila. Saya biasa menyapanya Ibu Endang. Meskipun badannya besar, tapi ia lincah. Bahkan Bu Endang bisa menyelam (diving,red).

Continue reading “Pulau Ayin”

Please follow and like us:

Taman Hutan Rakyat Wan Abdul Rachman

Taman Hutan Rakyat atau Tahura Wan Abdul Rachman adalah salah satu Tahura yang ada dan dilindungi di Indonesia. Lokasi Tahura Wan Abdul Rachman memiliki topografi bergelombang ringan sampai berat dan sebagian datar, di dalam kawasan terdapat 4 (empat) buah gunung yaitu : G. Rantai (1.671 m dpl), G. Pesawar (661 m dpl), G. Betung (1.240 m dpl) dan G. Tangkit Ulu Padang Ratu (1.600 m dpl).

Senin lalu (7/7), saya bolak-balik dari Taman Kupu-kupu Gita Persada ke Tahura mengendarai mobil Pak Anshori. Waktu itu hendak mengambil banner yang biasa digunakan untuk even pameran di kota Bandarlampung. Ya, lumayan jauh jika jarak dari Tahura ke kota. Untung saya tidak sendiri. Arka dan Nita, temannya dari FMIPA Biologi, yang mengambil banner ke toko percetakan.

Saya mencoba dua jalur yang berbeda dari Tahura ke Taman Kupu-kupu. Jalur pertama melalui dalam kota dan jalur kedua melalui jalan menuju arah Taman Wisata Kedaton. Tapi rasanya jalur pertama terasa lebih cepat meskipun masuk dalam kota terlebih dahulu dengan kemacetan kendaraan bermotor. Sedangkan jalur kedua, sepanjang jalan berliku-liku dan sempit. Ya maklumlah jalan di gunung memang begitu. Apalagi naik-turun. Wah capek deh.

Continue reading “Taman Hutan Rakyat Wan Abdul Rachman”

Please follow and like us:

Mengunjungi Taman Kupu-kupu Gita Persada

Berbagai jenis kupu-kupu ada di dalam sebuah penangkaran yang menempati lahan seluas 4,8 Ha di kaki Gunung Betung, Desa Tanjung Manis, Kemiling, Bandar Lampung. Ketika saya datang ke sana, Senin lalu (7/7) bersama teman saya, Arka dan Redha, di depan pintu masuk terbuka, tapi terlihat sepi dan tak ada orang di sana. Setelah masuk ke dalam, saya hanya melihat sebuah motor yang diracik seperti motor cross, bersandar di sebelah pohon.

Sebuah rumah berdinding kayu terlihat masih kokoh. Dari dalam rumah itu baru muncul seseorang. Kang Aseb, biasa dipanggil seperti itu. Ia orang Sunda. Arka mengenalnya sebagai penjaga di sana. Mereka berdua tampak bercakap bahasa Sunda. Tak sepotong kata pun saya mengerti bahasa asal Jawa Barat ini.

Kami bertiga berangkat dengan sepeda motor dari kampus. Saya sendirian, Arka dan Redha berboncengan berdua. Sepanjang jalan di kaki Gunung Betung menuju lokasi ini, udara terasa sejuk meskipun saat itu cuaca sedang cerah. Maklum, ketinggian di lokasi itu 460 meter di atas permukaan laut. Jalan beraspalnya agak sempit dan berliku-liku. Maklum saja jalan di kebanyakan di daerah gunung pasti berliku-liku.

Continue reading “Mengunjungi Taman Kupu-kupu Gita Persada”

Please follow and like us: