Beginilah Mbak Naurah Di-Kerik

mbak_naurah_dikerik
Penampakan punggung Mbak Naurah setelah di-kerik oleh umi nya.

Biasanya anak-anak lagi sakit panas/demam, masuk angin atau kelihatan lesu, Umi selalu siap dengan bawang putih yang dipotong jadi dua bagian dan minyak burung but-but (sekarang namanya minyak herbal sinergi). Seperti yang dialami Mbak Naurah yang kelihatan kurang enak badan, Umi “mengerik” punggung Mbak Naurah dengan bawang putih dan minyak herbal sinergi tadi.

Continue reading “Beginilah Mbak Naurah Di-Kerik”

Please follow and like us:

kegiatan pelatihan jurnalistik pemuda di tanjung enim

Kegiatan Pelatihan Jurnalistik  Pemuda di Tanjung Enim diikuti lebih dari 50 peserta.

The concept of citizen journalism (also known as “public”“participatory”“democratic”,[1] “guerrilla”[2] or “street” journalism[3]) is based upon public citizens “playing an active role in the process of collecting, reporting, analyzing, and disseminating news and information.”[4] Citizen journalism should not be confused with community journalism or civic journalism, both of which are practiced by professional journalists. Collaborative journalismis also a separate concept and is the practice of professional and non-professional journalists working together. Citizen journalism is a specific form of both citizen media and user generated content.

Please follow and like us:

Waspada Minimarket Jual Minuman Keras!

Baru saja saya membaca tulisan di sebuah milis, si penulisnya menceritakan kegusarannya atas minimarket yang semakin menjamur akhir-akhir ini. Bukan soal menjamurnya minimarket dari jalan-jalan protokol yang ramai lalu lintas kendaraan,  sampai masuk ke lingkungan pemukiman rumah penduduk. Si penulis menemukan minimarket yang mempunyai waralaba se-Indonesia itu menjual minuman keras! Seketika saya terkejut dan baru mengetahui setelah membaca tulisannya di milis itu. Padahal di dekat rumah saya, memang ada berdiri minimarket waralaba itu. Tapi saya tidak pernah berbelanja di sana dan lebih memilih belanja di warung tetangga atau minimarket non-waralaba. Saya pernah menulis soal minimarket di sini.

Sebagai seorang muslim, pasti kita sepakat yang namanya minuman keras (terutama mengandung alkohol) adalah haram dikonsumsi. Jangankan mengonsumsinya, menjualnya saja sudah haram! Maukah memperoleh rejeki dari hasil perniagaan (menjual minuman keras)? Tentu kita pasti tidak ingin daging dan tulang di dalam tubuh kita tumbuh dari hasil perolehan yang haram.

Continue reading “Waspada Minimarket Jual Minuman Keras!”

Please follow and like us:

Kopdar Wongkito di Lampung

wongkito kopdar di puskom unila

Baru satu bulan yang lalu tepatnya di acara Blogger Day tanggal 1 Mei 2008 di Ketty Resto Palembang Indah Mall, terakhir bertemu dengan mereka (Ibunk dan Ardy). Akhirnya kami (saya dan Idrus) yang kini sedang ‘berjuang untuk sesuap nasi di Lampung’, bisa bertemu kembali dengan mereka. Melepas rindukah? hehehe…berlebihan para ‘homok’ ini.

Kemarin Senin pagi (2/6), Ibunk dan Ardy (Pak Ketuo Wongkito) tiba di Bandarlampung. Mereka berangkat naik Kereta Api Limex Sriwijaya kelas eksekutif dari Kertapati Palembang pukul 9 malam. Kata mereka, baru tiba di stasiun Tanjung Karang, Bandarlampung sekitar jam setengah delapan. Wah, jadi pengen pulang ke Palembang nih 🙂

Continue reading “Kopdar Wongkito di Lampung”

Please follow and like us:

Antrian BBM di SPBU

antrian bbm

Meskipun harga Bahan Bakar Minyak (BBM) belum ada kepastian waktu kapan akan dinaikkan, namun di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kota Bandarlampung tampak dipenuhi kendaraan bermotor untuk mengisi bahan bakarnya. Seperti misalnya, Minggu tadi pagi (18/5), ketika saya berpapasan dengan sebuah SPBU di Jalan Zainal Abidin Pagar Alam, Bandarlampung, terlihat kendaraan roda empat sedang mengantri mengisi bahan bakar. Panjang antrian hingga ke jalan raya hingga mencapai kira-kira lebih dari 400 meter.

Belum lagi ada berapa ratus sepeda motor mengantri untuk mendapatkan jatah diisi bensin di SPBU itu. Bagaimana yang sudah mengantri lama, tapi di tengah-tengah pengisian sudah habis stok bahan bakar yang ditampung di SPBU itu? Entahlah. Mungkin para pengendara itu pasti kecewa dan marah. Sudah mengantri lama, tahu-tahu tidak dapat bensin. Menyedihkan.

Continue reading “Antrian BBM di SPBU”

Please follow and like us:

Detik-detik Bloggers Day Wongkito

crew wongkito

Sejak pukul 10 pagi, saya sudah duduk-duduk di kursi meja makan. Bukan menunggu sarapan, tapi menunggu ’duta’ dari Telkom. Kata Ibunk dan Jafis, ada orang Telkom yang hendak memasang akses Speedy di Ketty Resto, Palembang Indah Mall, hari Rabu (30/4) itu.

Menunggu sambil membaca-baca korannya tempat Mangoeni bekerja. 32 halaman koran itu saya bolak-balik. Hanya yang menarik saja saya baca. Sisanya, hanya sekali lewat saja saya membaca. Sambil lirik sana, lirik sini melihat suasana di sekitar sana. Masih terlalu sepi. Sebuah arena bermain, Timezone yang tidak jauh dari Ketty Resto tampak masih tutup.

Hampir satu jam menunggu. Saya sudah agak gelisah. Bosan. Ya, mungkin kalau ada yang mau polling sms minta pendapat, apakah Anda bosan menunggu? Pasti sebagian besar menjawabnya adalah iya.

Continue reading “Detik-detik Bloggers Day Wongkito”

Please follow and like us:

Spanduk Wongkito

pasang spanduk

Beberapa hari yang lalu, kaos Wongkito telah jadi. Kaosnya bagus. Bahannya cukup tebal meskipun sekarang bukan musim dingin di Palembang. Tapi, yang ada setiap siang sering kali saya kepanasan.

Setelah kaos, Jumat malam kemarin (25/4), Kota Palembang masih diliputi hujan gerimis. Tak menyurutkan semangat para laskar blogger Wongkito, di antaranya: Jafis, Ardy, Aulia, Rahmat dan Ferdi. Sebelumnya kami mampir di rumah Ranny. Seguhan secangkir teh panas menambah nikmat di saat udara di luar sejuk. Ada combro menemani teh panas. Yah, pembukaan sebelum tenaga kuli siap memasang spanduk di beberapa sudut kota.

Continue reading “Spanduk Wongkito”

Please follow and like us:

Kaos Wongkito

kaos

kawos wongkito sudah jadi.
silakan diambil ke….Nike ;p
jangan lupo, sebelum ambil, sediakan uang 40ribu.
45 ribu buat yang tangan panjang.
salon karet.
ukuran (ternyata) sedikit lebih besar, tapi masih ok koq.
bagi penggemar kawos junkies, harap maklum

Begitulah pesan yang ditulis Ferdi di milis Wongkito, Komunitas Blogger Palembang, Rabu kemarin (16/4). Senang mendengar kabar bahwa kaos Wongkito yang dinanti itu sudah jadi. Tak sabar saya ingin mencobanya satu per satu (lho…kok? :D). Kira-kira ukuran “L” yang saya pesan beberapa hari yang lalu itu, sebesar apa ya kalau saya pakai nanti? Mungkin nanti teman-teman Wongkito yang di Palembang akan mencoba-coba kaosnya lebih dulu.

Continue reading “Kaos Wongkito”

Please follow and like us:

Kapanlagi, Jurnalisme Infotainment dan Wongkito

kapanlagiSebuah foto perempuan cantik disertai artikel yang cukup panjang termuat di halaman website. Perempuan itu mengenakan pakaian berwarna kuning keemasan dan dua anting gelang yang cukup besar melekat di kedua telinganya. Rambutnya yang panjang dan ikal, perempuan itu menyebarkan senyum.

Perempuan itu adalah Luna Maya. Ia menjadi icon website atau portal dari Kapanlagi.com. Sebuah Website atau postal hiburan yang cukup berani mengontrak Luna Maya sebagai foto model icon di website/portal itu. Tentu saja sebagian orang Indonesia pasti sudah akrab mendengar nama Luna Maya sebagai artis yang cukup populer di tanah air.

Continue reading “Kapanlagi, Jurnalisme Infotainment dan Wongkito”

Please follow and like us:

Pizza Hut Lampung Mengecewakan

Saya dan mungkin juga Arka kecewa dengan pelayanan Pizza Hut Bandarlampung. Kok bisa? Begini ceritanya, Sabtu sore kemarin (5/1), Kami berempat, saya, Arka, Winwin, dan Anna makan di satu-satunya Pizza Hut di Kota Bandarlampung yang berada di Plaza Lotus, Jalan Raden Intan.

Sebelum masuk, seperti biasa, di dekat pintu masuk dalam restoran waralaba asal Amerika yang terkenal itu, saya melihat ada beberapa para pelayan siap menyambut pengunjung. Biasanya jika ada pengunjung datang kemudian mengantarkan ke meja sesuai jumlah orangnya.

Dengan sangat ramahnya, seorang pelayan wanita yang mengenakan jilbab hitam mempersilahkan kami berempat menuju meja makan untuk empat orang. Setelah kami mendapati kursi di dekat kaca, si pelayan tadi meninggalkan kami. Datang berikutnya seorang pelayan membawakan empat buah daftar menu.

Menu-menunya menarik untuk dicicipi semua. Desain di daftar menu itu menarik. Keren. Ya, wajar saja. Ini kan restoran waralaba macam Kentucky Fried Chicken, McDonald, dan sebagainya (wah..semakin banyak menuliskan merk harusnya saya dibayar oleh mereka dong. Hehe..).
Beberapa menit saya bolak-balik melihat daftar menu tadi. Saya lihat Winwin juga sibuk lihat daftar menu. “Pilih yang mana,Win?”tanya saya. Ia terdiam. Terlihat seperti bingung. Saya melihat Arka diam juga. Ternyata ia tidak perlu lihat daftar menu lagi, karena sudah tahu menu yang ingin dipesannya.

Saya dan Winwin pesan Pizza American Favorite berukuran sedang. Ehm, harganya saya lupa. Arka dan Anna pesan Pizza satu loyang yang berukuran kecil, sepiring salad, tiga gelas berisi coke dan segelas juice melon.

Seorang pelayan perempuan mencatat yang hendak kami pesan tadi. Sebuah badge name melekat pada kantong baju sebelah kanan dan terlihat nama “Merry” . Arka meminta mengulangi apa yang telah dipesan. Mungkin maksudnya agar tidak ada menu yang terlewati.

Saatnya menunggu hidangan. Hal yang membosankan adalah menunggu lama. Ini pasti dirasakan semua pengunjung yang akan menikmati hidangan pizza. Tidak seperti restoran waralaba yang menyajikan hidangan cepat saji. Kebanyakan restoran seperti itu dari Amerika.

Kira-kira 2-3 menit kemudian, coke dan juice melon tiba. Tapi, hidangan besar belum datang. Ya, harus sabar menunggu kira-kira 10 menit. Sesekali menikmati minuman Coke tadi.
Tiba-tiba seorang pelayan laki-laki datang menghampiri kami. “Mas, tadi pesan American Favorite kan? Kebetulan tadi dimasak gosong, jadi tunggu kira-kira 10 menit ya,”kata pelayan laki-laki itu. Hah!? Gosong? Saya terbengong mendengarnya. Melihat Arka, mukanya seperti terlihat kecewa. Ya, sudahlah. Akhirnya menunggu lagi dengan bosannya. Restoran Pizza Hut ini ternyata bisa gosong juga ya memasak pizza-nya, pikir saya.

Ternyata, nilai budaya kerja Pizza Hut yang sempat tadi saya baca di sini, tidak berhasil memuaskan konsumen, seperti kami berempat. Seharusnya, ada kompensasi dari kerugian waktu yang tersita menunggu (lagi), karena kelalaian dan kesalahan dari pihak Pizza Hut Bandarlampung sendiri dalam melayani kami.

Ingin sekali menyampaikan keluhan ini langsung via email ke perusahaannya. Tapi, setelah mencoba mencari-cari di Google, alamat website Pizza Hut Indonesia tidak saya temui. Oh, sayang sekali. Berarti keluhan saya tidak sampai kepada mereka (Pizza Hut, red). Mungkin para pembaca blogger setia saja yang membaca keluhan saya ini.

Please follow and like us: